Mahasiswa Offering AA Angkatan 2010 Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

Realita Sosial dalam Puisi Taufik Ismail ‘98

Realita Sosial dalam Puisi Taufik Ismail ‘98
Oleh: Pradicta Nurhuda

’98? Tahun yang dapat diibaratkan sebagai dua sisi mata uang bagi Indonesia. Satu sisi, banyak gejolak sosial yang terjadi pada masa itu. Sisi lain, pada zaman itulah Indonesia mengenal sebutan “REFORMASI.” Tragedi Semanggi, Trisakti, dan penggulingan tahta kepresidenan Presiden Soeharto merupakan sebagian dari banyak tragedi sejarah yang tidak begitu saja lepas dari ingatan masyarakat Indonesia. Sampai-sampai seorang sastrawan kawakan, seperti Taufiq Ismail pun seolah-olah ingin mengabadikan moment  sejarah pada tahun tersebut dengan merangkainya ke dalam kata-bait puisi. Dengan puisi yang bertemakan sosial, kebanyakan bertemakan kemiskinan, kesengsaraan dan kelaparan, secara tidak langsung Taufik mencoba untuk menyindir penguasa yang sedang berkuasa di zaman itu. Tidak hanya periode ’60an saja yang sangat kental dengan puisi-puisi perlawanan mengecam kediktatoran pemerintah, pada waktu itu Taufiq Ismail beraksi lagi dengan rangkaian kalimat puitisnya berbicara tentang apa yang terjadi di tahun 1998. 

Siapa yang tak kenal penyair berkharismatik dengan banyak karya dan penghargaan ini, beliau adalah pendiri majalah Horison. Puisi-puisinya seakan punya roh yang dapat membangkitkan semangat pembacanya. Setelah mempersembahkan kumpulan puisi Manifestasi di tahun 1966 bersama Goenawan Mohamad dan Hartojo Andangjaya, beliau tak pernah absen menghiasi langit sastra Indonesia. Dengan ciri khasnya puisi bebas mirip prosa dengan bertemakan cerita sosial masyarakat yang sebenarnya, pembaca seakan diajak merasakan langsung peristiwa yang terjadi di zaman itu. Terlebih di tahun ’98 dengan persembahan kumpulan puisinya, seakan semakin memanaskan suasana yang terjadi pada zaman itu. Puisi-puisi seperti, Bayi Lahir di Bulan Mei 98, Ketika Sebagai Kakek di Tahun 2040, Miskin Desa, Miskin Kota dan Seratus Juta merupakan beberapa puisi yang tak pernah berhenti memenuhi halaman majalah-majalah sastra pada zaman itu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

ANAK-ANAK TEMBAKAU



ANAK-ANAK TEMBAKAU
Jamal D. Rahman

Oleh: Zakiah Alif Syakura




kepada petani tembakau di Madura

kami anak-anak tembakau
tumbuh di antara anak-anak batu
nafas kami bau kemarau campur cerutu

bila kami saling dekap,
kami berdekapan dengan tangan kemarau
bila kami saling cium,
 kami berciuman dengan bau tembakau

langit desa kami rubuh seribu kali
tapi kami tak pernah menangis
sebab kulit kami tetap coklat
secoklat tanah
tempat kami menggali airmata sendiri

langit desa kami rubuh seribu kali
tapi kami tak pernah menyerah

pada setiap daun tembakau
kami urai urat hidup kami
pada setiap pohon tembakau
kami rangkai serat doa kami

Potret Kehidupan Anak Tembakau dalam Sajak Jamal D. Rahman; “Anak-anak Tembakau”

Kritik esai ini menitik beratkan pada pendekatan mimetik. Istilah mimetik berasal dari bahasa Yunani mimesis yang berarti ‘meniru’,‘tiruan atau ‘perwujudan’. Secara umum mimetik dapat diartikan sebagai suatu pendekatan yang memandang karya sastra sebagai tiruan atau pembayangan dari dunia kehidupan nyata. Mimetik juga dapat diartikan sebagai suatu teori yang dalam metodenya membentuk suatu karya sastra dengan didasarkan pada kenyataan kehidupan sosial yang dialami dan kemudian dikembangkan menjadi suatu karya sastra dengan penambahan skenario yang timbul dari daya imajinasi dan kreatifitas pengarang dalam kehidupan nyata tersebut. Pendekatan lain yang digunakan sebagai pendekatan penunjang adalah pendekatan pragmatik dan ekspresif. Hal tersebut karena untuk dapat mengaitkan karya sastra dengan masyarakat diperlukan pengetahuan tentang latar belakang karya sastra tersebut diciptakan, latar belakang pengarang, dan latar belakang pembaca.
Jamal D. Rahman adalah sastrawan yang lahir di Lenteng Timur, Sumenep, Madura, 14 Desember 1967. Dia adalah alumnus Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura dan kemudian IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dan telah menyelesaikan S2 pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI). Dia terlahir sebagai penulis sajak, esai, kritik sastra, masalah kesenian dan kebudayaan di berbagai media massa. Perjalanan karir Jamal D. Rahman memang lancar. Ia kerap diundang mengikuti acara-acara sastra di dalam luar negeri, antara lain Festival Seni Ipoh III, Negeri Perak, Malaysia (1998), Program Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara bidang Esai di Cisarua, Bogor (1999), Seminar Kritkan Sastra Melayu Serantau, Kuala Lumpur (2001), dan Pertemuan Penulis Asia Tenggara (South-East Asian Writers Meet) di Kuala Lumpur (2001), Festival Poetry on the Road di Bremen, Jerman (2004). Selain itu, sajak-sajaknya juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman dan dimuat dalam berbagai antologi.  Di Indonesia tulisan-tulisannya juga dimuat dalam sejumlah buku, diantaranya Islam dan Tranformasi Sosial-Budaya (1993), Romo Mangun di Mata Para sahabat (1997), tarekat Nurcholishy (2001), dan Ulama Perempuan Indonesia (2002).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Memandang Bendera Darah dan Air Mata Kami dari Kaleidoskop Sejarah



Memandang Bendera Darah dan Air Mata Kami dari Kaleidoskop Sejarah
Oleh: Wisnu Bramantyo

            Banyak penyair di Indonesia yang kurang mendapat apresiasi sesuai dengan yang pantas didapatkannya. Contohnya pengarang/ penyair seperti Saini KM, Soebagyo Sastrowardoyo, dan Kuntowijoyo yang tidak terlalu banyak diketahui publik biarpun mereka telah berkarya dengan aktif dan menghasilkan karya-karya bermutu, bahkan tidak hanya di dunia puisi saja. Saini khususnya,di samping menulis puisi, ia adalah pengarang esai, drama, prosa, dan buku nonfiksi. Kesetiannya selama hampir 20 tahun dalam membina rubrik ulasan sastra “Pertemuan Kecil” di harian Pikiran Rakyat Bandung telah menumbuhkan bakat-bakat baru dalam dunia sastra Indonesia, khususnya Jawa Barat. Acep Zamzam Noor, Wan Anwar, dan Agus R.Sardjono hanyalah sebagian kecil dari sederet nama sastrawan yang menambatkan karir dan inspirasi-inspirasi awalnya dari ulasan Saini. Walaupun begitu, peran di belakang layar ini dinikmatinya dengan sungguh-sungguh: ia benar-benar mengerti bahwa penyair sejati selalu ada di dalam kesepian, seperti nampak dalam sebuah pesannya untuk para penyair muda.

Berhentilah menulis kalau kau tak rela hidupmu
Jadi sajen di candi dewata yang tak dikenal
Menulislah kalau kau yakin sajakmu menjadi sepi
: Keheningan pertapa saat roh memandang dirinya
               
                Saini menulis puisi sejak masih duduk di bangku kuliah di PTPG (Pendidikan Tinggi Pendidikan Guru, sekarang UPI Bandung). Puisinya pertama kali dimuat dalam majalah Siasat pada tahun 1960. Selanjutnya, salah satu puisinya (Bendera Darah dan Air Mata Kami) juga dimuat di majalah Basis edisi Agustus 1965, sebuah puisi yang menjadi salah satu puisinya yang paling terkenal dan kerap dibacakan dalam berbagai acara.
           

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Saya dan Ungkapan Batin Si Celurit Emas



Saya dan Ungkapan Batin Si Celurit Emas
Oleh: Widya Uffi Damayanti

Membaca puisi-puisi D. Zawawi Imron sama seperti membaca alam dan budaya bangsa Indonesia, utamanya alam dan kebudayaan Madura. Siapa yang sanggup menjelaskan bahwa penyair yang sangat produktif dalam dunia kesusastraan ini hanyalah orang kampung yang bahkan tidak pernah bergaul dengan dunia intelektual, apalagi bersentuhan dengan wacana dan kebudayaan asing. Menakjubkan memang, tanpa latar belakang pendidikan yang tinggi, Zawawi nyatanya sanggup menghasilkan puluhan puisi indah. Sajak Bulan Tertusuk Ilalang (1982) ciptaannya sanggup memberi inspirasi kepada sutradara Garin Nugroho dalam pembuatan film layar perak dengan judul Bulan Tertusuk Ilalang. Kumpulan sajaknya Nenek Moyangku Airmata (1985) mendapat hadiah sebagai buku puisi yang terbaik dari Yayasan Buku Utama. Bahkan pada tahun 1990 kumpulan sajaknya Celurit Emas terpilih sebagai puisi terbaik oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Juga di tahun 1995, sajaknya Dialog Bukit Kamboja keluar sebagai pemenang pertama dalam Sayembara Nasional Menulis Puisi 50 Tahun Kemerdekaan RI yang diadakan oleh salah satu stasiun swasta.
Kekayaan Zawawi adalah kesetiaan jiwanya pada desa tempat jasadnya dilahirkan dan tinggal—Batang-batang, Madura. Kesetiaan itulah yang membuat Zawawi lebih memilih menggunakan kosakata alam, hal ini terlihat jelas pada puisi-puisi gubahannya yang selalu saja dipenuhi kata-kata alam yang dipermainkan sedemikian rupa. Keindahan kata-kata alam yang dijalin Zawawi dalam puisinya terasa lebih istimewa tatkala butiran kata itu disibak satu-persatu untuk menemukan kata yang tersembunyi dalam kata lain. Dengan artian, puisi Zawawi bukan hanya sekedar menghadirkan nuansa alam namun juga mengandung pesan-pesan kehidupan yang disamarkan, termasuk di dalamnya kumpulan puisi Celurit Emas. Pesan-pesan kehidupan itu tidak nampak memang, tertutup oleh indahnya jalinan kata, namun setidaknya Zawawi telah memberi bocoran bahwa Celurit Emas ini memang mengandung pesan-pesan kehidupan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

DEMOKRASI IDEAL ALA AGUS R. SARJONO DALAM SAJAK “DEMOKRASI DUNIA KETIGA”



DEMOKRASI IDEAL ALA AGUS R. SARJONO
DALAM SAJAK “DEMOKRASI DUNIA KETIGA”
Oleh: Silka Yuanti Draditaswari



Kalian harus demokratis.
Baik, tapi jauhkan tinju yang kau kepalkan itu dari pelipisku            
bukankah engkau tahu.
Tutup mulut!
Soal tinjuku mau kukepalkan,                                                                        
kusimpan di saku atau kutonjokkan ke hidungmu,
tentu sepenuhnya terserah padaku.
Pokoknya kamu harus demokratis.
Lagi pula kita tidak sedang bicara soal aku,
tapi soal kamu yaitu kamu harus demokratis!                                                
Tentu saja
saya setuju, bukankah selama ini saya telah mencoba.
Sudahlah!
Kami tak mau dengar apa alasannya
Tak perlu berkilah dan buang waktu.                                                            
Aku perintahkan kamu untuk demokratis, habis perkara!
Ingat gerombolan demokrasi yang kami galang akan melindasmu habis.    
Jadi jangan macam-macam
Yang penting kamu harus demokratis.
Awas kalau tidak!                                                                                           

            Puisi di atas merupakan salah satu puisi Agus R. Sarjono yang dimuat di Tangan Besi, Antologi Puisi Reformasi. Tangan Besi, Antologi Puisi Reformasi merupakan antologi puisi dari beberapa pengarang seperti WS. Rendra, Acep Zamzam Noor, Ahda Imran, Beni R. Budiman, Cecep Syamsul Hari, Diro Aritonang, Eriyandi Budiman, Juniarso Ridwan, Muhammad Ridlo ‘Eisy, Nenden Lilis A., Sonni Farid Maulana, Yessi Anwar, dan Agus R. Sarjono (Rendra, 2005). Demokrasi Dunia Ketiga merupakan puisi yang terlahir pada tahun 1998, dimana tahun tersebut alm. Bapak Soeharto masih menjabat menjadi Presiden RI. Puisi di atas adalah salah satu puisi yang blak-blakan, sesuai dengan gaya penulisan Agus R. Sarjono yang blak-blakan. Mengapa Agus R. Sarjono menulis puisi seperti tersebut? Semasa kuliahnya di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni IKIP Bandung, Agus R. Sarjono terlibat aktif dalam kelompok Diskusi Lingkar yang mendiskusikan berbagai isu sosial, politik, budaya, dan ekonomi pada masa Orde Baru (Wikipedia, 2011). Maka tidak heran jika sisi “pemberontak” dapat dilihat dari puisi Demokrasi Dunia Ketiga ini. Lihat saja Sajak Palsu, Di Sebuah Restoran Indonesia Juni 1998, Air Mata Hujan, dan lain sebagainya. Anda akan menemukan keliaran Agus dalam menyampaikan kritik sosialnya secara dramatis di baris ke baris. Bagaimana Agus menuliskan keliarannya itu dalam puisi Demokrasi Dunia Ketiga? Berikut akan diuraikan bagian per bagian dari puisi tersebut.
           

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SEKILAS TENTANG KEMBANG TANJUNG DALAM SAJAK SONI FARID MAULANA



SEKILAS TENTANG KEMBANG TANJUNG DALAM SAJAK SONI FARID MAULANA
Oleh: Marinda Agustina
 
Soni farid maulana adalah seorang penyair yang telah banyak menghasilkan sajak-sajak bertema variatif. Banyak sekali kita temui sajak-sajak bertemakan sosial, religius maupun yang bertemakan tentang cinta. Soni juga aktif menulis puisi, esai, prosa, dan laporan jurnalistik di Harian Umum Pikiran Rakyat. Puisi-puisi yang dibuatnya bukan hanya berbahasa Indonesia, tapi juga berbahasa Sunda. Sebagai penyair, Soni pernah membacakan sejumlah puisinya di berbagai acara, yakni South East Asian Writers Conference di Filipina (1990), Festival de Winternachten di Belanda (1999), Puisi Internasional Indonesia di Bandung (2002), International Literature Biennale 2005: Living Together di Bandung, dan sejumlah acara lainnya yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta di Taman Ismail Marzuki.
Soni Farid Maulana merupakan penyair yang produktif menghasilkan karya-karya yang kreatif, meskipun ia tak setenar Chairil Anwar ataupun penyair-penyair lainnya. Penyair ini telah mengembara melewati perjalanan yang jauh hingga menghasilkan tema-tema yang estetis dalam sajak-sajaknya. Sajak-sajak Soni Farid Maulana yang sudah banyak bertebaran dan telah banyak dibukukan membuktikan bahwa ia adalah salah seorang pengarang yang produktif dalam menghasilkan karya sastranya. Banyak puisi-puisi sarat makna yang telah lahir dari jari-jari kreatifnya. Ia telah mampu menemukan bahasanya sendiri dalam upaya penyampaian pesan atas sajak-sajak yang telah ia tulis kepada para pembacanya.
Sajak-sajak yang telah ditulis Soni mampu memberikan warna yang berbeda pada khasanah kesusastraan di Indonesia. Dalam tulisan ini, saya akan mengulas sedikit tentang sajak religius Soni Farid Maulana yang berbicara tentang pergolakan batin seseorang saat akan menghadapi kematian. Sajaknya yang berjudul “Kembang Tanjung” menggambarkan tentang ketakutan seseorang menghadapi ajal saat dalam keadaan sendiri dan kesepian. Berikut ini adalah sajak berjudul “Kembang Tanjung” yang saya maksud:

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Wajah Pertiwi dalam Puisi Safari Nur Zaman “Hilangnya Wajah-Wajah”

Wajah Pertiwi dalam Puisi Safari Nur Zaman
“Hilangnya Wajah-Wajah
                 Oleh: Lailinda Nurjanah

Usaha memboyong sebuah sajak, tidak lepas dari sebuah imaji yang beragam. Bisa melalui penyajian sebuah sajak yang beragam pula, dan semuanya akan bermula pada sebuah wajah. Wajah puisi yang akan menjawab batin puisi. Kemudian berlanjut pada batin puisi yang akan terangkum dan bersembunyi pada lahan yang lebih sempit lagi. Bahasa. Kata. Bisa-bisa melalui wajah puisi yang berimaji dan kode-kode bahasa itu, pembaca tidak perlu mencari repotase kabar kesialan orang-orang di koran pagi dan berpikir apa yang dapat direnungkan? Demikianlah bahasa figuratif dalam sajak “Hilangnya Wajah-wajah” milik Safari Nur Zaman, akan menjawab pertanyaan tersebut. Mungkin bukan kesialan yang secara struktural saja dapat dilaporkan tetapi juga renungan yang masih bersembunyi di balik bahasa figuratifnya.
Melihat wajah puisi Safari seakan-akan melihat wajah pertiwi saat ini. Kondisi wajah pertiwi digambarkan oleh Safari melalui “seorang anak” yang menjadi tokoh aktif dan “bapak” sebagai tokoh pasif. Dari simbol tokoh tersebutlah dapat dipahami jika perwakilan seorang anak ini merupakan simbol dari anak-anak bangsa Indonesia.
Judul yang diangkat dalam puisi ini merupakan kisah dari tokoh tersebut, yakni “Hilangnya Wajah-wajah”. Wajah-wajah disini mengarah pada putra-putri Indonesia yang diwakilkan oleh tokoh “seorang anak”. Memang beragam permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia salah satunya adalah masalah sosial. Jika Sumarsono (2012: 5) mengatakan bahwa sosiologi mencampuri urusan hubungan antar anggota, struktur hingga peraturan-peraturan yang berlaku. Demikian juga dalam puisi ini, yakni masalah hubungan antara masyarakat dengan pemerintah, putra-putri Indonesia dengan peraturan-peraturan yang berlaku atau yang belum diberlakukan berdasarkan peraturan perundangan yang seharusnya menjadi petunjuk atau arah untuk menyelesaikan permasalahan seadil-adilnya. Sehingga dalam puisi ini pengarang lebih memaparkan tentang tokoh yang terlantar atau dilantarkan oleh pertiwi sebagai negaranya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pesan Moral dari Pinggir Sriwedari, Telaah Puisi berjudul “Pesan” karya Sapardi Djoko Damono



Pesan Moral dari Pinggir Sriwedari,
Telaah Puisi berjudul “Pesan” karya Sapardi Djoko Damono
  
Oleh: Johan Slamet Raharjo

Sebuah karya sastra merupakan suatu bangunan megah yang tersuguhkan dari kreasi seorang sastrawan. Sebuah bangunan megah yang berisi berbagai hal yang dapat menguak berbagai rahasia kehidupan. Sebelum kita masuk kedalam bangunan  megah, maka harus melewati gerbang tertutup. Apabila seseorang memegang atau  memiliki kunci, maka dengan  leluasa akan mampu memasuki serta mengetahui isi yang terkandung dalam bangunan megah tersebut.
            Inilah agaknya sebuah pesan sederhana yang saya tangkap ketika pertama kali membaca dari puisi berjudul “Pesan”  karya Prof Dr Sapardi Djoko Damono. Pria kelahiran Solo, Jawa Tengah  pada 20 Maret 1940 , yang pernah mengaku  tak pernah berencana menjadi seorang penyair, karena dia berkenalan dengan puisi secara tidak disengaja. Sejak masih belia putra Sadyoko dan Sapariyah itu, sering membenamkan diri dalam tulisan-tulisannya. Seorang sastrawan yang memberi sumbangan besar kepada kebudayaan masyarakat modern di Indonesia.
Pesan
Tolong sampaikan kepada abangku, Raden Sumantri, bahwa memang kebetulan jantungku tertembus anak panahnya.
Kami saling mencinta, dan antara disengaja dan tidak disengaja sama sekali tidak ada pembatasnya.
Kalau kau bertemu dengannya, tolong sampaikan bahwa aku tidak menaruh dendam padanya, dan nanti apabila perang itu tiba, aku hanya akan …..
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982
 “Pesan” merupakan sebuah puisi yang lahir sebuah budaya yang telah mengakar pada masyarakat Jawa pada umumnya. Untuk memasuki sebuah  pintu  dimensi yang berlabel budaya maka diperlukan suatu kunci pembuka yang berlabel sama. Jika tidak,  ibarat meneguk segelas teh hangat namun tidak mampu  menikmati  kedalaman  rasanya. Bila diperhatikan dengan saksama pada bait pertama terdapat gerbang dilengkapi kunci yaitu sebuah  kode budaya.
Sukasrana dan Raden Sumantri 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Nuansa Sosial dan Religiusitas dalam Kumpulan Puisi Lautan Jilbab karya Emha Ainun Nadjib



Nuansa Sosial dan Religiusitas dalam Kumpulan Puisi Lautan Jilbab
karya Emha Ainun Nadjib

Oleh: Fryskatana Wira


Pada sejumlah kumpulan puisi karya Emha Ainun Nadjib memang tak lepas dari nuansa islami di setiap larik maupun baitnya, selain itu kumpulan puisinya juga bernuansa sosial yang dimunculkan secara tersirat maupun tersurat. Pada pandangan-pandangan Emha banyak memberikan pendidikan kepada masyarakat untuk menjalankan agama bukan hanya sebagai ritual, tetapi harus termanifestasi dalam sikap sosial. Pada kritik ini pendekatan yang digunakan ialah pendekatan ekspresif, dimana pendekatan yang menfokuskan perhatiannya pada sastrawan sebagai pencipta atau pengarang karya sastra, sehingga pada kritik ini akan mengulas tentang sosok Emha Aiun Nadjib dengan karya-karyanya yang sangat kental dengan nuansa islami serta sosial. Pada kritik ini juga akan mengulas bagaimana proses kreatif penyair terhadap penciptaan sebuah puisi-puisi dalam kumpulan puisi Lautan Jilbab.
            Karya sastra tidak akan lahir pada keadaan kosong. Karya sastra lahir karena adanya sang pengarang atau penyair. Terciptanya sebuah karya sastra dapat dilihat dari seluk beluk pengarang atau pun biografi pengarang atau kepribadian pengarang tersebut. Biografi di sini akan sangat membantu sebab, dengan adanya biografi kita akan dapat mempelajarari kehidupan seseorang. Di situlah kita akan mempelajari sikap atau perilaku seorang pengarang. Biografi dapat dianggap sebagai pembelajaran yang sistematis tentang proses keatif penciptaan karya sastra yang sebenarnya.
Emha Ainun Nadjib yang lebih akrab dengan panggilan Cak Nun merupakan budayawan dan intelektual muslim asal Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953. Cak Nun yang ketika masih muda dipanggila Ainun dibesarkan orang tuanya yang sibuk oleh urusan madrasah, langgar, dan berbagai kegiatan sosial dengan penduduk di dusunnya. Dalam kesehariannya, Emha terjun  langsung di masyarakat dan melalukan aktivitas-aktivitas yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik guna menumbuhkan pontensialitas rakyat.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Alunan Resonansi Religius dan Sosial dalam Sajak-Sajak AYH



Alunan Resonansi Religius dan Sosial dalam Sajak-Sajak AYH
Oleh: Elok Kholidiyah


            Alunan sastra Indonesia di negeri ini  sejak dulu memang sudah memberikan resonansi pada semua pencipta dan pecinta karya sastra. Salah satunya para sastrawan di Indonesia yang sudah  terkena gema atau getaran akibat karya sastra angkatan sebelumnya. Hal ini dikarenakan karya sastra tidak pernah tercipta dalam keadaan kosong, terciptanya karya sastra selalu memiliki pengaruh dari proses penciptaanya. Karya sastra yang sudah ada sebelumnya memberikan pandangan bagi sastrawan penerusnya dan pembacanya. Sudah diketahui sebelumnya bahwa karya sastra angkatan terbaru yaitu angkatan 2000-an. Banyak karya sastra yang dihasilkan oleh sastrawan-sastrawa yang muncul pada angkatan 2000-an ini. Korrie Layun Rampan (2000) juga pernah mengumumkan adanya angkatan 2000 sastra Indonesia dalam buku Angkatan 2000. Sastrwan-sastrwan angkatan 2000-an  yang berperan tersebut diantaranya Ahmadun Yosi Herfanda, Agus Sarjono, Wiji Tukul, Jamal D. Rahman, dan lain-lainya.
Sastrawan-sastrawan angkatan 2000-an ini sudah dan banyak melahirkan karya sastra baik cerpen maupun puisi dengan rasa yang berbeda dan aroma pembaruan. Salah satun aroma yang dapat dirasakan yaitu  pada  karya sastra  puisinya. Struktur isi puisi yang menonjol pada angkatan 2000-an dapat terlihat dalam karaterisktik puisi angkatan tersebut  yaitu  tema yang diangkat menyangkut seluruh aspek kehidupan, puisi-puisi profetik (keagamaan) dengan cenderung menciptakan penggambaran yang lebih konkret melalui alam, rumputan atau daun-daun dan aroma kritik sosial juga masih muncul dengan lebih keras karena orde baru dan ketidakmenentuan situasi di tahun 2000-an. Karakterisik isi puisi angkatan tersebut sangat terlihat pada sajak-sajak yang diciptakan beberapa sastrawan pada periode tersebut. Oleh karena itu wajar jika gerombolan sastrawan angkatan 2000-an puisinya bernuansa sosial mapun religi. Salah satu sastrawan angkatan 2000-an yang puisinya terlihat beraliran atau bernuansa sosial dan religi  yaitu Ahmadun Yosi Herfanda.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

REFLEKSI DIRI ACEP ZAM-ZAM NOOR DALAM SAJAK-SAJAKNYA



REFLEKSI DIRI ACEP ZAM-ZAM NOOR DALAM SAJAK-SAJAKNYA
Oleh: Dwi Sastra Nurrokma

            Acep Zam-zam Noor, seorang penyair yang lahir di Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat. Acep dilahirkan dan dibesarkan di pondok pesantren, Meskipun dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan pesantren, Acep ternyata tidak mengikuti jejak ayahnya..Acep lebih memilih jalur kesenian sebagai jalan hidupnya. Akan tetapi, mau tidak mau nuansa keislaman dalam karya-karyanya sangat terasa.
            Nuansa keislaman dalam sajak-sajak Acep sangat dominan. Di ramu dengan pilihan kata yang menggambarkan akan kecintaannya pada alam, sajak goresan tangan Acep semakin menunjukkan jati diri Acep yang sebenarnya dengan kesederhanaan yang kental.

Cipasung

Di lengkung alis matamu sawah-sawah menguning
Seperti rambutku padi-padi semakin merundukkan diri
Dengan ketam kupanen terus kesabaran hatimu
Cangkulku iman dan sajadahku lumpur yang kental
Langit yang menguji ibadahku meneteskan cahaya redup
Dan surauku terbakar kesunyian yang dinyalakan rindu

Aku semakin mendekat pada kepunahan yang disimpan bumi
Pada lahan-lahan kepedihan masih kutanam bijian hari
Segala tumbuhan dan pohonan membuahkan pahala segar
Bagi pagar-pagar bambu yang dibangun keimananku
Mendekatlah padaku dan dengarkan kasidah ikan-ikan
Kini hatiku kolam yang menyimpan kemurnianmu



Hari esok adalah perjalananku sebagai petani
Membuka ladang-ladang amal dalam belantara yang pekat
Pahamilah jalan ketiadaan yang semakin ada ini
Dunia telah lama kutimbang dan berulang kuhancurkan
Tanpa ketam masih ingin kupanen kesabaranmu yang lain
Atas sajadah lumpur aku tersungkur dan terkubur

1989

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Rekaman Fenomena Sosio-Politik melalui Puisi Persetujuan dengan Bung Karno Karya Chairil Anwar



Rekaman Fenomena Sosio-Politik
melalui Puisi Persetujuan dengan Bung Karno Karya Chairil Anwar
Oleh: Anjar Aprilia Kristanti

           
Pendahuluan

            Karya sastra merupakan suatu produk perekam yang memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan sosial. Meskipun karya sastra merupakan karya individual penulis, akan tetapi tetap tidak bisa dipisahkan dengan pengaruh sosial disekitarnya, karena penulis karya juga merupakan salah satu anggota sosial kemasyarakatan yang memiliki peran sendiri-sendiri dalam kehidupannya. Heri (2010:73) menyatakan bahwa sastra merupakan pemaduan antara imajinasi pengarang atau hasil imajinasi pengarang yang bertolak dari kenyataan. Agar penemuan pola-pola kehidupan sosial dapat mendekati kehidupan sosial yang sebenarnya, diperlukan pemahaman terhadap kehidupan sosial yang melatari terciptanya karya sastra. Setelah memahami latar sosial terciptanya suatu karya dan menghubungkannya dengan karya tersebut, maka akan diketahui cara pandang penulis menyikapi peristiwa sosial tersebut. Damono (1978:4) menambahkan bahwa jika terdapat dua orang penulis menulis tentang suatu masyarakat yang sama, hasilnya cenderung berbeda sebab cara-cara manusia menghayati masyarakat dengan perasaanya itu berbeda-beda menurut pandangannya masing-masing. Maka jelaslah penulis sebagai memiliki peran dalam masyarakat tersebut tentu memiliki sikap yang berbeda-beda mengenai suatu fenomena.
            Begitu juga puisi Chairil Anwar yang tak ketinggalan untuk merekam fenomena sosial di dalamnya. Periode tahun dikenalnya Chairil Anwar merupakan periode dengan banyak fenomena penting yang terjadi di Indonesia. Setelah runtuhnya penjajahan Belanda, terjadi revolusi yang dipimpin oleh presiden Soekarno dalam rangka mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diraih oleh Indonesia pada tahun 1945. Selain pergolakan politik yang dirasakan Chairil Anwar, beliau juga merasakan pergolakan sastra Indonesia yang dipelopori oleh dirinya sendiri. Chairil Anwar menjadi pelopor zaman baru yang mendobrak sistem dan konvensi lama. Bentuk-bentuk puisi yg begitu ekspresif, liar, berani, dan tak beraturan dipelopori oleh Chairil Anwar pada periode 45. Chairil Anwar yang  ketika itu berusia 25 tahun dan memilliki jiwa patriotismenya sedang menggebu-gebu mendukung presiden Soekarno yang berusaha mengatasi polemik politik antara PKI dan Pemerintah, para seminan termasuk Chairil Anwar yg mencintai akan syarat kebebasan dalam menumpahkan segala  ekspresinya tertulis pada puisi ciptaannya. Memang hanyalah hal tersebut yang dilakukan para sastrawan-sastrawan penulis menyikapi fenomena sosial yang terjadi, menuliskannya dalam sebuah karya. Bukan tidak peduli dan tidak membela maupun menolak dengan lantang, melainkan memang itulah bagian atau peran sastrawan masa itu dalam menyikapi suatu hal, karena menurut mereka melalui tulisan juga bisa mempengaruhi kehidupan sosial.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MAKNA PUISI CINTAKU JAUH DI PULAU KARYA CHAIRIL ANWAR



MAKNA  PUISI CINTAKU JAUH DI PULAU KARYA CHAIRIL ANWAR
Oleh: Agustin Marta Suwandari
Tentang Chairil Anwar
            Chairil Anwar adalah seorang penyair legendaris yang dikenal juga sebagai “Si Binatang Jalang” dalam karyanya berjudul “Aku”. Beliau meninggal karena penyakit TBC di Jakarta, 28 April 1949. Dilahirkan di Medan, 26 Julai 1922. Chairil Anwar merupakan anak tunggal. Ayahnya bernama Toeloes, mantan bupati Kabupaten Indragiri Riau, berasal dari Taeh Baruah, Limapuluh Kota, Sumatra Barat. Sedangkan ibunya Saleha, berasal dari Situjuh, Limapuluh Kota. Dia masih punya pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Ibu bapaknya bercerai, dan bapaknya menikah lagi. Selepas perceraian itu, setelah tamat SMA, Chairil mengikut ibunya ke Jakarta. Chairil masuk sekolah Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi waktu masa penjajahan Belanda. Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), sekolah menengah pertama Hindia Belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus. Dia mulai untuk menulis sebagai seorang remaja tetapi tak satupun puisi awalnya yang ditemukan.
Pada usia sembilan belas tahun, setelah perceraian orang-tuanya, Chairil pindah dengan ibunya ke Jakarta di mana dia berkenalan dengan dunia sastra. Meskipun pendidikannya tak selesai, Chairil menguasai bahasa Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Jerman, dan dia mengisi jam-jamnya dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama, seperti: Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron. Penulis-penulis ini sangat mempengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung mempengaruhi puisi tatanan kesusasteraan Indonesia. Semasa kecil di Medan, Chairil sangat dekat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil. Hidupnya jarang sekali dirundung duka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa menyebut nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya. Sejak kecil, semangat Chairil terkenal kedegilannya. Seorang teman dekatnya Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan keinginan hatinya. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KESEDERHANAAN DAN MITOS DALAM SAJAK-SAJAK SAPARDI DJOKO DAMONO



KESEDERHANAAN DAN MITOS DALAM SAJAK-SAJAK SAPARDI DJOKO DAMONO
Oleh: Windy Tiarasari Budiono

            Sapardi Djoko Damono telah membuktikan kembali bahwa ia bukanlah penyair ide. Dia tak menggunakan kata-kata abstrak dan besar, tetapi ia justru menggunakan kata-kata yang cenderung sederhana dalam sajak-sajaknya. Sapardi seolah tahu bahwa peranan mitos di dalam puisi itu adalah penting.
            Kata-kata yang sederhana sering ia gunakan untuk menyampaikna gambaran puitisnya dalam sajak-sajaknya. Namun, walaupun ia menggunakan ungkapan sederhana dalam puisi, tak identic bahwa penyairnya juga sederhana. Kesanggupan untuk memakai kata-kata sederhana itu menunjukkan bahwa Sapardi menghargai dan menghormati kata-kata. Puisi-puisi yang “hebat”, lazimnya memakai kata-kata yang nustru sederhana. Dengan sentuhan tangan penyair yang hebat, kata-kata sederhana menjelma menjadi puisi yang hebat pula.
            Sapardi juga sangat pintar dalam mendayagunakan teknik penulisan puisi. Dengan teknik berpuisinya yang sudah matang, kata-kata sederhana itupun punya mempunyai tenaga keindahan yang khas yang dimiliki oleh Sapardi Djoko Damono. Salah satu tugas penyair memang memberi tenaga dan jiwa pada kata-kata agar puisi itu memiliki jiwa dalam tiap kata-katanya. Contohnya pada puisi dibawah ini:

AKULAH SI TELAGA
akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang
menggerakkan bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana. tinggalkan begitu saja —
perahumu biar aku yang menjaganya


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Semangat Kebangsaan dalam Sajak ‘Diponegoro’ karya Chairil Anwar



Semangat Kebangsaan dalam Sajak ‘Diponegoro’ karya Chairil Anwar
Oleh: Wanda Satria Dewanty

Pembukaan
Indonesia adalah negeri yang telah mengikrarkan kemerdekaannya lebih dari setengah abad setelah berabad-abad lamanya berada dalam kungkungan penjajah. Perjuangan pahlawan yang berjiwa besar demi tanah airnya dengan semangat yang membara telah membuat Indonesia akhirnya kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Ironisnya kemerdekaan yang telah diperoleh tidak lantas membuat para generasi muda merasa bangga dengan status tersebut. Pemuda saat ini berbeda dengan pemuda terdahulu yang sangat menghargai hakikat kemerdekaan. Bercermin dari seorang sastrawan Chairil Anwar dalam puisinya Diponegoro, kita diajak untuk berkontemplasi tentang hakikat sebuah perjuangan meraih kemerdekaan yang hendaknya dipahami oleh rakyat Indonesia masa kini sebagai inspirasi dalam mengisi kemerdekaan.
Chairil adalah penyair Angkatan 45, dilahirkan di Medan, 26 Juli 1922, dari dua orangtua yang keduanya berasal dari Payakumbuh, memiliki kakak perempuan bernama Chairani. Mula-mula ia sekolah di Neutrale HIS Medan, kemudian di MULO Medan juga, voorklas dan kelas satu. Kemudian ia pindah ke Jakarta tahun 1941 disusul ibunya, karena ada hal-hal kekeluargaan sekolahnya tidak lanjut. Chairil mulai dikenal sebagai sastrawan dalam tahun 1943, beberapa bulan setelah Jepang mendarat di Indonesia. Sajak-sajak Chairil bersifat individualistis, cenderung pada pemikiran kemasyarakatan dan ketuhanan. Kebanyakan sajak-sajaknya di masa Jepang bernafaskan pemberontakan terhadap penindasan yang tergambar dalam sajaknya “Aku” dan “Diponegoro”. Penyair angkatan 45 banyak diekspresikan aliran Realisme dan Ekspresionisme. Pada puisinya ‘Diponegoro’ semangat kebangsaan melekat dalam diri Chairil yang sudah aktif berpuisi pada zaman revolusi ketika bangsa Indonesia berusaha merebut dan mempertahankan kemerdekaannya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dua Cermin dalam Sajak Angin karya Bakdi Soemanto



Dua Cermin dalam Sajak Angin karya Bakdi Soemanto
Oleh: Sera Senggani
 
Sajak-sajak bernuansa alam yang indah amat lekat pada sajak yang lahir pada masa pujangga baru. Namun pada era Chairil Anwar semua konvensi lama tersebut dirombak. Gambaran alam yang indah berubah menjadi alam yang mengerikan. Setelah tiga puluh tahun kemudian, Bakdi Soemanto memunculkan sajak-sajak yang kental dengan nuansa alam dalam kumpulan puisi Kata karyanya. Bakdi Soemanto dilahirkan di Sala, 29 Oktober 1941. Ia tamat dari SMA bagian A (Sastra) di Sala. Ia melanjutkan kuliah di Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (S1), lalu melanjutkan studi S-2 jurusan Sastra Indonesia dan Jawa. Studi S-3 pada Fakultas Ilmu Budaya, UGM. Selama tiga semester ia bertugas sebagai dosen tamu di Oberlin College, Ohio dan Northern Illinois University, Chicago (1986) memberikan kuliah Sastra Indonesia lewat terjemahan. Sejak sebelum menjadi mahasiswa Bakdi sudah suka menulis puisi dan cerpen. Puisinya dimuat dalam majalah Horison, majalah Basis, harian Kedaulatan Rakyat, ada yang masuk beberapa buku kumpulan puisi bersama seperti Tonggak, Tugu, dan ada yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dalam On Foreign Shore terbitan Lontar. Di samping puisi, naskah drama dan cerpennya sudah diterbitkan dalam beberapa kumpulan cerpen dan ia juga menulis telaah drama, serta cerita rakyat. Sampai pada akhirnya ia memiliki buku antologi puisi sendiri yang berjudul Kata. Dari sekian banyak puisi dari antologi puisi tersebut, nuansa alam menjadi yang paling mendominasi. Serentetan judul-judul puisi yang menggambarkan alam tersebut yaitu “Angin”, “Kemarau”, “Langit”, “Udara Pagi”, “Malam Ini”, “Cahaya Siang”, “Sajak Senja”, “Sajak Malam”, “Malam”, “Berhadapan dengan Langit yang Biru”, “Rumputan dan Topan”, “Hujan Turun Rintik-Rintik”, “Kabut”, “Matahari”, “Hujan”, “Daun- Daun”, “Pantai Semarang”, “Senja Kala”, “Nyanyian Malam”, “Angin”, “Hujan”, “Pagi”, “Senja”. Dari sajak-sajak tersebut dapat dilihat pemilihan judul yang begitu sederhana dan singkat. Jika sekilas membaca judul-judul tersebut sambil lalu, yang terbayang dalam benak kita adalah si penyair akan mengarahkan kita pada suatu kondisi alam. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah, namun bila ditelisik lebih dalam sebagian besar penggaambaran alam tersebut tak lain merupakan simbol dari kehidupan manusia. Yang tak kalah menarik adalah adanya dua sajak yang berjudul sama yaitu “Angin”. Sementara itu, dua sajak tersebut ditulis pada tahun yang berbeda. Sajak “Angin” yang pertama pada tahun 1974, sedangkan yang kedua pada tahun 1985.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

DISTORSI NILAI INDONESIA DI MATA TAUFIK ISMAIL DALAM PUISI MALU (AKU) JADI ORANG INDONESIA KARYA TAUFIK ISMAIL



DISTORSI NILAI INDONESIA DI MATA TAUFIK ISMAIL
DALAM PUISI MALU (AKU) JADI ORANG INDONESIA
KARYA TAUFIK ISMAIL
Oleh: Rohim Efendi

Bingung! Itu yang pertama kali saya rasakan ketika mendapat tugas untuk menulis sebuah esai sastra. Apa yang harus saya tuliskan? Tidak banyak karya sastra yang saya baca. Tapi saya meliliki satu puisi yang menarik perhatian saya. Puisi karya Taufik Ismail yang ditulis tahun 1998. Ya! Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia judul puisinya. Apa Anda pernah membacanya? Kalau belum pernah, dan merasa penasaran silahkan baca. Jika tak sempat untuk mencari atau membeli bukunya, Anda bisa mencarinya dengan menjelajah di Internet browser.
Puisi ini ditulis oleh seorang sastrawan besar yang terlahir sebagai orang Indonesia, ditulis dengan bahasa yang ringan dan tidak memerlukan pemahaman yang tinggi untuk menerka isinya. Taufik Ismail menjadikan dirinya sebagai (Aku) aku yang malu jadi orang Indonesia dalam puisinya. Seperti sebuah refleksi jaman, puisi ini membawa sebuah fenomena sosial yang terekam jelas dalam benak penyair. Tapi ia tidak menulis puisinya dengan nada-nada kritik yang umumnya dengan nada tinggi melainkan menuliskannya seperti sebuah sindiran atas distorsi nilai yang semakin tinggi. Rasa bangga menjadi orang Indonesia tak mampu bertahan lama. Seperti wangi parfum murahan yang dibeli di pinggir jalan. Wangi sekejab lalu hanyut dalam tersapu keringat kecut mengguyur badan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Nyanyian Romantisisme Sajak Sapardi Djoko Damono



Nyanyian Romantisisme Sajak Sapardi Djoko Damono
Oleh: Rizki Rohma

Pelukisan kata indah nan romantis dalam karya sastra tidak pernah usang dimakan waktu. Pelukisan kata yang tidak biasa dan asing di telinga sengaja diciptakan oleh pencipta dan pecinta sastra untuk dapat dirasakan keindahan dan keberbedaannya dimata penikmat sastra. Nyanyian romantis yang mengalun indah itu terlihat pada karya sastra puisi sebagai wakil dari ungkapan hati. Kalimat singkat tapi sarat makna, bentuk berbait dan berbaris memberikan simbol indah pada tatanan kalimat, bahasa-bahasa yang penuh dengan perumpamaan, penyampaian perasaan yang tidak secara langsung, serta adanya diksi memberikan warna berbeda pada puisi. Orang yang bukan pencipta sastra, bukan pecinta sastra dan juga bukan penikmat sastra dapat mengetahui walau tanpa merasakannya kalimat yang berbait berbaris sarat gaya bahasa itu adalah puisi.
Karya sastra itu tercipta bukan dari hal yang tidak ada atau hanya  imajinasi penyair saja. Karya sastra itu lahir karena memang penyair itu ingin menciptakannya sebagai wakil ungkapan hati dan perasaan. Karya sastra seperti itu dapat dilihat pada puisi. Seorang penyair mencipta puisi tentu sarat dengan makna dan pesan yang ingin disampaikan dengan gaya bahasa yang berbeda serta tidak secara langsung. Tujuan penyair seperti itu untuk memberikan keindahan pada puisinya dan membiarkan penikmat sastra mengapresiasinya sesuai dengan subjektif pikiran dan perasaan individu. Karena itulah puisi itu tidak mengikat penikmatnya untuk menerima apa adanya.  Pelukisan kata yang digunakan penyair yaitu kata-kata romantis yang bernyanyi mengalun indah pada tiap baris dan bait puisi. Nyanyian romantis itu dapat diucapkan dengan ekspresi senang karena jatuh cinta atau sedih karena kasih tak sampai serta dapat dirasakan dengan hati yang sesuai dengan keromantisan pelukisan kata itu. Sapardi Djoko Damono bisa dikatakan salah satu penyair atau pencipta puisi yang banyak mengalunkan kata romantis juga sederhana di tiap kata yang berbaris dan berbait pada puisinya yang bertemakan cinta. Keromantisan ‘kata’ Sapardi Djoko Damono bukanlah kata yang berlebihan dan sampah belaka. ‘Kata’ Sapardi Djoko Damono berupa kesederhanaan cinta yang lebih melekat pada perasaan jiwa.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PUISI ANAK KARYA AMING AMINOEDHIN



PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PUISI ANAK KARYA AMING AMINOEDHIN
(beberapa catatan karya Aming Aminoedhin sang pecinta dunia anak)
Oleh: Redhitya Wempi Anshory

Kreativitas tak henti-hentinya mengalir dari sesosok mahluk ciptaan tuhan yang satu ini, anugerah dan bakat yang tersemat dalam jiwa dan raganya mengalir dalam nadi darahnya bakat tentang dunia sastra yang telah digelutinya sejak lama. Sebuah karya yang indah yang muncul dari imajinasinya akan keindahan anugrah tuhan kepada mahluk kecil, lucu dan tak berdosa yaitu anak-anak menjadi inspirasinya untuk menuntun penanya bergerak melukiskan kata-kata yang indah untuk sajak-sajaknya. Tidak banyak kita temui penyair atau sastrawan yang mengangkat dunia anak untuk tema atau bahkan tujuan penulisan karya tersebut untuk anak-anak, kebanyakan dari sastrawan selalu mengangkat hal-hal yang berbau politis, kritik sosial, cinta bahkan hal-hal yang remeh-temeh,  Sapardi Djoko Damono pernah menyampaikan kritik sosial di dalam karya sastra itu seperti lebah tanpa sengat dan sekarang ini dunia kreatifitas kita terbelenggu pada situasi yang absurd. Setiap orang berlomba-lomba untuk membuat karya yang dianggap aneh bahkan menyimpang sehingga karyanya disebut berbeda dengan yang lain, tapi sosok Aming masih setia dengan puisi tentang anak-anak, mengangkat tema-tema tentang pendidikan karakter untuk anak-anak. Proses kreatif yang timbul melalui setiap sajak-sajaknya merupakan harmonisasi kata yang indah membentuk unsur metafora yang indah pula, dengan kata-kata yang secara semantis tidak berbelit-belit, unsur kata yang penuh dengan renungan untuk pembaca terutama anak-anak. Kumpulan sajaknya yang berjudul Sajak Kunang-Kunang dan Kupu-Kupu yang diterbitkan oleh forum sastra bersama Surabaya pada tahun 2008. Pada karya inilah yang akan dikupas habis hingga akar-akarnya tentang proses kreatifnya dan juga tentang sejauh kecintaannya terhadap dunia anak sehingga dapat menghasilkan karya spektakuler untuk anak-anak Indonesia khususnya. Aming merupakan sosok ayah yang sangat perduli terhadap anak-anaknya ini terbukti dengan menjadikan anak-anaknya sebagai inspirasi penciptaan sajak dalam puisi-puisinya. Dalam sajak-sajaknya juga ia tulis pengalaman masa kecilnya yang mungkin dengan sengaja sebagai proses berbagi inspirasi untuk anak-anak zaman sekarang.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Jiwa Pemberontak W.S Rendra dalam Sajak Bulan Mei 1998 Di Indonesia



Jiwa Pemberontak W.S Rendra dalam Sajak Bulan Mei 1998 Di Indonesia
Oleh: Pramudita Parahita Pawestri
 
Puisi merupakan salah satu media untuk mengungkapkan perasaan atau kejadian yang pernah atau sedang dialami oleh seseorang. Begitu juga dengan seorang W.S Rendra yang menuangkan peraasaan yang sedang dialami atau hanya sekedar melukiskan kejadian yang yang dia lihat dan dia alami sendiri kedalam sebuah puisi. Sejak diusia muda Rendra sudah aktif dibidang sastra, bakatnya itu sudah terlihat sejak dia masih SMP. Beranjak dewasa Rendra tidak hanya sekedar menulis puisi dan menulis cerpen saja tetapi Rendra mulai merambah ke dunia panggung. Ia petama kali mempublikasikan puisinya di media massa pada tahun 1952 melalui majalah Siasat. Dari puluhan puisi yang telah ditelurkan Rendara, beberapa diantaranya bertemakan tentang pemberontakan, salah satunya yaitu puisi yang berjudul Sajak Bulan Mei 1998 Di Indonesia. Satrawan yang mempunyai julukan burung merak ini sangat tersohor, sehingga apapun karya yang dihasilkan selalu mendapat respons bagus dari pembaca atau penikmat sastra.
Tidak selamanya perbedaan pendapat harus dilontarkan dengan cara berdemo atau melakukan tindakan yang anarkis. Rendra memiliki cara tersendiri untuk menyampaikan aspirasinya tanpa harus menggunakan cara yang anarkis. Puisi-puisinya yang bernadakan protes seperti puisi Aku Tulis Pamlet Ini, Sajak Sebatang Lisong, Sajak Pertemuan Mahasiswa, dan Sajak Bulan Mei 1998 Di Indonesia. Amarah yang memuncak disampaikan melalui butir-butir kata penuh makna. Secara tidak langsung apa yang dia rasakan saat itu dia sampaikan dengan ocehannya yang berbentuk coretan penuh makna.
Sosok W.S Rendra
Bagi orang biasa atau orang yang tidak terlalu bersinggungan langsung dengan dunia sastra pasti hanya mengenal seorang W.S Rendra sebagai penyair yang terkenal tanpa mengetahui latar belakang dan kehidupannya. Willibrordus Surendra Broto Rendra adalah nama langkapnya, dia dilahirkan di Solo pada 7 November 1935. Rendra adalah anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Sejak masih remaja Rendra sudah mempunyai bakat menulis puisi, cerpen, dan drama. Dia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967 dan juga Bengkel Teater Rendra di Depok. Walaupun tidak menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada, tidak berarti ia berhenti untuk belajar. Pada tahun 1954 ia memperdalam pengetahuannya dalam bidang drama dan tari di Amerika, ia mendapat beasiswa dari American Academy of Dramatical Art (AADA). Banyak sekali penghargaan yang didapatnya atas karya-karyanya dan membawanya hingga menjadi orang terkenal di dalam negeri hingga ke mancanegara.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS