Mahasiswa Offering AA Angkatan 2010 Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label Elok Kholidiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Elok Kholidiyah. Tampilkan semua postingan

MENJELAJAHI ALUR/PLOT DAN DIALOG DRAMATIK “AYAHKU PULANG” KARYA UMAR ISMAIL

MENJELAJAHI ALUR/PLOT  DAN DIALOG DRAMATIK  “AYAHKU PULANG” KARYA UMAR ISMAILOleh: Elok Kholidiyah

Karya sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, persaaan, ide, semangat, keyakinan dalam seuatu bentuk gambaran kehidupan yang dapat membangkitkan pesona dengan alat bahasa dan dilukiskan dalam bentuk tulisan. Pesona tulisan-tulisan itu membuat seorang pecinta karya sastra seperti berjelajah di atas lukisan gunung, menjulang tinggi hingga membawa angan-angan menembus cakrawala.  Menjelajahi karya sasra tidak sulit, cukup menggabungkan hati dengan apa yang kita baca, Ada dua macam karya sastra  yaitu imajinatif dan non imajinatif.  Imajinatif berupa puisi, cerpen, drama, dan lain-lain. Karya sastra itu ibarat lautan dan gunung, Jika laut kita harus mengarunginya dengan perahu kata dan imajinasi hingga titik pusat laut dengan melihat keindahan laut yang terlukis indah sehingga membuat kita ingin mengarunginya lebih jauh lagi. Tetapi jika gunung kita perlu menjelajahinya dengan mendaki ke atas melewati hutan-hutan belantara yang membuat kita penasaran. Walau penjelajahan di gunung itu melelahkan tetapi kita dapat menuju titik puncak gunung dengan memperoleh makna dan nilai tersendiri dari karya sastra itu. 
Pendakian pada karya sastra akan terus berjalan menjelajahi  pemikiran setiap pencinta karya sastra seperti berlari pada panggung tertinggi suatu karya sastra yang dipentaskan salah satunya seperti drama. Ketahuilah drama termasuk itu genre sastra imajinatif. Menurut definisi, drama adalah ragam satra dalam bentuk dialog yang dimaksudkan untuk dipertunjukkan di atas pentas (Zaidan, 2000). Mulyawan (1997:147) adalah salah satu genre sastra yang hidup dalam dua dunia, yaitu seni satra dan seni pertunjukan atau teater.Drama memiliki bentuk sendiri, saat puisi kebanyakan berbentuk monolog dan novel atau cerpen perpaduan dialog dan monolog, maka drama drama merupakan karya sastra berupa dialog yang diperankan melalui tokoh-tokohnya. Dengan melihat naskah pun pembaca akan mengetahui bahwa karya tersebut adalah drama.Berbicara mengenai drama, terutama naskah dramanya hati ini sangat tertarik dengan salah satu drama yang berjudul “Ayahku Pulang” karya Usmar Ismail. Saat membaca naskah drama ini perahu pemikiranku seperti ingin menjelajahinya dari ujung satu ke ujung lainnya. Judul naskah drama ini sangatlah sederhana tidak ada yang menarik hanya judul sering kita dengar entah di televisi atau sebuah lagi. Tidaklah menarik jika hanya dilihat dari judul. Memang judul ibarat etalase. Jika judul itu menarik dan indah pasti orang akan penasaran dengan apa yang ada dalam etalase itu. Oleh karena itu sempat ketertarikan itu menurun karena naskah drama ini  terlalu sedahana dari segi judul maupun cerita keseluruhan. Sebenarnya keserhanaan itu lebih mengarah pada cerita yang sering terjadi di lingkungan sekitar. Tetapi setelah menjelajahi lebih jauh, ternyata penulis Umar Ismail benar-benar memberikan alur yang menarik untuk baca. Tidak hanya alur, dialognya sangatlah mudah dipahami karena gaya bahasa yang dituturkan tidaklah serumit dibayangkan. Dialog lebih akan mudah ditebak suasana maupun prasaan tokoh dari peran yang diperankannya. Oleh karena itu perahuku kini telah mengarah pada alur atau plot naskah drama ini. Tidak hanya alur tetapi juga dialognya. Walau sangatlah menarik tetapi jika dipikir seharusnya tidak perlu membuat berlebih-lebihan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menyelami Gejolak Batin Cinta Melalui Tokoh Cerpen “Sepasang Maut” karya Moh. Wan Anwar



Menyelami Gejolak Batin Cinta Melalui Tokoh Cerpen “Sepasang Maut” karya Moh. Wan Anwar
Oleh: Elok Kholidiyah

Cinta? Apa itu cinta? Semua manusia merasakan unsur kimia bernama cinta. Unsur yang diletakkan dalam hati manusia. Kedatangannya tidak pernah terduga, hanya kesakitannya terkadang mengisyaratkan.  Jika kita menyelami kata sakral  bernama “cinta” sungguh tidak tahu berapa luasnya dan dalamnya makna cinta itu. Cinta sangat bermakna karena  cinta merupakan anugerah dari Tuhan untuk semua insan. Tetapi apa yang terjadi jika cinta itu hadir hanya  sesaat?Tidak menjadi masalah bagi kita, terkadang hati memang mudah terbolak-balik bahkan hati dapat terkikis seperti karang laut. Selama ini, di mata semua orang cinta memang  tidak pernah salah, yang salah terkadang hanya tindakan dan perlakukan manusia terhadap memaknai cinta. Jika ada cinta yang hadir  sesaat, bagaimana jika cinta itu hadir untuk selamanya bahkan sampai menjadi cinta mati? Semua orang pasti ada yang mengalami cinta buta atau mati. Cinta memang dapat mematikan hati bahkan membutakan mata hati seseorang. Perasaan cinta yang terlalu dalam terhadap suatu hal dapat menimbulkan gejolak batin yang sangat dalam. Bahkan seseorang tersebut dapat menjadi pribadi yang berubah baik dari segi kehidupan maupun pemikirannya. Gejolak batin pada cinta yang terlalu dalam juga dapat membuat seseorang lupa akan segalanya bahkan lupa akan makna hidupnya sendiri di dunia. Padahal hari selalu berganti dengan memberikan warna dan cermin yang baru tetapi gejolak batin cinta yang terlalu dalam juga dapat  menenggelamkan warna dan makna hidup di dunia. Itulah cinta dapat dinilai dari titik mana saja tergantung sesoerang memandang dan merasakan kehadiran cinta dalam hidupnya. 
Berbicara mengenai cinta, banyak karya sastra seperti cerpen, puisi, dan drama yang bertemakan cinta. Tema-tema cinta yang diangkat oleh pengarang tidak lepas dari karya-karya sastra sebelumnya. Selain itu, tidak hanya pengaruh karya sastra sebelumnya,  bisa saja karya sastra yang tercipta itu dari pengalaman pengarang sendiri. Justru karya-karya sastra yang tercipta dari pengalaman pengarang akan terlihat penonjolan pada kebatinanan. Ada beberapa cerpen yang bertemakan cinta tetapi ketertarikan hati ketika menengok tentang cinta yang dalam akan sesuatu hal, hati ini ingin berlabuh pada cerpen yang berjudul “Sepasang Maut”. Cerpen yang berasal dari salah satu  kumpulan cerpen Sepasang Maut  terbitan tahun 2009 karya Mohammad Wan Anwar ini sangat menggelitik hati. Cerita memang hanya dikemas secara sederhana tetapi di dalam cerita terdapat makna yang dalam. Tidak hanya makna yang dalam tetapi pelukisan tentang cinta sangat indah dipasangakan dengan keindaahan alam laut. Jika dipandang lebih jauh,  alur cerita juga tidaklah begitu bagus tetapi penggambaran dalam setiap bagian dalam cerita sangatlah indah. Hal tersebut dapat terlihat dari penggambaran tokoh dan penokohan pada cerpen tersebut yang digambarkan secara indah dengan membandingakan keindahan alam. Tokoh dalam cerpen ini seperti mengalami gejolak cinta. Oleh karena itu tokoh dalam cerpen ini perlu diselami dari segi gejolak batin cintanya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Alunan Resonansi Religius dan Sosial dalam Sajak-Sajak AYH



Alunan Resonansi Religius dan Sosial dalam Sajak-Sajak AYH
Oleh: Elok Kholidiyah


            Alunan sastra Indonesia di negeri ini  sejak dulu memang sudah memberikan resonansi pada semua pencipta dan pecinta karya sastra. Salah satunya para sastrawan di Indonesia yang sudah  terkena gema atau getaran akibat karya sastra angkatan sebelumnya. Hal ini dikarenakan karya sastra tidak pernah tercipta dalam keadaan kosong, terciptanya karya sastra selalu memiliki pengaruh dari proses penciptaanya. Karya sastra yang sudah ada sebelumnya memberikan pandangan bagi sastrawan penerusnya dan pembacanya. Sudah diketahui sebelumnya bahwa karya sastra angkatan terbaru yaitu angkatan 2000-an. Banyak karya sastra yang dihasilkan oleh sastrawan-sastrawa yang muncul pada angkatan 2000-an ini. Korrie Layun Rampan (2000) juga pernah mengumumkan adanya angkatan 2000 sastra Indonesia dalam buku Angkatan 2000. Sastrwan-sastrwan angkatan 2000-an  yang berperan tersebut diantaranya Ahmadun Yosi Herfanda, Agus Sarjono, Wiji Tukul, Jamal D. Rahman, dan lain-lainya.
Sastrawan-sastrawan angkatan 2000-an ini sudah dan banyak melahirkan karya sastra baik cerpen maupun puisi dengan rasa yang berbeda dan aroma pembaruan. Salah satun aroma yang dapat dirasakan yaitu  pada  karya sastra  puisinya. Struktur isi puisi yang menonjol pada angkatan 2000-an dapat terlihat dalam karaterisktik puisi angkatan tersebut  yaitu  tema yang diangkat menyangkut seluruh aspek kehidupan, puisi-puisi profetik (keagamaan) dengan cenderung menciptakan penggambaran yang lebih konkret melalui alam, rumputan atau daun-daun dan aroma kritik sosial juga masih muncul dengan lebih keras karena orde baru dan ketidakmenentuan situasi di tahun 2000-an. Karakterisik isi puisi angkatan tersebut sangat terlihat pada sajak-sajak yang diciptakan beberapa sastrawan pada periode tersebut. Oleh karena itu wajar jika gerombolan sastrawan angkatan 2000-an puisinya bernuansa sosial mapun religi. Salah satu sastrawan angkatan 2000-an yang puisinya terlihat beraliran atau bernuansa sosial dan religi  yaitu Ahmadun Yosi Herfanda.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS