Mahasiswa Offering AA Angkatan 2010 Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

PESAN MORAL DARI KADIS



PESAN MORAL DARI KADIS
Oleh: Hasan Nugroho

Mengikuti suatu pengajian sudah menjadi budaya bagi masyarakat muslim di Indonesia. Melalui pengajian seseorang akan mendapatkan banyak ilmu mengnai kehidupan, mulai dari apa yang harus dilakukan dalam hidup ini agar mendapatkan ridho dari yang maha kuasa, bagaimana hendaknya seseorang bersikap ketika menghadapi cobaan, dan lain sebagainya. Dengan mengikuti pengajian seseorang diharapkan akan mampu menerapkan ilmu-ilmu yang didapatkan dalam kehidupan nyata. Sehingga membuat seseorang tersebut memiliki aji di mata Tuhan dan orang lain. Aji yang dimaksud di sini adalah memiliki kehormatan atau harga diri karena seseorang tersebut berilmu atau berhasil menerapkan ilmu-ilmu kebaikan yang pernah ia dapatkan.
Namun apa jadinya jika seseorang salah menafsirkan ilmu yang didapatkannya dari pengajian? Tentu hal ini tidak baik bagi orang tersebut. Kesalahan dalam menafsirkan ilmu secara otomatis akan berdampak pada penerapan ilmu yang salah. Sehingga membuat seseorang tidak memiliki aji di mata orang lain. Orang lain akan kehilangan respek kepada seseorang yang salah menafsirkan ilmu tadi, karena mereka tahu bahwa apa yang dilkukan oleh orang tersebut adalah hal yang salah, atau bahkan dianggap tidak memiliki norma-norma kemasyarakatan jika kesalahan penafsiran ilmu ini terjadi dengan ekstrim. Hal seperti inilah yang terjadi pada seorang Kadis,  tokoh utama dari cerpen yang ditulis oleh Mohammad Diponegoro.
Jika ditanya mengapa harus Kadis? Jawabnya adalah karena cerpen ini syarat dengan nilai-nilai moral yang dibungkus ke dalam suasana religius. Cerpen ini memang sudah lama dimuat, yakni tahun 1984, namun pada tahun 2009 cerpen ini dimuat kembali, hal ini mungkin karena pesan-pesan yang terkandung di dalam cerpen ini masih dianggap sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini. Jika kita membaca cerpen ini, sebenarnya tidak ada yang terlihat begitu kuno selain penggunaan nilai rupiah yang masih sangat kecil, seperti yang tercermin dalam kutipan “kau kutinggali enam ribu, besuk aku pergi ke Jakarta.
 Cerita pendek berjudul Kadis ini secara garis besar menceritakan tentang sosok seorang Kadis, yakni seorang kepala keluarga yang gemar mengikuti pengajian di kota. Hampir setiap hari ia rutin mengikuti pengajian. Saking gemarnya ia mengikuti pengajian, ia terkesan tidak meperdulikan keadaan keluarganya, ketika istrinya Dalijah mengatakan rumah tidak ada beras dan sekolah anak-anaknya belum di bayar, bukannya mencari uang namun Kadis justru tetap pergi mengayuh sepedanya untuk tetap mengikuti pengajian. Ketika sampai di tempat ternyata pengajian hari itu ditunda beberapa minggu ke depan.  Singkat cerita, Kadis teringat bahwa dirinya mendapatkan beberapa ilmu dari pengajian, salah satunya adalah bahwa jalan untuk memperlancar rizki adalah dengan bersilaturahmi.  Kadis kemudian pergi ke rumah rekan-rekannya untuk bersilaturahmi, dan ia akan pulang dari rumah rekannya itu ketika telah diberi uang. Kadis sendiri bukannya tidak mempunyai pekerjaan, ia bekerja dengan membuat pelana kuda dan menjual tikar. Namun Kadis telah berubah, selain mengikuti pengajian ia menjadi gemar bersilaturahmi, bahkan ia telah merencanakan untuk pergi ke Jakarta bersilaturahmi ke rumah keluarga dan kenalannya.
Di jakarta Kadis justru semakin menjadi, tawaran menginap dianggapnya sebgai isyarat bahwa rizki akan datang. Sepulang dari Jakarta Kadis membawa beberapa uang dan diberikan kepada istrinya, namun semuanya ditolak oleh istrinya meskipun Kadis mengatakan bahwa rizki tersebut adalah halal. Dalijah kemudian mengatakan bahwa ia telah bertemu dengan Kiai Dofir. Kadis kemudian datang ke rumah Kiai Dofir. Di rumahnya, Kiai Dofir mengatakan kepada Kadis bahwa ia tak boleh mengikuti pengajian lagi, baik di pengajiannya atau pengajian kiai yang lain. Kiai Dofir memarahi Kadis karena ia mengikuti pengajian hanya untuk dalih agar ia tidak bekerja, dan Kadis hanya memberikan nafkah dari harta hasil meminta-minta. Setelah  peristiwa Kadis dimarahi oleh Kiai Dofir, Kadis hanya sekali atau dua kali dalam sebulan mengikuti pengajian, karena ia akhirnya sibuk dengan pekerjaan barunya, yakni menjadi tukang penyembelih ternak.
Seperti yang telah dikatakan di atas bahwa cerpen ini syarat akan nilai-nilai moral. Nilai moral adalah nilai-nilai yang mengajarkan sesorang ke dalam hal-hal menuju kebaikan, mulai dari perbuatan, sikap, kewajiban, akhlak, budi pekerti, susila, dan lain sebagainya.  Nilai moral dalam suatu karya sastra (prosa) tidak semuanya tersurat, ada juga beberapa nilai yang tersirat. Seorang pembaca terkadang harus membaca sampai selesai terlebih dahulu untuk memahami pesan yang ada di dalam sebuah karya sastra. Berikut ini adalah beberapa kutipan dari cerpen berjudul ‘Kadis’ yang mengandung pesan-pesan moral.
Kemarin kau sudah ke kota, ngaji juga. Masa tiap hari ke kota ngaji terus-terusan!”
Sekarang Kadis menghadapi istrinya, lalu menggunakan gerak tangan untuk memberi tekanan pada jawabannya. “Kemarin Kiai Hamam, sekarang Kiai Dofir. Kan lain?”
Kadis lalu menyebutkan beberapa nama kiai lainnya yang ditangkap Dalijah dengan tidak sabar. Lalu Dalijah menukasnya dengan cepat. “Bukan kiai siapa-siapa, tapi di rumah tidak ada beras. Uang sekolah anak-anak juga belum di bayar.”
Dari kutipan di atas dapat diambil pesan bahwa sebagai seorang kepala keluarga, hendaknya jangan meninggalkan tanggung jawab untuk menafkahi keluarga, hanya demi hal-hal yang sifatnya lebih kepada kepuasan pribadi. Selain itu, kutipan di atas juga mengandung pesan bahwa seorang kepala keluarga seharusnya memiliki perhatian lebih kepada keluarganya, karena pada hakikatnya keluarga lebih membutuhkan kehadirannya daripada orang lain.
Nah, begitu kalau tidak pernah ngaji. Rizki Tuhan itu tidak bisa diduga darimana dan kapan datangnya. Ngerti? Pokoknya aku nanti sore pulang bawa duit.”
Apa yang disampaikan dalam kutipan diatas memang benar, bahwa rizki Tuhan tidak dapat diduga darimana asalnya. Namun, dalam kutipan yang diungkapkan oleh Kadis ini sudah mulai tampak bahwa ia sebenarnya salah menafsirkan ilmu yang didapatkannya dari pengajian. Kadis beranggapan bahwa hidup itu cukup hanya pasrah bongko’an kepada Tuhan, artinya manusia tidak perlu terlalu bekerja dan berfikir keras, karena jika memang rizki sudah waktunya datang maka akan datang pula, anggapan inilah yang sebenarnya salah karena dapat menyebabkan seseorang menjadi malas.  Sebagai manusia beradap, tentunya semua orang tahu bahwa manusia diwajibkan untuk berusaha terlebih dahulu untuk mendapatkan apa yang diinginkan, masalah hasil akhir seperti apa, manusia kembali menyerahkannya kepada Tuhan.
Ya, berapa saja pengajian di kota ini yang ia kunjungi? Kadis menyoali pikirannya sendiri. Kiai Dofir setiap hari Sabtu, Kiai hamam setiap hari Jumat. Kiai Sobron hari Rabu, Kiai hamim, Kiai Toha. Bukankah ini amal saleh? Tuhan sudah berjanji dalam kitab suci, bahwa orang-orang beriman dan beramal saleh akan mendapat pahala terus menerus. Falahum ajrun ghairu mamnun.
Kutipan yang disampaikan diatas memanglah benar, bahwa orang yang beramal saleh akan mendapatkan pahala terus menerus. Namun dalam konteks cerpen ini, kembali lagi Kadis kurang tepat menafsirkan ilmu yang di dapatnya. Ia hanya berfikir bahwa ia akan mendapatkan pahala terus menerus hanya dengan mengikuti pengajian setiap hari, namun ia lupa bahwa memperhatikan dan menafkahi keluarga juga merupakan amal saleh. Dalam cerpen ini diceritakan bahwa Kadis sempat kurang perduli terhadap keluarganya hanya karena ingin mengikuti pengajian setiap hari. Jadi sebenarnya kutipan ini secara tersirat menyampaikan bahwa berbuat baik dan beramal saleh itu dapat dimulai dari hal-hal yang paling kecil dan paling mudah seperti memperhatikan dan menyenangkan orang-orang terdekat (keluarga).
Silaturahmi ialah salah satu kunci rejeki, itu pelajaran dari Kiai Dofir. Dan Kadis sudah terlalu sering membuktikan kebenaran rahasia itu.
Dalam cerpen ini dikisahkan bahwa Kadis bersilaturahmi ke rumah rekan-rekannya dengan tujuan agar ia diberi uang oleh rekannya tersebut. Dengan kata lain, Kadis sebenarnya mengemis secara halus ketika ia bertamu ke rumah kerabat dan rekan-rekannya. Pandangan Kadis tentang pelajaran bersilaturahmi ini yang sebenarnya paling fatal kesalahan pemahamannya, gara-gara ini Kadis secara tersirat digambarkan sudah tidak memiliki rasa malu dan dianggap tidak memiliki norma, bahkan ia dianggap lari dari tanggung jawab untuk menafkahi keluarganya, dan hanya menghidupi keluarganya dari harta meminta-minta. Namun dari kutipan di atas sebenarnya kita dapat memetik suatu nilai atau pesan yang dapat dijadikan pelajaran. Kalimat ‘silaturahmi adalah salah satu kunci rejeki’ artinya dengan bersilaturahmi, Tuhan akan membukakan pintu rejekinya. Yang dimaksud dengan rejeki  tidak  hanya berupa harta atau uang, namun dapat juga berupa info penting yang dibutuhkan, pekerjaan, teman dan hal-hal yang dapat membuat hati merasa bahagia. Jadi ketika bersilaturahmi janganlah semata-mata untuk mendapatkan uang atau harta, namun lebih karena kita ingin mendekatkan kekerabatan kita dengan orang yang sedang kita kunjungi, mungkin saja dengan kedekatan tersebut suatu saat kita ditawari pekerjaan oleh rekan kita ataupun mendapatkan suatu hal yang tidak terduga.
Markum yang sebnarnya sedang sibuk bekerja tidak bisa menyembunyikan sikapnya yang tidak senang mendapat kunjungan sepagi hari itu”
Dari kutipan diatas, kita dapat menangkap pesan bahwa ketika bertamu seseorang harus mempunyai adab, harus tau situasi dan kondisi. Seseorang harus mampu mengira-ngira kapan waktunya pantas untuk bertamu, agar tidak mengganggu kegiatan orang yang sedang dikunjungi.
“Kau tahu, Kadis, nafkah yang kau dapat dari keringatmu sendiri, meskipun hanya kecil, lebih besar nilai pahalanya dari hasil meminta-minta, mengerti?”
Kutipan diatas adalah bagian dari penyelesaian cerpen ini, dari kutipan tersebut dapat dipetik amanat bahwa, sebaik-baiknya harta meminta-minta masih lebih baik harta yang didapat dari hasil jerih payah sendiri.
Jadi, secara keseluruhan, cerpen ini ingin mengungkapkan kepada pembacanya, bahwa seorang kepala keluarga haruslah lebih memperhatikan keluarganya, mau menafkahi keluarganya dengan jerih payahnya sendiri, meskipun hasilnya sedikit, pahalanya lebih banyak dan keluarga akan lebih bangga. Kemudian cerpen ini juga ingin menyampaikan kepada pembacanya bahwa ketika mendengarkan suatu ceramah, alangkah lebih baiknya ditelaah terlebih dahulu dan tidak ditelan mentah-mentah, karena dapat menjadi bumerang untuk diri sendiri.
Sebenarnya tidak dapat dipungkiri bahwa apa yang terjadi dan dialami oleh Kadis dalam cerpen ini juga ada dalam realita sosial di masyarakat. Cerpen ini secara halus menyindir profesi pengemis yang sudah terlalu banyak menghiasi pinggir-pinggir jalan di negeri ini. Kita tahu bahwa mengemis adalah profesi yang mengajak seseorang untuk malas dan tidak mau bekerja keras, sama seperti Kadis, mereka menghidupi keluarganya dari hasil meminta-minta. Kemudian permasalahan kesalahan menafsirkan ilmu-ilmu itu sendiri juga banyak terjadi di kalangan masyarakat. Dalam sekala yang lebih besar, munculnya aliran-aliran sesat di negeri ini salah satunya juga dari hasil kesalahan menafsirkan ilmu-ilmu, kemudian dari sekala yang lebih kecil adalah munculnya kelompok-kelompok ataupun individu-individu yang gemar membid’ah kan orang, atau mengharamkan orang melakukan sesuatu. Sama seperti Kadis, mereka ini kemungkinan menelan mentah-mentah ilmu yang didapatkannya, tanpa mengkajinya terlebih dahulu, sehingga mereka menjadi salah tafsir, dan parahnya kesalahan tafsir ini disebarkan dan diturunkan kepada anak-anaknya.
Cerpen berjudul ‘Kadis’ ini termasuk cerpen yang unik, cara penyampaian pesannya justru bukan dengan kebaikan-kebaikan tokohnya, namun lebih menitikberatkan pada kontroversi seorang Kadis sendiri. Penulis menggambarkan betapa menjengkelkannya seorang Kadis yang ‘menghindari’ tanggung jawabnya untuk bekerja mencari nafkah bagi keluarganya dan sering kurang tepat menafsirkan ilmu-ilmu yang didapatkannya, sehingga sosok Kadis sendiri tampak sudah kehilangan rasa malu pada dirinya, seperti yang tercermin pada saat peristiwa Kadis pergi ke rumah Markum dan menceritakan bahwa Ia ingin pergi ke Jakarta. Ia bercerita panjang lebar dan akan pulang ketika sudah diberi uang.
Secara keseluruhan, ditinjau dari aspek pesan-pesan moral yang disampaikan dalam cerpen ini dapat dikatakan bahwa cerpen ini cukup bagus sebagai bahan bacaan di sekolah, terutama di SMP dan SMA, selain bahasanya mudah dipahami, cerpen ini banyak sekali mengandung pesan-pesan yang bermanfaat. Nuansa religius yang ada  dalam cerpen ini juga menambah kuat penyampaian pesannya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar