Mahasiswa Offering AA Angkatan 2010 Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label Aulia Kurniawati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aulia Kurniawati. Tampilkan semua postingan

Emansipasi Generasi Penerus Kartini yang Hidup di Tengah Ketidakadilan



Emansipasi Generasi Penerus Kartini yang Hidup di Tengah Ketidakadilan
Oleh: Aulia Kurniawati

Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta – WS Rendra

Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Dari Kelas tinggi dan kelas rendah
Telah diganyang
Telah haru-biru
Mereka kecut
Keder
Terhina dan tersipu-sipu
Sesalkan mana yang mesti kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kau relakan dirimu dibikin korban
Wahai pelacur-pelacur kota Jakarta
Sekarang bangkitlah
Sanggul kembali rambutmu
Karena setelah menyesal                                     
Datanglah kini giliranmu
Bukan untuk membela diri melulu
Tapi untuk lancarkan serangan
karena sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kau rela dibikin korban
Sarinah
Katakan kepada mereka
Bagaimana kau dipanggil ke kantor menteri
Bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu
Tentang perjuangan nusa bangsa
Dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal
ia sebut kau inspirasi revolusi
Sambil ia buka kutangmu
Dan kau Dasima
Khabarkan pada rakyat
Bagaimana para pemimpin revolusi
Secara bergiliran memelukmu
Bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi
Sambil celananya basah
Dan tubuhnya lemas
Terkapai di sampingmu
Ototnya keburu tak berdaya
Politisi dan pegawai negeri
Adalah caluk yang rapi
Kongres-kongres dan konferensi
Tak pernah berjalan tanpa kalian
Kalian tak pernah bisa bilang ‘tidak’
Lantaran kelaparan yang menakutkan
Kemiskinan yang mengekang
Dan telah lama sia-sia cari kerja
Ijazah sekolah tanpa guna
Para kepala jawatan
Akan membuka kesempatan
Kalau kau membuka kesempatan
Kalau kau membuka paha
Sedang di luar pemerintahan
Perusahaan-perusahaan macet
Lapangan kerja tak ada
Revolusi para pemimpin
Adalah revolusi dewa-dewa
Mereka berjuang untuk syurga
Dan tidak untuk bumi
Revolusi dewa-dewa
Tak pernah menghasilkan
Lebih banyak lapangan kerja
Bagi rakyatnya
Kalian adalah sebahagian kaum
penganggur yang mereka ciptakan
Namun
sesalkan mana yang kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kau rela dibikin korban
Pelacur-pelacur kota Jakarta
Berhentilah tersipu-sipu
Ketika kubaca di koran
Bagaimana badut-badut
mengganyang kalian
Menuduh kalian sumber bencana negara
Aku jadi murka
Kalian adalah temanku
Ini tak bisa dibiarkan
Astaga
Mulut-mulut badut
Mulut-mulut yang latah bahkan seks
mereka politikkan
Saudari-saudariku
Membubarkan kalian
Tidak semudah membubarkan partai politik
Mereka harus beri kalian kerja
Mereka harus pulihkan derajat kalian
Mereka harus ikut memikul kesalahan
Saudari-saudariku
Bersatulah
Ambillah galah
Kibarkan kutang-kutangmu
dihujungnya
Araklah keliling kota
Sebagai panji yang telah mereka nodai
Kinilah giliranmu menuntut
Katakanlah kepada mereka
Menganjurkan mengganyang
pelacuran
Tanpa menganjurkan
Mengahwini para bekas pelacur
Adalah omong kosong
Pelacur-pelacur kota Jakarta 
Saudari-saudariku
Jangan melulu keder pada lelaki
Dengan mudah
Kalian bisa telanjangi kaum palsu
Naikkan tarifmu dua kali
Dan mereka akan klabakan
Mogoklah satu bulan
Dan mereka akan puyeng
Lalu mereka akan berzina
Dengan isteri saudaranya

             Puisi Rendra seringkali berlatar belakang kehidupan kemanusiaan yang bertemakan sosial. Hal utama yang menjadi unsur pokok dalam puisi ini adalah pengangkatan derajat perempuan. Khususnya, perempuan yang tersisih dalam kehidupan yang berlatar belakang dipandang negatif oleh sebagian besar masyarakat. Tokoh utama dalam karya sastra tidak hanya mewakili pemikiran pengarang tetapi juga pengorbanan dari pengarang untuk menyebarkan pengaruhnya. Meski demikian puisi bukanlah pengganti filsafat yang menyebarkan pengaruh dan membuahkan pemikiran besar bagi penikmatnya. Karena dengan demikian puisi akan kehilangan nilai-nilai artistiknya sebagai puisi dan karya seni.
            

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kontroversi dalam Novel Perempuan Berkalung Sorban



Kontroversi dalam Novel Perempuan Berkalung Sorban
 Oleh: Aulia Kurniawati

Novel yang sempat menuai kritik dan kecaman dari Majelis Ulama Indonesia nampak berbeda dengan novel-novel bertemakan religi lainnya. Jika novel-novel religi Islam lainnya lebih mengedepankan sikap hegemonik dan superioritas seperti “Ayat-ayat Cinta” yang berujung pada isu poligami dan jatuh cintanya seorang wanita Kristen Koptik Mesir kepada seorang lelaki Muslim Indonesia bernama Fakhri, yang mengenyam studi di Al Ahzar Mesir yang sudah memperistri seorang muslim sebelumnya, maka novel “Perempuan Berkalung Sorban” lebih mengedepankan sikap-sikap kritis terhadap fanatisme dalam keberagamaan. Bukan hanya itu, novel ini hendak menyampaikan pesan tentang realita sosial dan keagamaan dimana terjadinya tarik-menarik antara modernisme dan konservatifisme, antara dinamika tafsir terhadap teks Kitab Suci dan sikap stagnan menerima tafsir yang telah diterima selama berabad-abad tanpa melihat konteks zaman yang berubah.
Terkait kontroversi novel tersebut, beberapa pandangan negatif muncul dari beberapa institusi religius yang diwakili oleh Ali Mustafa Yakub. Sebagaimana dikutip Suaramedia.com, “Bagi Ali Mustafa Yakub yang juga menjadi Wakil Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), ada dua hal yang menyakitkan umat Islam dalam novel itu. Pertama, pencitraan Islam yang sangat buruk. Seolah-olah Islam mengajarkan yang tidak sesuai perkembangan zaman, misalnya, seorang perempuan tidak boleh keluar rumah untuk belajar dan sebagainya sesuai dengan mahromnya dan sebagainya itu. Kedua, penggambaran salah tentang pesantren. "Pencitraan tentang pesantren sangat disayangkan sekali, bahkan saya berani mengatakan itu bukan hanya merusak citra saja tapi memfitnah itu," kata pemimpin Pondok Pesantren Daarus Sunna tersebut. Pandangan di atas menuai  tanggapan pula dari masyarakat. Saya mengutip dari salah satu blog sebagai berikut: “Alih-alih menangkap kesimpulan besarnya, tetapi justru MUI membuat pencitraan sendiri kepada suatu karya. Novel sama seperti buku, ada tema dan garis besar yang hendak diwacanakan. Untuk menilai suatu karya, kita harus melihat itu semua. Jelas-jelas novel Perempuan Berkalung Sorban ingin mengemukakan suatu permasalahan yang semestinya segera diselesaikan dalam konteks sosial umat Islam, bahwa masih ada saja segelintir orang atau oknum dari kaum muslimin yang mempraktikkan budaya-budaya feodalisme, seperti melarang perempuan untuk menuntut pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Seharusnya MUI bisa melihat tema besarnya, tidak semua tokoh dalam novel itu menyatakan bahwa perempuan itu sebagai kelas dua, itu namanya pernyataan generalisasi belaka. Justru maksudnya jelas bahwa di satu sisi ada tokoh yang menentang pandangan konservatif seorang muslim yang melarang anak perempuannya keluar rumah. Dan ini yang sebenarnya arah yang dituju, bahwa sikap melarang perempuan keluar rumah untuk menuntut ilmu dan bekerja adalah salah dalam Islam, bukan penyesatan dogma teologis” ( http:// kupretist.blogspot.com/2009/02/ perempuan berkalung-sorban- bukan-novel.html ).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PESAN SOSIAL POLITIK DAN PEREKONOMIAN INDONESIA DALAM NASKAH OPERA SEMBELIT MIMPI JADI NYERI



PESAN SOSIAL POLITIK DAN PEREKONOMIAN INDONESIA  DALAM NASKAH OPERA SEMBELIT MIMPI JADI NYERI
Oleh: Aulia Kurniawati

Perekonomian adalah bidang yang sangat inti dalam keberlangsungan suatu kehidupan. Telah ada sejak zaman kerajaan perekonomian sudah berkembang. Banyak situs peninggalan kerajaan beserta alat-alat ekonominya. Temuan-temuan mata uang pada masanya yang menggunakan identitas kerajaan. Diantaranya mata uang kerajaan Banten, Samudera Pasai, Sumenep, hingga uang kepeng asal China yang masuk ke Indonesia melalu perdagangan internasional. Seiring berjalannya masa, penjajah masuk ke Indonesia. Perkembangan perekonomian dari transaksi barter barang menjadi system uang sebagai alat tukar yang lebih mudah dan muncul uang logam VOC pada zaman penjajahan bangsa Eropa.
Pada masa penjajahan ini perekonomian dikuasai oleh penjajah. Pendirian bank oleh Belanda menjadikan Indonesia semakin tidak dapat melakukan perlawanan. Pembuatan uang dilakukan di negeri belanda dan baru ditransaksikan di bank Indonesia yang bernama De Javasche Bank  pada waktu itu. Dengan perjuangan para pemuda Indonesia akhirnya Indonesia berhasil memboyong Indonesia ke depan pintu depan kemerdekaan. Mulai dari sini system perekonomian mulai diperbaiki. Uang kertas sebagai peninggalan dari penjajah dikembangkan dengan mencetak sendiri. Dari gambar situs kebudayaan seperti tokoh wayang, candi-candi, kekayaan alam, hingga para pahlawan perjuangan kemerdekaan seperti yang kita temui sekarang ini, termasuk para pemimpin negeri.
Dari sejarah ini tentu setiap periode pemerintahan mempunyai cara tersendiri dalam mengatur perekonomian negara. Krisis ekonomi atau yang seringkali disebut krisis moneter bermula pada tahun 1997 periode pemerintahan Soeharto. Di akhir pemerintahan beliau ini krisis sosial politik memburuk akibat dampak dari krisis moneter yang disebabkan nilai rupiah turun drasris dan terus turun hingga sekitar 15.000 per dolar.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS