Mahasiswa Offering AA Angkatan 2010 Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

MAKNA KEMERDEKAAN MASA DEPAN DIBALIK CERPEN ‘’MERDEKA’’ KARYA PUTU WIJAYA



MAKNA KEMERDEKAAN MASA DEPAN DIBALIK CERPEN ‘’MERDEKA’’
 KARYA PUTU WIJAYA
Oleh: Marinda Agustina
 
Putu Wijaya banyak melahirkan karya-karya yang patut diperhitungkan dalam khasanah sastra Indonesia. Banyak karyanya yang telah dipublikasikan baik yang berbentuk cerpen maupun drama. Karya-karyanya kebanyakan dituangkan secara simbolik melalui pemaknaan yang sangat kaya yang pada akhirnya akan melahirkan jutaan persepsi pada masing-masing pembaca. Putu Wijaya disebut sebagai sastrawan yang serba bisa karena telah banyak menghasilkan karya yang berjumlah kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esai, artikel lepas, dan kritik drama. Bahkan, beliau juga menulis skenario film dan sinetron. Sebagai dramawan, Putu Wijaya  memimpin Teater Mandiri sejak tahun 1971. Putu Wijaya juga telah mementaskan puluhan lakon di dalam maupun di luar negeri. Puluhan penghargaan ia raih atas karya sastra dan skenario sinetron. Cerpen-cerpennya banyak bertebaran di Harian Kompas dan Sinar Harapan. I Gusti Ngurah Putu Wijaya yang dikenal dengan sebutan Putu Wijaya, dilahirkan di Puri Anom, Tabanan, Bali pada tanggal 11 April 1944, bukan dari keluarga seniman. Putu mengaku belajar banyak dari Tempo dan Goenawan Mohamad.   Tulisan Putu Wijaya dalam karya-karyanya banyak memberikan gambaran tentang kehidupan dan kemanusiaan yang disampaikan secara implisit, sehingga para pembaca harus memaknai sendiri tentang karya tersebut. Hal ini tentunya akan menciptakan persepsi-persepsi yang berbeda pada masing-masing pembaca. Tergantung pada seberapa besar pemahaman seorang pembaca untuk menguak setiap rahasia yang tersimpan dibalik sebuah karya sastra.
Putu Wijaya disebut sebagai sastrawan yang serba bisa karena telah banyak menghasilkan karya yang berjumlah kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esai, artikel lepas, dan kritik drama. Bahkan, beliau juga menulis skenario film dan sinetron. Sebagai dramawan, Putu Wijaya  memimpin Teater Mandiri sejak tahun 1971. Putu Wijaya juga telah mementaskan puluhan lakon di dalam maupun di luar negeri. Puluhan penghargaan ia raih atas karya sastra dan skenario sinetron. Cerpen-cerpennya banyak bertebaran di Harian Kompas dan Sinar Harapan. I Gusti Ngurah Putu Wijaya yang dikenal dengan sebutan Putu Wijaya, dilahirkan di Puri Anom, Tabanan, Bali pada tanggal 11 April 1944, bukan dari keluarga seniman. Putu mengaku belajar banyak dari Tempo dan Goenawan Mohamad. Dalam sebuah tulisannya Putu Wijaya mengatakan bahwa, ''Menulis adalah menggorok leher tanpa menyakiti,'' katanya, ''bahkan kalau bisa tanpa diketahui.'' Kesenian diibaratkannya seperti baskom, penampung darah siapa saja atau apa pun yang digorok: situasi, problematik, lingkungan, misteri, dan berbagai makna yang berserak. Dalam pernikahannya yang kedua, Putu Wijaya dikaruniai seorang anak yang kemudian diberi nama Taksu. Nama Taksu ini beberapa kali muncul dalam cerpen-cerpennya. Bahkan, dalam cerpen yang akan saya ulas ini, lagi-lagi nama ini juga muncul sebagai tokoh pemicu pembangunan konflik dalam cerita ini. Bagi Putu Wijaya, rumah tangga baginya sebuah "perusahaan". Apa pun diputuskan berdasarkan pertimbangan istri dan anak, termasuk soal pekerjaan.
Baiklah, dalam tulisan ini saya akan mengulas tentang salah satu cerpen Putu Wijaya yang berjudul ‘’Merdeka’’. Cerpen ini memang tidak setenar cerpen-cerpen Putu Wijaya yang berjudul Peradilan Rakyat, Kembang Api, ataupun Kartini. Namun dalam cerpen ini banyak memberikan perenungan tentang makna sebuah kemerdekaan yang disajikan secara berbeda oleh pengarang yang sangat berkompeten seperti  Putu Wijaya. Dalam cerpen ini, Putu Wijaya juga mengutip tentang makna kemerdekaan yang digagas oleh Nelson Mandela untuk memperkuat pendapatnya dalam cerepn tersebut. “Kalau kubiarkan dan pelihara terus kekesalan dan kebencian kepada penindas, mereka yang pernah menderaku selama 27 tahun itu, akan terus menyandera diri dan jiwaku. Aku ingin menjadi orang yang merdeka. Karenanya aku buang semua kebencian itu, sehingga aku benar-benar merasa sebagai orang yang bebas dan merdeka.” – Nelson Mandela. Kata-kata mutiara atau kiasan memang banyak sekali diciptakan oleh orang. Namun, jika kita mencermati kata-kata dari Nelson Mandela tersebut kita akan merasakan makna yang kuat dan tajam dibalik kata-kata tersebut. Dalam deretan kata tersebut menyimpan sebuah pemaknaan yang begitu mendalam tentang makna kemerdekaan yang belum banyak dimengerti oleh sebagian orang. Banyak sekali perenungan yang dapat kita lakukan dari cerpen berjudul Merdeka tersebut oleh semua orang yang mungkin hatinya masih terbelenggu dan tertutup oleh rasa benci dan dendam yang begitu mendalam kepada orang-orang yang dirasa menjajahnya.
Cerpen ini memiliki dunia tersendiri yang bertumpu pada isi pesan dibalik alur cerita yang dimainkan oleh Putu Wijaya. Cerpen ini merupakan gambaran tentang kehidupan sosial yang dilalui oleh tokoh-tokoh tertentu pada alur yang diangkat oleh pengarang sesuai misinya. Pada bagian awal cerpen ini dibuka dengan suasana bangsa ini diawal-awal pertempuran untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Nilai-nilai perjuangan ini digali dari monolog antartokoh seperti yang tergambar pada kalimat berikut ini. Menjelang pertempuran terakhir yang menentukan, kami semua, para prajurit, bersiap. Mengumpulkan tenaga, mengerahkan jiwa-raga untuk mengakhiri habis-habisan benturan yang sudah berlangsung ratusan tahun ini.
Jelas sekali bahwa kalimat-kalimat seperti itu menunjuk pada sebuah peristiwa pertempuran yang digambarkan melalui narasi tokoh-tokoh pejuangnya yang berusaha untuk merampas kemerdekaan. Aku duduk di batang pohon kelapa yang mati disambar geledek. Di pangkuanku senjata, sisa-sisa peluru, rasa sakit, dan lelah yang sudah tidak aku pedulikan lagi. Barulah pada kalimat ini, si tokoh aku yang dimunculkan oleh pengarang mulai menggambarkan keadaan si tokoh utama dalam cerpen ini. Bila subuh pecah dan matahari menyerakkan bara di langit timur, kami harus menyerbu. Hidup atau mati itu soal nanti. Roda sejarah ini tidak boleh berhenti. Disini, pengarang menyisipkan nilai-nilai kesejarahan tentang kemerdekaan yang seharusnya diperjuangkan secara bersama-sama. Roda sejarah yang tak boleh berhenti meskipun harus berakhir pada kematian. Kawan-kawanku ada yang berbaring tidur untuk menikmati mimpinya yang mungkin tidak akan pernah lagi kembali. Ada yang menulis surat buat keluarganya meskipun dia tahu semua itu tidak akan pernah sampai. Di depan nyala api, komandan termenung seperti membaca apa yang akan terjadi. Selanjutnya, pada kalimat ini mulai muncul pemikiran dari Putu Wijaya tentang makna sebuah kemerdekaan yang direalisasikan dengan cara-cara yang berbeda pada masing-masing orang. Ada orang yang dengan asyiknya menjalani kehidupan yang sebenarnya belum dapat memerdekakan dirinya sendiri. Ada pula yang masih bertanya-tanya tentang apa itu kemerdekaan, serta ada pula yang hanya hidup dengan sibuk meratapi nasib yang telah digariskan Tuhan padanya. Pengarang menyajikan sebuah pemikiran yang mengisyaratkan pemaknaan yang lebih ditekankan pada sebuah perjuangan yang pasti dilalui oleh setiap orang untuk merdeka. Hingga tentunya banyak orang yang memiliki sikap yang berbeda-beda untuk menghadapi tantangan demi tantangan dari upaya memperoleh kemerdekaannya sendiri. Waktu itulah sebuah tangan menepuk pundakku. Setan datang dengan wajah yang gemilang. Lebih cantik dari semua bintang layar kaca atau bidadari di kelir wayang yang pernah aku tonton.
Waktu itulah sebuah tangan menepuk pundakku. Setan datang dengan wajah yang gemilang. Lebih cantik dari semua bintang layar kaca atau bidadari di kelir wayang yang pernah aku tonton. Senyumnya menghancurkan seluruh duka yang bersembunyi di balik tulang dan urat-uratku yang sudah patah dan rengat. Dan baunya bukan main harum. Semerbak sehingga medan pertempuran yang anyir oleh bau darah itu berubah jadi kamar hotel berbintang sembilan yang sensual. Disinilah tergambar sebuah cerita perenungan tentang adanya godaan dan rintangan yang akan selalu kita hadapi saat sedang memperjuangkan kemerdekaan. Pengarang menyimbolkan tantangan itu dengan kata  sebuah tangan setan yang datang dengan wajah yang gemilang. Godaan yang ditawarkan oleh pengarang berupa sebuah rayuan yang sangat indah sehingga mampu menggoda siapapun agar terjerumus dalam sebuah keburukan. Hal ini bisa pula dikaitkan dengan sebuah godaan para pemikul kekuasaan yang banyak tergoda untuk melakukan permainan politik yang tentunya ini dapat diartikan sebagai tindakan membelenggu kemerdekaan rakyatnya. Pada bagian selanjutnya, pengarang mulai meghadirkan sebuah dialog antar tokohnya yang disini juga dapat kita tmukan simbol-simbol yang menarik untuk ditelusuri lebih jauh.
"Bang, aku datang membawa pesan untukmu. Abang punya waktu sebentar aku ganggu?"
"Pesan apa?"
"Jangan memandang ke depan hanya sebatas pandang."
"Kenapa? Apa yang bisa aku lakukan, aku hanya manusia biasa yang sudah bertahun-tahun tidak sempat tidur."
"Kalau Abang hanya melihat yang ada di depan Abang, Abang hanya akan melihat sebuah tiang bendera. Paling banter Abang hanya akan kepingin menaiki tiang itu untuk mengibarkan bendera”. Dengan dialog yang cukup sederhana diatas pengarang mencoba memberikan perenungan kepada kita bahwa untuk mendapatkan kemerdekaan yang seutuhnya tidak hanya akan kita perjuangakan sebatas apa yang ada di depan mata kita. Artinya, jika kita hanya berambisi sebatas untuk merdeka saja, paling banter kita hanya akan memperoleh sebuah nama “Merdeka” tanpa kita memikirkan bagaimana kehidupan nantinya sesudah merdeka. Apakah kemerdekaan yang telah berhasil kita raih di depan tubuh kita akan juga dapat kita rasakan dibelakang nantinya?. Inilah yang ingin pengarang kupas lebih dalam lewat cerpen ini.
"Paling banter Abang hanya akan menikmati bendera itu mengibas-ngibas ditiup oleh angin yang bertiup membawa asap knalpot, sampah pabrik, dan debu-debu kotor yang penuh penyakit. Dalam waktu sekejap Abang akan sakit." Pesan yang akan disampaikan pengarang kian terasa pula pada kalimat-kalimat tersebut. Jika kita tak mampuhidup untuk  memperjuangkan kemerdekaan yang semerdeka-merdekanya, maka kita hanya akan merasakan sakitnya di belakang hari. Pemikiran semacam itulah banyak ditekankan dalam cerpen ini. "Abang sudah tertipu! Lihatlah ke depan. Enam puluh lima tahun lagi, kalau Abang merdeka, Abang akan menyesali apa yang sudah Abang lakukan."
"Kenapa?"
"Enam puluh tahun lagi dari sekarang, pohon-pohon itu akan ditebangi jadi jalan dan mall. Pencakar-pencakar langit akan menancap di setiap jengkal tanah di seluruh tubuh kota”. 
Dengan dialog yang gamblang dan lugas, pengarang mulai menunjukkan kritiknya terhadap keadaan sosial di Indonesia yang memang pada saat ini di kota-kota besar sudah banyak sekali dibangun gedung-gedung pencakar langit milik pemerintah. Ternyata konsep kemerdekaan yang dimaksud pengarang tidak hanya terbatas pada apa yang harus kita perjuangkan, namun terlebih pada bagaimana kita bisa hidup setelah kemerdekaan itu berhasil kita perjuangkan. Akankah kehidupan akan lebih baik setelah merdeka atau justru semakin bertambah buruk.
Jalan layang melilit kota, tidak ada lagi yang akan sempat melihat pagi dan senja merah, karena langit sudah dihancurkan oleh dosa-dosa pembangunan.
Di jalanan tidak ada lagi ruang bagi pejalan kaki dan sepeda, semua direbut oleh kendaraan mewah punya para konglomerat.
Kehidupan ini bukan milik rakyat, tapi para pemimpin, ketua-ketua partai, dan para cerdik pandai yang nenjadi selebriti karena teori-teori kemanusiaannya yang luar biasa cerdas, tetapi tak pernah berpihak kepada kemanusiaan. Monolog berikutnya semakin memperkuat pemikiran pengarang untuk mempengaruhi pembaca tentang kemerdekaan yang sebenarnya masih belum kita dapatkan sejak dulu. Kemerdekaan sudah dirampas oleh para konglomerat yang menguasai lebih dari sebagian wilayah negeri ini. Kemerdekaan yang dulunya mati-matian diperjuangkan oleh para pahlawan tternyata hanya berakhir dengan penindasan juga, meskipun banyak yang masih tidak menyadari hal tersebut. Melalui cerpen ini kita dapat merasakan semangat kemerdekaan yang semakin menurun karena telah termakan oleh teori-teori kemanusiaan yang tak berpihak kepada kemanusiaan seperti yang dikatakan oleh pengarang. Kebobrokan negeri ini digambarkan dengan begitu lugas oleh pengarang tentang kehidupan 65 tahun sesudah memperjuangkan kemerdekaan. Ini merupakan kritik sosial yang diungkapkan secara terbuka agar kita memerangi segala macam bentuk perampasan kemerdekaan yang banyak terjadi saat ini. Cerpen ini menyajikan pemikiran tentang ekonomi dan politik bangsa yang cukup cerdas, dimana kemerdekaan yang sesungguhnya hanyalah milik segelintir orang yang memiliki banyak uang yang mampu membeli kebebasan itu kapan saja. Demam berdarah, flu babi, narkoba, kemiskinan, korupsi, gontok-gontokan agama, disintegrasi. Rakyat kelaparan sementara para pejabat sibuk bertengkar saling menyalahkan dan menghasut dialah yang paling tepat memimpin. Keos!
Lalu aku dengar setan tertawa.
Betul tidak, betul tidak apa yang aku aku katakan, kata setan. Tidak ada gunanya kemerdekaan. Kemerdekaan hanya buat orang kaya dan yang berkuasa. Kalian, 220 juta kawula, akan tetap menjadi budak yang tidak punya masa depan.
Bukan kalian yang akan menulis sejarah tapi para konglomerat, petualang-petualang politik dan para elite yang melihat kehidupan dari balik teori-teori akademisnya yang abstrak.
Dari kalimat diatas seolah-olah pengarang telah mampu membayangkan kebobrokan negeri ini di masa 65 tahun ke depan saat Indonesia dinyatakan memperoleh kemerdekaan tentunya. Jauh dibalik kemerdekaan itu masih banyak rakyat Indonesia yang masih menjadi budak orang-orang yangmempunyai kekuasaan. Kehidupan seolah-olah hanya milik orang-orang kaya dengan segala kemewahan yang dimilikinya. Lalu apa bedanya kehidupan sebelum dan sesudah merdeka jika pada kenyataannya kemerdekaan itu hanya dapat dirasakan oleh segelintir orang?.
Setan tertawa ngakak.
Aku jadi muak! Benci! Marah! Sumpek! Aku sumpahi, ludahi, hajar habis semua kebiadaban itu. Aku malu, aku luka, aku sakit!
Tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundakku. Ketika kubuka mata, anakku, Taksu, berdiri di depanku dan berbisik. Pada monolog tersebut barulah terjadi perpindahan alur secara mendadak yaitu gaya penceritaan pada saat sebelum kemerdekaan dan setelah 65 tahun yang akan datang. Entah apa maksud pengarang tiba-tiba membelokkan alurnya menuju kehidupan 65 tahun yang akan datang, yaitu kehidupan yang saat ini sedang kita jalani. Pada penceritaan berikutnya Putu Wijaya menceritakan sebuah kehidupan berumah tangga yang digambarkan sering terjadi cek cok antara istri dan anaknya tentang merealisasikan kemerdekaan seperti yang dikatakan oleh Nelson Mandela. Si tokoh aku menegaskan kepada istrinya untuk hidup merdeka agar hatinya terbebas dari rasa benci dan iri hati. 
“Aku ingin menjadi orang yang merdeka. Karenanya aku buang semua kebencian itu, sehingga aku benar-benar merasa sebagai orang yang bebas dan merdeka." Petikan kalimat tersebut menggambarkan tentang betapa mudahnya mengucapkan sebuah pengakuan bahwa kita sudah merdeka. Namun, ternyata kemerdekaan yang sesungguhnya sangat sulit sekali diwujudkan. Apalagi kemerdekaan yang berkaitan dengan keikhlasan hati. Selanjutnya digambarkan saat Dewi, istri tokoh aku yang mengikhlaskan hutangnya kepada para tetangganya untuk dianggap lunas saja karena kesal dicurigai mau nagih hutang-nagih hutang melulu dan saat eluar mau bersilaturahmi tetangganya langsung mencelup masuk, seperti ada hantu, takut akan  ditagih. Istri tokoh aku yang ditegaskan oleh suaminya untuk dapat ikhlas seperti kata Nelson Mandela akhirnya mengikhlaskan hutang-hutang tetangganya supaya bisa bebas dari tekanan batin dan merdeka lagi. Pada dialog selanjutnya pengarang menceritakan bahwa si tokoh aku yang mengajarkan tentang kemerdekaan hati agar terbebas dari rasa benci dan menggaungkan tentang keikhlasan batin dan menularkan konsep kemerdekaan yang membebaskan perasaan itu kepada semua orang pada kenyataannya masih belum mampu memerdekakan hatinya seperti perkataan Nelson Mandela yang ia jadikan patokan merdeka.
"Ya Tuhan, alangkah beratnya memperjuangkan kemerdekaa. Tapi seberat-beratnya berjuang merebut kemerdekaan, ya Tuhan, alangkah beratnya hidup sesudah merdeka!". Dari sinilah pengarang jelas memberikan kritik kepada semua orang bahwa pada dasarkan membuat gagasan atau ide tentang suatu hal sangatlah mudah. Akan tetapi, untuk merealisasikannya yang sangat sulit diwujudkan.
Cerpen ini secara keseluruhan diperkaya dengan pemaknaan yang begitu mendalam dan mengoyak keingintahuan pembaca untuk menafsirkan sendiri tentang makna lugas dari cerpen ini. Cerpen ini menyajikan latar dan kisah yang sederhana yang umum terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam cerpen ini tidak disajikan pembeda mana tokoh antagonis dan protagonisnya. Namun, alur cerita pada cerpen ini lebih menekankan pada permainan emosi yang mengaduk-aduk pemahaman maupun penafsiran pembaca. Dari judul cerpennya saja, kita dapat menebak bahwa cerpen ini akan berbicara tentang makna sebuah kemerdekaan yang sesungguhnya akan semakin sulit kita rasakan setelah kemerdekaan itu kita dapatnya. Seperti kata Putu Wijaya dalam cerpen ini bahwa alangkah beratnya memperjuangkan kemerdekaan. Tapi seberat-beratnya berjuang merebut kemerdekaan,  alangkah beratnya hidup sesudah merdeka. Dari kutipan kalimat ini kita mengetahui bahwa Putu Wijaya ingin menyampaikan kepada para pembaca tentang betapa sulitnya orang-orang menjalani hidupnya, justru setelah kemerdekaan itu berhasil didapatkan. Seperti kebanyakan yang terjadi dalam realitas hidup sekarang, bahwa orang-orang masih banyak yang menangung beban hidup terlampau berat dan masih merasa terjajah disaat ia merasa sudah merdeka. Lantas, seperti apakah makna kebebasan yang ditawarkan oleh Putu Wijaya kepada pembaca?. Kemerdekaan secara fisik memang mudah didapatkan, namun kemerdekaan hati dan jiwa yang masih berat untuk dilaksanakan. Dalam cerpen ini, Putu Wijaya menegaskan bahwa kemerdekaan tidak hanya terbatas pada apa yang kita lihat di depan mata kita, akan tetapi terlebih pada apa yang ada di dalam diri kita. Untuk apa kita merdeka kalau nyatanya hati kita masih diliputi kebencian dan kedengkian. Dalam cerpen ini, Putu Wijaya memberikan makna yang berbeda tentang kemerdekaan yang pada nantinya dapat dijadikan renungan oleh para pembaca. Cerpen ini secara menarik telah membuka mata kita lebar-lebar untuk memaknai arti dari sebuah kemerdekaan yang sesungguhnya. Namun, tidak semua orang mampu merenungi atau bahkan melakukan seperti apa yang dikatakan oleh Nelson Mandela dalam cerpen Putu Wijaya tersebut. Tidak semua orang mampu memerdekakan hatinya masing-masing semudah mereka memerdekakan diri mereka dari segala macam penindasan. Kedengkian dan rasa dendam masih saja terus ada dalam hati meskipun kata merdeka sudah terucap dalam bibir. Tema ini menjadi inti pemikiran dari Putu Wijaya saat menyampaikan makna cerita ini kepada para pembaca. Kebencian, kedengkian, rasa dendam dan iri hati akan terus bergelayut dalam hati orang-orang yang tidak mengetahui makna kemerdekaan yang sebenarnya. Dengan latar yang variatif, yaitu dua latar yang sangat berbeda jauh pada pelukisan awal cerita dan akhir cerita mampu menggambarkan suasana cerpen yang sangat sesuai dengan latar sejarah kemerdekaan di negeri ini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar