Mahasiswa Offering AA Angkatan 2010 Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Nuansa Sosial dan Religiusitas dalam Kumpulan Puisi Lautan Jilbab karya Emha Ainun Nadjib



Nuansa Sosial dan Religiusitas dalam Kumpulan Puisi Lautan Jilbab
karya Emha Ainun Nadjib

Oleh: Fryskatana Wira


Pada sejumlah kumpulan puisi karya Emha Ainun Nadjib memang tak lepas dari nuansa islami di setiap larik maupun baitnya, selain itu kumpulan puisinya juga bernuansa sosial yang dimunculkan secara tersirat maupun tersurat. Pada pandangan-pandangan Emha banyak memberikan pendidikan kepada masyarakat untuk menjalankan agama bukan hanya sebagai ritual, tetapi harus termanifestasi dalam sikap sosial. Pada kritik ini pendekatan yang digunakan ialah pendekatan ekspresif, dimana pendekatan yang menfokuskan perhatiannya pada sastrawan sebagai pencipta atau pengarang karya sastra, sehingga pada kritik ini akan mengulas tentang sosok Emha Aiun Nadjib dengan karya-karyanya yang sangat kental dengan nuansa islami serta sosial. Pada kritik ini juga akan mengulas bagaimana proses kreatif penyair terhadap penciptaan sebuah puisi-puisi dalam kumpulan puisi Lautan Jilbab.
            Karya sastra tidak akan lahir pada keadaan kosong. Karya sastra lahir karena adanya sang pengarang atau penyair. Terciptanya sebuah karya sastra dapat dilihat dari seluk beluk pengarang atau pun biografi pengarang atau kepribadian pengarang tersebut. Biografi di sini akan sangat membantu sebab, dengan adanya biografi kita akan dapat mempelajarari kehidupan seseorang. Di situlah kita akan mempelajari sikap atau perilaku seorang pengarang. Biografi dapat dianggap sebagai pembelajaran yang sistematis tentang proses keatif penciptaan karya sastra yang sebenarnya.
Emha Ainun Nadjib yang lebih akrab dengan panggilan Cak Nun merupakan budayawan dan intelektual muslim asal Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953. Cak Nun yang ketika masih muda dipanggila Ainun dibesarkan orang tuanya yang sibuk oleh urusan madrasah, langgar, dan berbagai kegiatan sosial dengan penduduk di dusunnya. Dalam kesehariannya, Emha terjun  langsung di masyarakat dan melalukan aktivitas-aktivitas yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik guna menumbuhkan pontensialitas rakyat.
Pada tahun 70’an Ainun bersama PSK (Persada Studi Klub. Persatuan Sastrawan Muda) yang bermaskas di Yogyakarta, dengan bimbingan al- Mukarrom Ustadz-sastra Umbu Landu Paranggi, bersama rekan-rekannya mengisi kehidupan dunia sastra. Salah satu kumpulan puisinya yang berjudul Lautan Jilbab merupakan sebuah puisi yang mendadak ditulisnya ketika harus merespom dan tampil dalam acara Pentas Seni Ramadhan, Jamaah Shalahuddin UGM tahun 1986- banyak diminta kaum muda muslimin untuk dibacakannya di mana saja. Lima tahun hidup menggelandang di Malioboro, Yogyakarta antara 1970-1975 ketika belajar sastra kepada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat mempengaruhi perjalanan Emha. Disamping itu, secara rutin bersama komunitas Masyarakat Padang Bulan, aktif mengadakan pertemuan sosial. Berbekal kemampuannya  berbahasa Inggris dan Arab beliau banyak membaca berbagai ilmu yang terdapat dalam kitab-kitab kuning. Emha aktif menyelenggarakan poetry singing di Yogyakarta pada tahun 1970’an bersama penyanyi muda. Oleh karena itu di sebut-sebut melatarbelakangi penciptaan puisi-puisi Ebiet G. Ade, sebab waktu itu Ebiet juga bersama Emha, dan Ebiet banyak belajar dari Emha. Emha Aiunun Nadjib sering berkeliling berbagai daerah di tanah air, bertemu dengan jamaah-jamaan dan berbagai kelompok masyarakat untuk bersilaturrahmi serta bekerja sosial.
Pada tahun 1993, Emha Ainun Nadjib mengibarkan group musik Kiai Kanjengyang kemudian bersama-sama berkeliling ke penjuru tanah air. Bersama group musiknya, beliau memiliki jadwal rutin bulanan di seluruh Nusantara. Di Jombang, Jawa Timur setiap tanggal 15 Qomariyah dalam Pengajian Padhang Mbulan. Di Yogyakarta Mocopat Syafaat setiap tanggal 17 M, di Semarang setiap tanggal 25 dalam Gambang Syafaat, Bandung Tali Kasih, Jakarta “Kenduri Cinta”, dan lain-lain.
Pengalaman-pengalaman tersebut dapat memberikan sumbangsih kreatif kepada Emha Ainun Nadjib dalam menulis karya sastranya sampai saat ini. Dari pengalaman tersebut, Emha Ainun Nadjib dalam proses kreatifnya menjalani berbagai pendidikan kesenian serta keagamaan yang cukup lama. Sehingga disitulah bekal ide-ide kreatifnya mengalamai proses pematangan sampai saat ini. Tidak hanya karya sastra yang sifatnya umum, namun banyak karya sastra yang bernuansa keIslaman. Pada tahun 1991 beliau menerbitkan kumpulan puisi yang bernuansa keIslaman dengan judul  Lautan Jilbab. Karya-karya Emha itu dilandasi kesadaran keagamaannya. beliau  merefleksikan  kesadaran  keagamaannya tersebut melalui puisi-puisi yang ditulisnya.
            Lautan Jilbab merupakan kumpulan puisi yang memiliki nilai-nilai agama. Di dalamnya mengandung nilai moral yang religius. Dalam kumpulan puisi Lautan Jilbab ini juga menggambarkan tentang fenomena-fenomena lingkungan pada saat itu dalam wujud kehidupan sosial yang mempunyai nilai religi. Kumpulan puisi Lautan Jilbab sangat menggambarkan sikap religius pengarang yang islami serta di dalamnya mengandung nilai ekstrinsik agama, psikologi, dan sosial kemasyarakatan. Disamping itu perilaku religiusitas Emha Ainun Nadjib sangat mempengaruhi hadirnya puisi tersebut.
             Di dalam kumpulan puisi Lautan Jilbab juga terdapat satu puisi yang berjudul Di Awang Uwung, puisi tersebut merupakan imajinasi Emha Ainun Nadjib dalam melukiskan situasi sosial pada saat itu.

Di Awang Uwung

Di awang uwung, seolah dua malaikat, duduk
Termangu di kursi hampa, sambil menyandarkan
Kepalanya di segumpal satelit
Yang satu menggamit pundak rekannya dan
berkata:
Lihatlah, beribu jilbab, lihatlah gejala alam.
Mungkin belum sepenuhnya merupakan gejala
kesadaran manusia, tapi siapa berani
meremehkannya?
Lihatlah jilbab-jilbab itu.
Ada yang nekad hendak
menguak kabut sejarah. Ada yang hanya sibuk
berdoa saja. Adayang tiap hari bertuding
bagaimana membelah tembok di hadapannya.
Ada yang berjam-jam merenungkan warna dan
model jilbab mana yang paling tampak ceria dan
trend. Ada ang berduyun-duyun menyerbu
wilayah-wilayah gelap yang disembunyikan
oleh generasi tua mereka. Ada yang sekedar
bergaya. Ada yang mengepalkan tangan dan
seperti hendak memberontak. Ada yang
menghabiskan waktu untuk bersenda gurau. Ada
yang tak menoleh ke kiri ke kanan karena terlalu
erat mendekap pinggang kekasih-nya di dalam
kendaraan. Lihatlah, apakah kau tau meraka ini
generasi jilbab dari jaman apa?

Rekannya menjawab: Mereka tinggal di
kepulauan mutiara. Di Negeri amat kaya raya.
yang aneh. Dialamnya terdapat orang terkaya di
dunia sekaligus orang termiskin di dunia. Di
negeri yang paling kaya kemungkinan untuk
berpura-pura. Negeri di mana penindas
dipuja-puja pahlawan diejek hingga putus
asa. Negeri di mana kebaikan dan kejahatan bisa
di rakit menjadi suatu bentuk keselarasan. Di
mana orang yang diperkosa malah tertawa. Di
mana ketidakjujuran dipelihara bersama. Di mana
agama tidak mengatur manusia melainkan diatur
oleh manusia. Di mana masyarakatnya hidup
rukun dan penuh maaf. Jika seseorang
kelaparan, tetangganya bingung memanfaatkan
uang. Jika seorang sakit jiwa karena selalu
gagal memperoleh pekerjaan, tetangganya sibuk
menyiapkan lomba siul dan kones betis indah.
Jika beribu penduduk suatu perkampungan
diusir oleh pembangunan, orang lain
mendiskusikan bagaimana memahami tuyul. Jika
sekumpulan manusia diberondong oleh peluru,
orang lain bingung ganti mobil baru dan makan
jembatan.

yang satunya tertawa dalam kesedihan: Luar
biasa! Siapa yang mengarang? Tuhan tak pernah
mentakdiran model masyarakat yang demikian.
Sesudah penciptaan, Tuhan menganugerahkan
kemerdekaan kepada manusia. Namun rupanya
manusia memahami kemerdekaan hanya melalui
pintu hak. Manusia tidak belajar mendengarkan
ucapan Tuhan yang memancar pada tradisi alam,
hukum jagat raya serta diri manusia sendiri.
Mereka tak bisa paham bahwa manusia adalah
ucapan Tuhan. Mereka merebut manusia dari hakekatnya.

Di awang awung, terpantul hati kecil manusia,
jiwa sejati kehidupan, yang di muka bumi hampir
tak boleh bersemayam.
           
            Pada puisi Di Awang Awung di atas, di mana puisi ini menggambarkan dengan indah yang di asosiasikan sebagai dua malaikat yang berada jauh. Malaikat tersebut memandang dari jarak jauh ke suabuah negeri di mana terlihat perilaku manusia terutama kaum berjilbab yang tak lain ialah perempuan berjilbab yang sedang melakukan segala aktivitasnya. Ada yang tulus berdoa kepada Tuhannya, ada yang sibuk menggunjing tetangga sebelahnya, ada pula yang sedang merumuskan bagaimana esok mengais rizki, dan yang terakhir ada yang sedang sibuk memilih warna jilbab apa cocok untuknya agar bisa menjadi trend zaman kala itu. Ada yanng hanya sekedar bergaya, menghabiskan waktu bersenda gurau. Ada juga yang mendekap erat pinggang kekasihnya di dalam kendaraan.
            Puisi Di Awang Awung di atas menjelaskan tentang perilaku wanita di berbagai sudut kehidupan. Jiwa wanita yang lebih mendominasi nafsu semata, sehingga terbentuklah sikap yang keluar dari norma agama serta norma yang berlaku di masyarakat. Sesungguhnya pada puisi tersebut merupakan gambaran hal yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan sosial. Wanita yang berjilbab tetapi tidak menunjukkan kemuslimannya, sehingga menggunakan jilbab hanya sebagai hiasan saja.
            Pada dasarnya puisi di atas setidaknya dapat menjadi cerminan kepribadian manusia, yang mampu memberikan kitrik dalam kehidupan kita. Banyak tipe yang beragam di tampakkan Emha Ainun Nadjib dalam puisi di atas tersebut. Pada puisi di atas Emha Ainun Nadjib selain menggambarkan potret kehidupan wanita berjilbab, di samping itu beliau juga menyindir kepada wanita-wanita yang berjilbab yang memiliki kepribadian seperti puisi di atas.
            Jilbab bukan merupakan sebuah aspek yang terisolasi dalam kekhidupan wanita muslim, namun harus sesuai dan menguatkan sistem sosial yang Islami, khususnya pada wanita. Wanita muslim haruslah menjadi seorang muslim yang sesungguhnya serta dapat merefleksikan ajaran-ajaran agama Islam serta hukum Islam. Jilbab bukan saja sekedar baju untuk menutupi tubuh, namun yang lebih penting ialah sesuatu yang harus dijaga oleh wanita muslim, yaitu tangan, mulut, telinga, serta perbuatan mereka juga harus melaraskan kemuslimannya.
            Proses kretif Ainun Nadjib tidak berhenti pada puisi Di Awang Awung saja, namun pada puisi-puisi lainnya yang memperlihatkan sososk pribadi Emha Ainun Nadjib. Di dalam kumpulan puisi Lautan Jilbab ini terdiri atas 33 puisi yang bertemakan Lautan Jilbab, namun hanya ada beberapa yang akan diulas di sini. Dalam puisi-puisi tersebut sangatlah nampak sosok Emha Ainun Nadjib yang sosialis serta religius. Berikut merupakan puisi yang berjudul “Merawat Rahasia”.

Merawat Rahasia

Wanita yang memamerkan pahanya
Hendaklah jangan tersinggung 
Kalau para lelaki memandanginnya
Sebab demikianlah hakekat tegur sapa

Siapa ingin tak menyapa tak disapa
Tinggallah di balik yang tertutup pintunya
Sebab begitu pintu di buka
Orang berhak mengetuk dan memasukinya

Maka dengan menonjolkan auratnya
Wanita member hak kepada laki-laki siapa saja
Untuk menatapi benda indah suguhannya
Serta membayangkan betapa nikmat rasanya

Hendaklah wanita punya rasa sayang
Kepada ratusan lelaki di sepanjang jalan
Dengan tidak menyodorkan godaan
Yang tak ada manfaatnya kecuali untuk
dipandang

Adapun lelaki, sampai habis usia
Hanya bisa berkata: betapa indah wanita!
Maka bantulah ia merawat rahasia
Yang hanya boleh dikuakkan oleh isterinya.

            Puisi berjudul Merawan Rahasia tersebut merupakan salah satu potret sosial. Di sinilah penyair menggambarkan peristiwa sosial yang terjadi pada masa itu. Puisi yang juga berisikan tentang sindiran atau dapat juga diartikan sebagai nasehat bagi kaum wanita yang berpakaian tidak sepantasnya di depan para lelaki yang bukan suaminya. Di sini penyair juga mengasosiasikan dengan sebuah pintu, berikut kutipannya.

“Siapa ingin tak menyapa tak disapa
Tinggallah di balik yang tertutup pintunya
Sebab begitu pintu di buka
Orang berhak mengetuk dan memasukinya”

Pada kutipan tersebut memiliki arti yang ditulis oleh penyair pada bait selanjutnya, yaitu.

“Maka dengan menonjolkan auratnya
Wanita member hak kepada laki-laki siapa saja
Untuk menatapi benda indah suguhannya
Serta membayangkan betapa nikmat rasanya”

            Pada intinya, puisi ini berisikan tentang himbauan kepada wanita agar dapat menjaga auratnya dari pandangan-pandangan  laki-laki yang bukan suaminya, serta agar wanita dapat berpakaian yang sepantasnya, juga agar menjaga dari pandangan-pandangan laki-laki yang bukan suaminya, sebab dalam kehidupan masyarakat individu sangat eratkaitannya dengan keterkaitan sosial, maka diperlukan etika, jika keduanya bertemu dengan kondisi yang “tidak keberatan” maka akan terjadi sesuatu yang akan melanggar norma, terutama norma agama. Secara ekstrinsik pula puisi ini juga mencerminkan tentang kereligiusan Emha Ainun Nadjib melalui karyanya yang terselip dalam puisi-puisi Emha Ainun Nadjib.
            Menurut Islam sudah dibenarkan bahwa, kaum wanita hendaknya memakai pakaian yang pantas, sopan serta tidak terlalu menarik perhatian kaum pria, dan kaum wanita sebaiknya berhijab atau sesuai dengan ketentuan Islam. Islam tidak membenarkan kaum wanita berpakaian hingga memamerkan pahanya serta menyodorkan godaan. Sebab jika seperti itu akan memberi kesempatan untuk kaum pria menikmati keindahan tubuhnya yang sebenarnya pantas  dilakukan kepada istrinya. Selain puisi Merawat Rahasia ada juga puisi Emha Ainun Nadjib yang masih berkaitan dengan puisi tersebut, yaitu puisi yang berjudul Cahaya Aurat.

Cahaya Aurat

Ribuan jilbab berwajah cinta
Membungkus rambut, tumbuh sampai ujung
kakinya
karena hakekat cahaya Allah
lalah terbungkus di selubung rahasia

siapa bisa menemukan cahaya?
lalah suami, bukan asal manusia
jika aurat dipamerkan di Koran dan di jalanan
Allah mengambil kembali cahayaNya

Tinggal paha mulus dan leher jenjang
Tinggal bentuk pinggul dan warna buah dada
Para lelaki yang memelototkan mata
Hanya menemukan benda

Jika wanita bangga sebagai benda
Turun ke tingkat batu derajat kemakhlukannya
Jika lelaki terbius oleh keayuan dunia
Luntur manusianya, tinggal syahwatnya.

            Pada puisi terdapat nilai religius yang sangat kuat, walaupun tidak dituliskan secara langsung, namun pada makna akan sangat nampak. Secara ekstrinsik puisi di atas menggambarkan betapa besar anugerah yang diberikan Allah kepada manusia terutama kepada wanita, Allah menciptakan keindahan bagi sorang wanita. Pada bait pertama,

Ribuan jilbab berwajah cinta
Membungkus rambut, tumbuh sampai ujung
kakinya

menunjukkan bahwa terdapat sebuah jilbab yang membungkus rambutnya, tubuh sampai ujung kaki. Anugerah tersebut merupakan ibarat bahwa petunjuk Allah tersirat di balik larik-larik tersebut. Emha Ainun Nadjib menyampaikannya dengan sindiran yang sangat halus untuk kaum wanita supaya memakaikan jilbabnya untuk menutup auratnya. Aurat di sini diibaratkan sebagai cahaya kaum wanita atau juga disebut sebagai kehormatan, dan yang berhak menemukan cahaya itu ialah suaminya bukan orang lain yang bukan suaminya. Pada puisi ini dijelaskan bahwa, jika kaum wanita memamerkan auratnya di koran maupun di jalanan, maka Allah akan mengambil kembali cahayanya. Allah tidak segan-segan mengambil kembali hidayahNya atau kehormatannya sebagai seorang wanita muslim yang hendaknya berpakaian seperti hukum Islam.
            Puisi ini seharusnya menjadi pukulan kepada kaum wanita yang belum tersadar akan pentingnya menjaga suatu kehormatan sebagai wanita Islam. Jika kaum wanita belum tersadar pula hingga memamerkan auratnya kepada pria yang bukan suaminya maka luntur manusianya, tinggal syahwatnya atau dengan kata lain jika wanita dalam bersikap hanya menggunakan akal dan nafsu semata, maka fitrah sebagai wanita akan hilang.

Putih, Putih, Putih

Meratap bagai bayi
Terkapar bagai si tua renta
Di padang Mahsyar
Di padang penantian
Di depan pintu gerbang janji penantian
Saksikan beribu-ribu jilbab
Hai! Bermilyar-milyar jilbab!
Samudera putih  \Lautan cinta kasih
Gelombang sejarah
Pengembaraan amat panjang
Di padang Mahsyar
Menjelang hari perhitungan
Seribu galaksi
Hamparan jiwa suci
Bersujud
Memanggil Allah, satu-satunya nama
Bersujud
Putih, putih, putih
Bersujud
Menyeru belaian tangan kekasih
Bersujud
Dan alam raya
Jagat segala jagat
Bintang-bintang dan ruang kosong
Mendengar panggilan itu
Dengan telinga ilmu seratus abad:
-    Wahai jiwa bening!
wahai mut\ma’innah
Kembalikan kepada Tuhanmu
Dengan rela dan direlakan
Masuklah ke pihakKu
Masukilah sorgaKu
Wahai jiwa, wahai yang telah jiwa!
Wahai telaga
Yang hening
Hingga tiada!

            Larik  pertama diawali  dengan  sebuah  perumpamaan Meratap  bagai  bayi,  terkapar bagai  si  tua  renta  adalah  bentuk  ratapan  seorang  hamba yang    (dalam    perumpamaannya)  seperti   bayi. Ratapan  itu merupakan bentuk penghambaan kepada sang kholiq sang pencipta jagad  raya. Di padang Mahsyar, di padang penantian di  depan  pintu  gerbang  janji  penantian, saksikan beribu-ribu jilbab  merupakan  gambaran  tentang kehidupan setelah hari kiamat karena menyebutkan padhang mahsyar yang merupakan suatu tempat dikumpulkannya manusia  setelah  kiamat. Pada  kalimat  saksikan  beribu-ribu  jilbab  ini  adalah sebuah perintah di mana di padang mahsyar Allah SWT  mengumpulkan mereka kaum berjilbab. Pada larik, Hamparan jiwa suci, bersujud,  Memanggil  (nama) Allah,  satu-satunya  nama  disebutkan  kata  jiwa  suci  yang  berarti jiwa yang putih, dan terhindar dari dosa-dosa  besar. Jiwa suci ini setidaknya  merujuk  pada qalbun salim atau hati yang selamat dari dosa. Bersujud berarti jiwa tersebut melakukan sujud dengan  menyerahkan jiwanya kepada Allah SWT,  Putih, putih, putih merujuk pada beribu-ribu jilbab  yang  mempunyai  jiwa suci  Bersujud  melakukan sujud kepada Allah SWT Menyeru belaian  tangan  kekasih  melafldz  seruan  dengan  kasih  sayang  Allah  yang  diberikan  kepadanya. Kemudian dengan  sujud  dari  jiwa yang  suci  ini  mengisyaratkan pada panggilan yang didengar oleh Allah SWT dan Allah menjawab sujud para  hamba yang beriman tersebut serta menyeru melalui kalimat  Wahai jiwa bening! wahai mutma’innah isyarat  panggilan kepada setiap jiwa yang  terbebaskan  dari segala dosa semasa hidupnya,  Kembalikan kepada Tuhanmu  Dengan rela dan direlakan, masuklah ke pihakKu, masukilah sorgaKu, wahai jiwa,wahai yang  telah jiwa! wahai telaga Yang hening, hingga tiada!.
            Puisi Putih, Putih, Putih di atas berisikan tentang panggilan Allah kepada setiap jiwa yang suci, panggilan untuk kembali kepada Allah dengan membawa jiwa serta hati yang suci dan diridhai, artinya setelah manusia menjalani kehidupan di dunia dengan segala aturan Allah yang tertulis dalam kitab suci Al-Qur’an, maka di kehidupan selanjutnya Allah telah mempersilahkan mereka ke dalam golongan kekasih Allah yaitu golongan penghuni surga. Puisi di atas sesuai dengan Q.S Al-Fajr, 89:27-30 yang berbunyi.
Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi di ridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.
            Karya sastra tidaklah lahir dari kosong, di sinilah Emha Ainun Nadjib menciptakan puisi Putih, Putih, Putih tersebut berdasarkan penggalan ayat-ayat kitab suci Al-Qur’an. Pada puisi tersebut menandakan bahwa Emba Ainun Nadjib memang benar-benar mengetahui tentang ajaran agama Islam. Lewat kumpulan puisi Lautan Jilbab ini Emha Ainun Nadjib ingin mengingatkan kepada kita khususnya kaum wanita hendaknya memiliki sikap dan sifat selayaknya wanita. Di sinilah nuansa-nuansa Islam sangatlah kental melalui bait demi bait yang Emha ciptakan.
            Nuansa-nuansa sosial serta religi dalam kumpulan puisi Lautan Jilbab tidak hanya berhenti dari puisi Putih, Putih, Putih tersebut. Melalui puisi yang berjudul Kambing Hitam Emha Ainun Nadjib seolah memberikan gambaran sisi negatif manusia dengan segala perilaku yang menyimpang dari tataan nilai di masyarakat. Dalam Puisi ini Emha Ainun Nadjib mengibaratkannya dengan konotasi Bahasa Kambing Hitam.

Bahasa Kambing Hitam 
 
Seseorang, dari beribu jilbab, berkata 
Bicaralah dengan bahasa badan! 
Sunyi belum sempurna. Ini dunia nyata 
Tabir belum dikuakkan 
Hijab belum disingkap seluruhnya 
Ruh tak bicara kecuali hanya kepada dirinya 
Bicaralah dengan bahasa badan 
Dengan bahasa kehidupan yang bersahaja 
Perhitungan sejarah belum selesai 
Ini bukan mahsyar, padang sunyi senyap 
Bicaralah dengan bahasa keringat 
Bahasa got dan selokan 
Dusun-dusun suram dan sawah ladang 
Yang entah siapa sekarang pemiliknnya 
Anak-anak antri cari sekolah dan kerja 
Dendam kepada kesempitan, terusir dan  
     Tertepikan 
Pasar yang sumpeg, dikangkangi monopoli 
Jilbab-jilbab bertaburan tidak di langit tinggi 
Melainkan di bumi, tanah-tanah becek 
Teori pembangunan yang aneh 
Kemajuan yang menipu 
Jilbab-jilbab terserimpung di kubangan sejarah 
Melayani cinta palsu dan kecurigaan  
Cekikan yang samar 
Dan tekanan yang tak habis-habisnya 
Jilbab-jilbab dikambinghitamkan 
Bicaralah dengan bahasa kambing hitam! 

            Kutipan puisi di atas memberikan isyarat perintah bahwa Seseorang, dari beribu jilbab, berkata merupakan suatu uangkapan perumpamaan kaum wanita yang penggambarannya melalui seribu jilbab dengan nada tinggi berkata Bicaralah dengan bahasa badan!, bahasa badan ini bisa saja berupa anggota badan yang idak hanya mulut yang berbicara, namun hati ataupun indera yang lain pada diri manusia. Kalimat tersebut dituliskan dengan tanda seru (!), seolah-olah merupakan perintah yang penting karena bahasa badan adalah bahasa kejujuran setelah mulut terbiasa berbohong. Sunyi belum sempurna. Ini dunia nyata mengisyaratkan pada sunyi yang belum sempurna. Ini artinya bahwa dunia ini benar-benar nyata dan belum sempurna. Tabir belum dikuakkan, masih berkaitan dengan kalimat sebelumnya bahwa dunia nyata adalah di mana tabir/rahasia hidup belum dibuka untuk dimintai pertanggungjawabannya, Hijab belum disingkap seluruhnya, salah dan benar ataupun hijab belum seluruhnya diketahui. Ruh tak bicara, kecuali hanya kepada dirinya, ruh hanya berputar pada dirinya sendiri, berbicara kepada dirinya yang menyatu pada jasad seseorang. Bicaralah dengan bahasa badan, maksudnya bahwa bahasa badan ini sangatlah penting, Dengan bahasa kehidupan yang bersahaja, merujuk pada nilai-nilai kehidupan yang madani dan penuh makna, Perhitungan sejarah belum selesai, bahwa hidup belum sepenuhnya selesai atau sejarah masih bisa dirubah untuk meluruskan untuk hidup di masa depan. Ini bukan mahsyar, padang sunyi senyap, penegasan kembali bahwa sang wanita berbicara tentang realitas dunia yang benar-benar nyata dan bukan padang mahsyar, padang yang sunyi senyap yang dimaksud ialah alam barzah.
            Bicaralah dengan bahasa keringat, perintah berbicara yang ketiga ini menggunakan bahasa keringat, maksud dari bahasa keringat ini merupakan simbol bahasa dalam pola kehidupan manusia dari segala aspek, Bahasa got dan selokan yaitu sisi kehidupan pinggiran manusia yang penuh dengan segala keterbatasan dalam dunia yang keras, Dusun-dusun suram dan sawah ladang, yang entah siapa sekarang pemiliknya, merupakan kondisi masyarakat yang memprihatinkan, tidak tahu siapa yang memiliki dan ini akibat dari perbuatan manusia sendiri, ketika ladang dan sawah semakin hilang oleh kerakusan penguasa kemudian dijadikannya pabrik-pabrik sebagai lahan industri, Anak-anak antri kesulitan cari sekolah dan kerja, Dendam kepada kesempitan, terusir dan tertepikan, kutipan diatas merupakan sebuah kondisi, sebuah realitas pendidikan di mana anak-anak di negeri ini kesulitan untuk mengenyam bangku sekolahan, serta makin sempitnya lapangan kerja bagi para pemuda, terlalu sering kesulitan hingga muncul rasa dendam terhadap kemiskinan, Pasar yang terasa sumpeg, dikangkangi monopoli, keadaan ekonomi yang sulit dengan sistem yang begitu menjerat, perdagangan yang penuh dengan monopoli perdagangan dan hanya menguntungkan para penguasa. Dari beberapa kutipan dalam paragraf ini sangatlah nampak wajah-wajah kondisi masyarakat yang sengsara, ekonomi yang sulit, dan sistem yang hanya menguntungkan penguasa, dalam bait-bait tersebut sangatlah nampak kesenjangan sosial yang terjadi di dalam masyarakat antara miskin dengan penguasa. Di sinilah letak konflik atau permasalahan yang hendak diungkap oleh Emha. Meski sangatlah kental nilai sosial pada kutipan tersebut namun Emha Ainun Nadjib tetap membungkusnya dengan larik-larik yang bernafas religi.
            Jilbab-jilbab bertaburan tidak di langit tinggi, yakni tidak berperilaku sesuai dengan norma-norma yang berlaku sebagai fitrahnya wanita, sebab norma-norma tersebut seperti diagungkan, dalam bahasanya tidak di langit tinggi. Melainkan di bumu, tanah-tanah becek, melainkan derajatnya begitu rendah, bahkan teramat rendah seperti tanah-tanah becek yang selalu mengibarkan aib di masyarakat. Teori pembangunan yang aneh, kemajuan yang menipu, kondisi tersebut menganggambarkan sebagai cermin pembangunan yang begitu aneh, mengingat kewajiban yang harus dilakukan oleh kaum perempuan tidak dihiraukan oleh kaum berjilbab yaitu kaum wanita. Jilbab-jilbab tersimpung di kubangan sejarah, Melayani cinta palsu dan kecurigaan, pada bait ini menunjukkan bahwa kaum wanita dianggap telah tersesat dalam kehinaan yang begitu rendah dalam perjalanan sejarah manusia, dengan keluar dari fitrahnya yang hanya sebagai makanan kaum laki-laki hidung belang yang hanya memberikan cinta sesaat. Cekikan yang samar, dan tekanan yang tak habis-habisnya, kaum wanita dalam realita kehidupan yang sebenarnya mengalami penyiksaan yang menyakitkan dan tekanan yang tak habis-habisnya. Siksaan yang diperoleh tersebut merupakan akibat dari perbuatan yang ditimbulkan dari perbuatannya selama di dunia. Jilbab-jilbab dikambinghitamkan, jilbab yang mereka kenakan hanyalah sebagai kambing hitam untuk menutupi perbuatan atau kepribadian yang buruk. Bicaralah dengan bahasa kambing hitam!, pada bait ini merupakan perintah untuk berbicara pada kaum wanita dengan bahasa kambing hitam.
            Puisi Bahasa Kambing Hitam merupakan sebuah gambaran realitas kehidupan umat manusia, yang menyinggung mereka kaum wanita beribu jilbab dengan perintah untuk berbicara dengan bahasa badan, bahwa kondisi  masyarakat yang bobrok moralnya memang benar-benar terjadi dalam kehidupan era modern, di mana kebenaran dipandang sebagai angan-angan semata. Borbroknya moral tersebut akibat dari ulah manusia sendiri, kondisi ekonomi masyarakat yang sulit serta adanya penguasa yang memonopoli juga merupakan hasil dari hawa nafsu mereka untuk jauh dari cahaya Tuhan. Sehingga yang terjadi ialah anak-anak dari keluarga kurang mamapu sulit mengenyam bangku pendidikan, pemuda pengangguran yang sulit mendapatkan pekerjaan. Semuanya akibat dari nafsu manusia yang selalu ingin berkuasa di atas penderitaan orang lain.  
            Kumpulan  puisi Lautan jilbab karya Emha Ainun Nadjib berisi tentang pesan moral yang secara implisit maupun eksplisit mengandung nilai religi sebagai seorang wanita muslim. Kumpulan puisi ini memberikan gambaran tentang potret sosial manusia. Pada kumpulan puisi ini mengarah pada sisi kepribadian kaum wanita dengan segala bentuk perilaku serta berpakaiannya sehari-hari yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Seorang wanita akan dianggap hina karena mengikuti akal nafsunya dalam berpakaian. Pada kumpulan puisi Lautan Jilbab ini Emha Ainun Nadjib menggunakan proses kreatifnya dengan melihat potret sosial apa yang sedang terjadi pada kaum wanita yang berjilbab dengan menggunakan pengetahuan tentang Islam yang dimilikinya. Dalam puisi-puisinya Emha Ainun Nadjib juga memberikan nasihat serta peringatan kepada wanita agar berperilaku sesuai agama Islam, serta menjadi muslim yang sesungguhnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar