Mahasiswa Offering AA Angkatan 2010 Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

TRAGEDI CINTA MADEKUR DAN TARKENI DI ANTARA DUNIA COPET DAN KUPU-KUPU MALAM



TRAGEDI CINTA MADEKUR DAN TARKENI DI ANTARA DUNIA COPET DAN KUPU-KUPU MALAM
Oleh: Silka Yuanti Draditaswari


Madekur dan Tarkeni merupakan naskah drama buah karya Arifin C. Noer. Madekur dan Tarkeni ini terdapat dalam buku kumpulan naskah drama Orkes Madun yang diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Firdaus bekerjasama dengan Yayasan Adikarya IKAPI. Naskah ini adalah bagian dari pentalogi Orkes Madun. Madekur dan Tarkeni sendiri merupakan bagian pertama. Bagian kedua adalah Umang-umang, bagian ketiga adalah Ozone, sedangkan bagian keempat adalah Sandek; Pemuda Pekerja. Bagian kelima akan berjudul Magma. Sayangnya, Magma tidak dapat terealisasikan karena Arifin C. Noer meninggal dunia pada tanggal 28 Mei 1995. Pentalogi ini merupakan karya terakhir dari Arifin C. Noer. Oleh karena itu, lakon ini menjadi legenda tersendiri bagi dunia naskah drama Indonesia karena keberadaannya yang menjadi lakon terakhir dari seorang sastrawan. Selain itu, naskah drama ini berbentuk pentalogi, dimana bentuk naskah drama seperti ini belum ditemukan di dunia sastra Indonesia.

Keempat naskah ini memiliki keterkaitan yang tidak urut. Madekur dan Tarkeni berhubungan dengan Sandek; Pemuda Pekerja, sedangkan Umang-umang berhubungan dengan Ozone. Tokoh-tokoh utama dari keempat naskah ini adalah Madekur, Tarkeni, dan Waska. Madekur dan Tarkeni adalah dua tokoh utama dari naskah Madekur dan Tarkeni serta Sandek; Pemuda Pekerja, sedangkan Waska adalah tokoh utama dari Umang-umang dan Ozone. Hubungan antara naskah Madekur dan Tarkeni dengan naskah Sandek; Pemuda Pekerja adalah inti cerita yang disampaikan sama, yaitu tentang ironi kehidupan kota Metropolitan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Punahnya Dolanan Tradisional dalam Drama ‘Padang Bulan’



Punahnya Dolanan Tradisional  dalam Drama ‘Padang Bulan’
Oleh: Zakiah Alif Syakura

            Drama ‘Padang Bulan’ ini adalah drama sederhana buat Belia karya Ucok Klasta. Tokoh-tokoh pada drama ini adalah Padang, Bulan, Jembar, Kalangan, Aki, Nini/ (sekaligus) Ibu lugu, Lugu, pejabat Pemerintah Kota, Politikus (Anggota Dewan Kota), Boss (Pengusaha), Petugas Kamtib. Drama ini terdiri atas 5 adegan.
            Drama ini kaya dengan beberapa simbol. Simbol-simbol tersebut sebagai bentuk penyampaian kepada penonton. Ucok ingin menyampaikan seberapa banyak permainan tradisional yang sudah mulai ditinggalkan oleh anak-anak modern sekarang. Kehadiran tokoh Padang, Bulan, Jembar, dan Kalang juga sebagai salah satu simbol yang terdapat dalam drama ini. Keempat tokoh tersebut menyimbolkan permainan tradisional yang punah punah terkikis dengan modernisasi.
Pada awal adegan 1 sampai 2 Ucok memperlihatkan adegan permainan anak tradisional, khususnya anak Jawa. Hal tersebut terlihat dari adegan saat keempat tokoh bermain tebak-tebakan di malam hari saat bulan purnama.  Selain itu, Ucok juga menyebutkan beberapa permainan tradisional yang sudah mulai punah melalui dialog tokoh Padang ‘Nah, main apa kita sekarang ? Kejar-kejaran? Betengan? Gaprakan ? Tebak-tebakan?’. Kemudian pada adegan 2, Ucok memperkenalkan kebiasaan Aki dan Nini yang bercerita kepada anak-anak sambil menyuguhkan jajanan tradisional, seperti klenyem (seperti dalam drama).
Pada keseluruhan drama, Ucok juga mengenalkan beberapa lagu tradisional sebagai simbol pemusnahan lagu tradisional akibat modernisasi. Lagu tradisional yang digunakan dalam drama ini adalah ‘Padang Bulan’ dan ‘Menthok-menthok’. Lagu ‘Padang Bulan’ menggambarkan kegirangan anak-anak zaman dahulu saat bulan purnama datang dan bermain. Semua anak berkumpul untuk bermain, berbeda dengan anak-anak zaman sekrang yang lebih asyik dengan kecanggihan teknologi. Hal tersebut diakhir drama diibaratkan Ucok dengan berubahnya tokoh Padang, Jembar, dan Kalang menjadi playstation, handphone, dan Buldoser.
Pada adegan ke-3 pergantian latar diawal dengan dialog Aki. Dialog Aki dari balik panggung dan keluarlah tokoh Lugu memperagakan cerita Aki seolah cerita Aki tersebut menjadi nyata dan dapat dinikmati menonton. Pada cerita Aki tersebut, Ucok menyampaikan bahwa modernisasi seperti itulah yang telah mengikis permainan tradisional. Kemewahan membuat anak-anak lupa bahwa ada permainan tradisional yang lebih baik. Keadaan yang berbinar-binar membuat permainan tradisional semakin dilupakan. Anak-anak lebih asik dengan kecanggihan teknologi daripada permainan trasdisional.Ucok juga seakan ingin mengajarkan bahwa dalam permainan tradisional mengajak untuk saling bersosial satu sama lain, saling mengasihi, saling menghargai, dan saling membantu. Sedangkan moderninasi cenderung membuat orang egois serta mementingkan diri sendiri. Hal tersebut tercermin dalam adegan dialog pejabat dan Boss serta Lugu yang meminta-minta malah dicaci oleh Boss dan diusir oleh kamtib.
065. Lugu             : Tidak mau! Saya bukan gelandangan! Saya Lugu ! Saya manusia! Saya bukan binatang!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

METROPOLISME CERPEN “Gerimis Bermata Batu”



METROPOLISME CERPEN “Gerimis Bermata Batu”
Oleh: Zakiah Alif Syakura

Ulasan singkat cerpen “Gerimis Bermata Batu” karya Gunawan Tri Atmodjo:
            Hujan rintik menyaksikan mata sembab seorang ibu dengan darter yang lusuh. Suara anak yang kegirangan melengking menyayat gendang telinganya. Sarju masih ingat hujan tiba-tiba turun di tengah musim kemarau membuat luka yang sangat dalam.
            Siang itu di tengah-tengah bekerja tiba-tiba Sarju mendapat telepon dari istrinya, Lastri. Berita duka bahwa anaknya telah menjadi korban tabrak lari. Sarju bergopoh-gopoh bergegar ke rumah sakit. Sesampainya di sana, nyawa anaknya pun sudah tak dapat ditolong lagi.
            Sarju mengumpulkan semua uang untuk biaya pemakaman yang layak bagi anaknya. Tetapi siapa sangka harga sepetak tanah untuk pemakaman sangat mahal. Bahkan Sarju masih harus merogoh kocek untuk tempat pemakaman di bantaran sungai.
            Sarju tidak menyangka saat dia kembali ke rumah, hujan tiba-tiba turun dengan lebat. Sarju bergegas membawa linggis dan pacul, berlari menerobos pekatnya hujan yang semakin lebat. Di pemekaman, tubuh Sarju seakan hancur seketika saat mengetahui makan anaknya sudah dibabat habis oleh air sungai yang meluap. Sarju menyayangkan mengapa hidup anaknya sangat menyedihkan seperti itu. Hanya karena tak memiliki uang yang cukup, jasat anaknya harus hanyut terbawa sungai yang meluap.
***
Cerpen yang berjudul “Gerimis Bermata Batu” ini adalah karya Gunawan Tri Atmodjo pada Juli 2004 di kota kelahirannya, Solo. Gunawan lahir pada 1 Mei 1982. Pada lahirnya cerpen ini Gunawan masih menempuh kulih di Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS Surakarta.
            Karya sastra baik puisi, drama, cerpen, ataupun karya sastra yang lain memiliki pesan yang ingin disampaikan penciptanya. Dengan menggunakan pendekatan pragmatik, pembaca dapat memperoleh pesan sosial yang ingin disampaikan Gunawan. Pendekatan pragmatik adalah pendekatan yang memandang karya sastra dari segi pembaca.
           

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

ANAK-ANAK TEMBAKAU



ANAK-ANAK TEMBAKAU
Jamal D. Rahman

Oleh: Zakiah Alif Syakura




kepada petani tembakau di Madura

kami anak-anak tembakau
tumbuh di antara anak-anak batu
nafas kami bau kemarau campur cerutu

bila kami saling dekap,
kami berdekapan dengan tangan kemarau
bila kami saling cium,
 kami berciuman dengan bau tembakau

langit desa kami rubuh seribu kali
tapi kami tak pernah menangis
sebab kulit kami tetap coklat
secoklat tanah
tempat kami menggali airmata sendiri

langit desa kami rubuh seribu kali
tapi kami tak pernah menyerah

pada setiap daun tembakau
kami urai urat hidup kami
pada setiap pohon tembakau
kami rangkai serat doa kami

Potret Kehidupan Anak Tembakau dalam Sajak Jamal D. Rahman; “Anak-anak Tembakau”

Kritik esai ini menitik beratkan pada pendekatan mimetik. Istilah mimetik berasal dari bahasa Yunani mimesis yang berarti ‘meniru’,‘tiruan atau ‘perwujudan’. Secara umum mimetik dapat diartikan sebagai suatu pendekatan yang memandang karya sastra sebagai tiruan atau pembayangan dari dunia kehidupan nyata. Mimetik juga dapat diartikan sebagai suatu teori yang dalam metodenya membentuk suatu karya sastra dengan didasarkan pada kenyataan kehidupan sosial yang dialami dan kemudian dikembangkan menjadi suatu karya sastra dengan penambahan skenario yang timbul dari daya imajinasi dan kreatifitas pengarang dalam kehidupan nyata tersebut. Pendekatan lain yang digunakan sebagai pendekatan penunjang adalah pendekatan pragmatik dan ekspresif. Hal tersebut karena untuk dapat mengaitkan karya sastra dengan masyarakat diperlukan pengetahuan tentang latar belakang karya sastra tersebut diciptakan, latar belakang pengarang, dan latar belakang pembaca.
Jamal D. Rahman adalah sastrawan yang lahir di Lenteng Timur, Sumenep, Madura, 14 Desember 1967. Dia adalah alumnus Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura dan kemudian IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dan telah menyelesaikan S2 pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI). Dia terlahir sebagai penulis sajak, esai, kritik sastra, masalah kesenian dan kebudayaan di berbagai media massa. Perjalanan karir Jamal D. Rahman memang lancar. Ia kerap diundang mengikuti acara-acara sastra di dalam luar negeri, antara lain Festival Seni Ipoh III, Negeri Perak, Malaysia (1998), Program Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara bidang Esai di Cisarua, Bogor (1999), Seminar Kritkan Sastra Melayu Serantau, Kuala Lumpur (2001), dan Pertemuan Penulis Asia Tenggara (South-East Asian Writers Meet) di Kuala Lumpur (2001), Festival Poetry on the Road di Bremen, Jerman (2004). Selain itu, sajak-sajaknya juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman dan dimuat dalam berbagai antologi.  Di Indonesia tulisan-tulisannya juga dimuat dalam sejumlah buku, diantaranya Islam dan Tranformasi Sosial-Budaya (1993), Romo Mangun di Mata Para sahabat (1997), tarekat Nurcholishy (2001), dan Ulama Perempuan Indonesia (2002).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Memandang Manusia melalui Dua Cermin: Sebuah Perenungan tentang Orang Malam Karya Sony F.Maulana



Memandang Manusia melalui Dua Cermin:
Sebuah Perenungan tentang Orang Malam Karya Sony F.Maulana
Oleh: Wisnu Bramantyo

             Karya sastra merupakan sebuah jalinan indah makna yang disajikan pada penikmatnya untuk dinikmati dan diuraikan kembali. Baik itu puisi, prosa, maupun drama, karya itu akan menyampaikan suatu pesan tersendiri. Beberapa karya membawa pesan yang langsung dapat dicerna, sementara yang lain menyampaikan pesan-pesan yang lebih tersembunyi. Drama, sebagai suatu bentuk karya sastra yang dapat dinikmati dengan 2 cara (sebagai naskah dan sebagai pementasan), mempunyai sedikit perbedaan. Drama sebagai pementasan akan menuntut penikmat yang memiliki kemampuan lebih dalam mencerna pesannya. Hal ini ialah karena sifatnya sebagai pementasan yang sekejap dan real time memerlukan konsumen yang dapat segera menafsirkan pesan-pesan yang disampaikan. Memang, makna-makna juga dapat digali melalui bedah naskah ataupun diskusi bedah drama (setelah dipentaskan), namun sensasi apresiasi yang didapat tentunya berbeda.
            Orang Malam karya Sony F. Maulana ialah drama yang memiliki dua cermin di dalamnya. Dua pesan besar. Satu akan mudah ditangkap oleh penonton atau pembaca naskah, sedangkan yang satu lagi sedikit tersamar secara filosofis dan memerlukan perenungan sejenak. Drama ini menarik untuk diangkat karena tema sosial seperti yang didengungkan dalam Orang Malam biasanya merupakan inti dari pesan yang ingin disampaikan sebuah karya. Tetapi, hal sebaliknya terjadi dalam drama ini. Sony justru menjadikan plot dan makna sosial ini sebagai pintu gerbang menuju makna yang lebih instropektif dan lebih dalam. Lebih unik lagi, makna, cermin kedua ini juga masih berhubungan erat dengan cermin pertama. Pengungkapan jatidiri cermin ini di akhir drama akan memberikan sebuah kejutan bagi penonton karena dia juga berfungsi sebagai twisted plot. Pengemasan pertunjukan yang bagus akan memfungsikan kedua cermin ini sedemikian rupa, sehingga di akhir pentas penonton akan terpana dan terdiam, berpikir sejenak mengenai esensi drama dan esensi kehidupan itu sendiri.
           

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menyibak Sisi Gelap Jepang melalui Kucing Kiyoko



Menyibak Sisi Gelap Jepang melalui Kucing Kiyoko
Oleh: Wisnu Bramantyo

                Karya sastra selalu menjadi makhluk dunia perbatasan. Di satu sisi ia selalu mengulang pola-pola yang sama, namun dituntut untuk menawarkan sesuatu yang baru. Dia lahir dari individualitas pengarangnya, tapi menjadi konsumsi publik dengan multitafsirnya. Karya sastra juga merupakan hasil mimetisasi langsung dunia sekitar, namun sadar ataupun tak sadar juga mengandung simbol-simbol yang lebih dalam. Inilah yang membuat karya sastra yang unggul menjadi berbeda dengan karya sastra lainnya. Dalam pembacaan sekilas, ia akan menjadi sebuah hiburan. Selanjutnya, saat dibaca dengan lebih dalam, makna simbol-simbolnya akan terungkap lapis demi lapis, hingga menjadi sebuah karya yang memberikan pesan hidup dan perenungan yang penuh arti. Kucing Kiyoko, sebuah cerpen karya Rama Dira J ialah salah satu contoh karya sastra yang berlapis, sebuah karya yang menarik untuk dikupas lebih lanjut.
            Kucing Kiyoko mengisahkan seorang mahasiswa asal Indonesia yang kuliah di Jepang. Suatu saat, ia menemukan seorang kucing di depan flatnya. Kucing tersebut berbelang tiga, montok, terlihat terawat, namun kedinginan dan terluka cukup parah. Mahasiswa tersebut segera memberikannya makanan, susu, dan mengobatinya. Selanjutnya diketahui bahwa kucing tersebut, Takeshi, ialah kucing milik Kiyoko, tetangga flatnya, seorang wanita yang diam-diam dikagumi oleh mahasiswa tersebut. Hubungan mahasiswa tersebut dan Kiyoko dengan cepat terjalin karena faktor Takeshi. Suatu saat, ketika sedang dijamu oleh Kiyoko dengan sukiyaki di flatnya, mahasiswa tersebut menyadari sesuatu: Takeshi hilang. Ketika ia bertanya, Kiyoko menjawab bahwa Takeshi telah menjadi kulit di shamisennya. Lebih menyedihkan lagi, sukiyaki yang baru saja dimakannya juga dari daging Takeshi. Mendengar hal itu, mahasiswa tersebut merasa sangat sedih dan menyadari bahwa Takeshi adalah bagian Kiyoko yang paling ia cintai.
           

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Memandang Bendera Darah dan Air Mata Kami dari Kaleidoskop Sejarah



Memandang Bendera Darah dan Air Mata Kami dari Kaleidoskop Sejarah
Oleh: Wisnu Bramantyo

            Banyak penyair di Indonesia yang kurang mendapat apresiasi sesuai dengan yang pantas didapatkannya. Contohnya pengarang/ penyair seperti Saini KM, Soebagyo Sastrowardoyo, dan Kuntowijoyo yang tidak terlalu banyak diketahui publik biarpun mereka telah berkarya dengan aktif dan menghasilkan karya-karya bermutu, bahkan tidak hanya di dunia puisi saja. Saini khususnya,di samping menulis puisi, ia adalah pengarang esai, drama, prosa, dan buku nonfiksi. Kesetiannya selama hampir 20 tahun dalam membina rubrik ulasan sastra “Pertemuan Kecil” di harian Pikiran Rakyat Bandung telah menumbuhkan bakat-bakat baru dalam dunia sastra Indonesia, khususnya Jawa Barat. Acep Zamzam Noor, Wan Anwar, dan Agus R.Sardjono hanyalah sebagian kecil dari sederet nama sastrawan yang menambatkan karir dan inspirasi-inspirasi awalnya dari ulasan Saini. Walaupun begitu, peran di belakang layar ini dinikmatinya dengan sungguh-sungguh: ia benar-benar mengerti bahwa penyair sejati selalu ada di dalam kesepian, seperti nampak dalam sebuah pesannya untuk para penyair muda.

Berhentilah menulis kalau kau tak rela hidupmu
Jadi sajen di candi dewata yang tak dikenal
Menulislah kalau kau yakin sajakmu menjadi sepi
: Keheningan pertapa saat roh memandang dirinya
               
                Saini menulis puisi sejak masih duduk di bangku kuliah di PTPG (Pendidikan Tinggi Pendidikan Guru, sekarang UPI Bandung). Puisinya pertama kali dimuat dalam majalah Siasat pada tahun 1960. Selanjutnya, salah satu puisinya (Bendera Darah dan Air Mata Kami) juga dimuat di majalah Basis edisi Agustus 1965, sebuah puisi yang menjadi salah satu puisinya yang paling terkenal dan kerap dibacakan dalam berbagai acara.
           

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Nilai Pendidikan dan Moral dalam Dunia Totto-chan



Nilai Pendidikan dan Moral dalam Dunia Totto-chan
Oleh: Widya Uffi Damayanti

“Sekolah seperti apa yang akan kita bangun lagi?” tanyanya kepada putranya, Tomoe, yang berdiri di sampingnya. Tomoe mendengar kata-kata ayahnya, terpana, tak kuasa berkata-kata.
Kecintaan Mr. Kobayashi terhadap anak-anak dan ketulusannya dalam mengajar jauh lebih kuat daripada api yang sekarang membakar sekolahnya. Kepala Sekolah tetap riang (2011:248).

Totto-chan: The Little Girl At The Window ditulis oleh seorang artis Jepang bernama Tetsuko Kuroyanagi dalam bahasa Jepang, kemudian pada tahun 1984 diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Dorothy Britton, dan pada tahun 2008 dialih bahasakan ke dalam bahasa Indonesia oleh Widya Kirana, judul novelnya pun berganti menjadi Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela. Tetsuko Kuroyanagi adalah seorang artis wanita yang paling disegani pada jamannya, dianggap sebagai salah satu selebriti Jepang pertama yang berhasil mendapatkan pengakuan dari dunia internasional. Selain dikagumi karena kegiatan-kegiatan amalnya bersama UNICEF, Tetsuko Kuroyanagi juga seorang penulis buku cerita anak ternama melalui Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela. Bahkan novel Totto-chan ini merupakan bacaan wajib para pendidik di negara Jepang.
Hampir sejalan dengan Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, novel anak Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela juga menceritakan sekelumit kehidupan pengarang ketika masih kecil, persahabatan dengan teman sebayanya, juga pendidikan menarik yang ditempuhnya. Bahkan kedua novel terkenal ini juga sama-sama didedikasikan untuk seorang guru luar biasa, Laskar Pelangi untuk Ibu Muslimah dan Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela untuk seorang Sosaku Kobayashi. Selain kesamaan itu, terdapat pula beberapa perbedaan, misalnya saja jika pada Laskar Pelangi Ibu Muslimah harus memutar otak untuk menyiasati kurangnya sarana pendidikan yang diterima anak didiknya, berbeda dengan Mr. Sosaku Kobayashi yang justru menunjukkan perencanaan pendidikan yang sangat luar biasa dan matang pada jaman itu—jaman meletusnya Perang Dunia II.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Saya dan Ungkapan Batin Si Celurit Emas



Saya dan Ungkapan Batin Si Celurit Emas
Oleh: Widya Uffi Damayanti

Membaca puisi-puisi D. Zawawi Imron sama seperti membaca alam dan budaya bangsa Indonesia, utamanya alam dan kebudayaan Madura. Siapa yang sanggup menjelaskan bahwa penyair yang sangat produktif dalam dunia kesusastraan ini hanyalah orang kampung yang bahkan tidak pernah bergaul dengan dunia intelektual, apalagi bersentuhan dengan wacana dan kebudayaan asing. Menakjubkan memang, tanpa latar belakang pendidikan yang tinggi, Zawawi nyatanya sanggup menghasilkan puluhan puisi indah. Sajak Bulan Tertusuk Ilalang (1982) ciptaannya sanggup memberi inspirasi kepada sutradara Garin Nugroho dalam pembuatan film layar perak dengan judul Bulan Tertusuk Ilalang. Kumpulan sajaknya Nenek Moyangku Airmata (1985) mendapat hadiah sebagai buku puisi yang terbaik dari Yayasan Buku Utama. Bahkan pada tahun 1990 kumpulan sajaknya Celurit Emas terpilih sebagai puisi terbaik oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Juga di tahun 1995, sajaknya Dialog Bukit Kamboja keluar sebagai pemenang pertama dalam Sayembara Nasional Menulis Puisi 50 Tahun Kemerdekaan RI yang diadakan oleh salah satu stasiun swasta.
Kekayaan Zawawi adalah kesetiaan jiwanya pada desa tempat jasadnya dilahirkan dan tinggal—Batang-batang, Madura. Kesetiaan itulah yang membuat Zawawi lebih memilih menggunakan kosakata alam, hal ini terlihat jelas pada puisi-puisi gubahannya yang selalu saja dipenuhi kata-kata alam yang dipermainkan sedemikian rupa. Keindahan kata-kata alam yang dijalin Zawawi dalam puisinya terasa lebih istimewa tatkala butiran kata itu disibak satu-persatu untuk menemukan kata yang tersembunyi dalam kata lain. Dengan artian, puisi Zawawi bukan hanya sekedar menghadirkan nuansa alam namun juga mengandung pesan-pesan kehidupan yang disamarkan, termasuk di dalamnya kumpulan puisi Celurit Emas. Pesan-pesan kehidupan itu tidak nampak memang, tertutup oleh indahnya jalinan kata, namun setidaknya Zawawi telah memberi bocoran bahwa Celurit Emas ini memang mengandung pesan-pesan kehidupan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS