Mahasiswa Offering AA Angkatan 2010 Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label Rizki Rohma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rizki Rohma. Tampilkan semua postingan

Lakon Skenario Kehidupan dalam Naskah Drama Maling Karya Auf Sahid



Lakon Skenario Kehidupan dalam Naskah Drama Maling Karya Auf Sahid
Oleh: Rizki Rohma

Manusia bak lakon yang memainkan drama kehidupan sendiri dalam dunia yang hanya sekejap mata ini. Dalam dunia yang tak tahu kapan berakhirnya ini manusia merupakan lelakon dari kehidupan yang bak pelangi berwarna-warni kemudian bak badai petir yang menyambarnya sewaktu-waktu tanpa pamit permisi tanpa kata-kata. Sebagai lakon manusia hanya pelaku yang bermain di atas kisaran waktu yang terus berputar dengan tema atau jalan yang sudah dikarang penciptanya. Pelaku dalam kehidupan yang sudah ada ceritanya hanya bermain sebagai penghias atau mengisi kegiatan untuk lebih hidup yang tak berbatas waktu. Sebagai pelaku hanya bisa patuh dan berjalan sesuai alur yang sudah diciptakan tanpa manusia bisa keluar dari lintasan kehidupannya. Skenario penuh cerita indah, manis, pedih, siksa, nyata, maya diciptakan untuk lakon kehidupan. Skenario itu berjalan sangat terkendali bak masinis duduk di atas kereta yang melaju dengan jalan satu rel. Satu rel yang berarti mulus tanpa ada kendali dan tidak membuat ia berbelok-belok ke segala arah dengan satu relnya. Ia hanya merasakan satu rasa saja tanpa ada silang-silang rel yang lain untuk bisa mendahului. Lakon manusia bukanlah seperti kereta yang berjalan dalam satu rel. ia melakonkan banyak adegan yang sudah diciptakan dengan segala suasana yang terpampang dalam skenario. Skenario yang penuh dengan beragam rasa tanpa manusia bisa melawan walaupun ia berontak dengan yang harus dilakonkannya. Lakon kehidupan yang sebenarnya bukan dirinya dilampiaskan pada dirinya. Lakon yang memberatkan hidupnya harus dimainkan dengan segala perannya tanpa ada berontak kehidupan walaupun ia tidak ingin seperti yang sudah digariskan tetapi ia harus menerimanya karena manusia adalah lakon skenario kehidupan.
Drama kehidupan manusia sungguh tak berbatas dalam secarik kertas, lembaran buku ataupun setumpuk arsip dalam map. Sebagai lakon manusia mencoba mewujudkan melalui kata imajinatif skenario dramanya. Kata yang menjadi kalimat dipenuhi dengan dialog-dialog imajinasi diperankan manusia sendiri seperti ia bermain dalam dramanya sendiri. Skenario dituliskan untuk melukiskan tokohnya lengkap dengan segala alur dan konflik dirangkai dengan kata yang indah dan imajinatif dan sarat akan estetika. Skenario pengarang dalam dialog mampu membawa penikmat sastra menikmati cerita yang disuguhkan lengkap dengan maksud yang hendak disampaikan. Untuk mengungkapkan makna dibalik cerita yang tertulis pada dialog-dialog pengarang memasukan unsur-unsur seperti tokoh, alur, latar dan tema.  Inti dari cerita atau pesan dapat dirasakan penikmat sastra melalui penggambaran tokoh dalam dialog sampai pada pemaknaan penikmat karyanya. Karena sudah dituliskan pada skenario kehidupan manusia harus menjalani hidupnya sesuai dengan skenarionya itu walaupun ia tidak bertindak tetapi ia harus menerima kenyataan yang mungkin pahit. Seperti itulah lakon drama manusia dalam kehidupan dikendalikan oleh pencipta atau pengarangnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Duka Nasionalisme dalam Cerita dari Tapal Batas Karya Kurnia Hadinata



Duka Nasionalisme dalam Cerita dari Tapal Batas Karya Kurnia Hadinata
Oleh:  Rizki Rohma

Kehidupan manusia dari waktu ke waktu selalu memiliki warna-warni yang berbeda bak pelangi berwarna-warni terlihat cantik jika rintikan air membasahi bumi. Usaha kerja keras untuk memberikan warna yang berbeda pada tiap insan mewarnai ikhtiar seorang hamba bertahan pada dunia yang terkadang tak bisa bersahabat. Air mata, senyuman, derap langkah yang takpernah berhenti, kedua tangan yang selalu sibuk dengan kreatif yang diciptakan mengalir bak air yang tak pernah berhenti. Kreativitas itu tak pernah berhenti walau sampai helaian rambut memutih, keriput menghiasi wajah, dan derap langkah semakin melemah. Lakon cerita pada tiap jalan hidup tak pernah habis untuk dituliskan pada secarik kertas, setumpuk buku, dan segudang arsip. Pada secarik kertas yang berbendel nyata ataupun tidak nyata kisah kehidupan yang dilukiskan semua terwujud dalam sebuah prosa. Penghayatan dari berbagai fenomena hidup atau imajinatif yang dipadu dengan estetika menghasilkan karya sastra berwujud cerita pendek atau novel. Pengarang melukiskan tokohnya lengkap dengan segala alur dan konflik dirangkai dengan kata yang indah dan imajinatif dan sarat akan estetika.
Gaya penceritaan pengarang dalam merangkaikan kata menjadi kalimat menjadi paragraf dan menghasilkan cerita mampu membawa penikmat sastra menikmati cerita yang disuguhkan lengkap dengan maksud yang hendak disampaikan. Untuk mengungkapkan makna dibalik cerita yang tertulis pada lembar-lembar kertasnya pengarang memasukan unsur-unsur seperti tokoh, alur, latar dan tema.  Inti dari cerita atau pesan dapat dirasakan penikmat sastra melalui tema atau tokohnya tergantung pengarang itu melukiskannya dan kebermaknaan dari tulisan pengarang itu sampai pada pemaknaan penikmat karyanya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Nyanyian Romantisisme Sajak Sapardi Djoko Damono



Nyanyian Romantisisme Sajak Sapardi Djoko Damono
Oleh: Rizki Rohma

Pelukisan kata indah nan romantis dalam karya sastra tidak pernah usang dimakan waktu. Pelukisan kata yang tidak biasa dan asing di telinga sengaja diciptakan oleh pencipta dan pecinta sastra untuk dapat dirasakan keindahan dan keberbedaannya dimata penikmat sastra. Nyanyian romantis yang mengalun indah itu terlihat pada karya sastra puisi sebagai wakil dari ungkapan hati. Kalimat singkat tapi sarat makna, bentuk berbait dan berbaris memberikan simbol indah pada tatanan kalimat, bahasa-bahasa yang penuh dengan perumpamaan, penyampaian perasaan yang tidak secara langsung, serta adanya diksi memberikan warna berbeda pada puisi. Orang yang bukan pencipta sastra, bukan pecinta sastra dan juga bukan penikmat sastra dapat mengetahui walau tanpa merasakannya kalimat yang berbait berbaris sarat gaya bahasa itu adalah puisi.
Karya sastra itu tercipta bukan dari hal yang tidak ada atau hanya  imajinasi penyair saja. Karya sastra itu lahir karena memang penyair itu ingin menciptakannya sebagai wakil ungkapan hati dan perasaan. Karya sastra seperti itu dapat dilihat pada puisi. Seorang penyair mencipta puisi tentu sarat dengan makna dan pesan yang ingin disampaikan dengan gaya bahasa yang berbeda serta tidak secara langsung. Tujuan penyair seperti itu untuk memberikan keindahan pada puisinya dan membiarkan penikmat sastra mengapresiasinya sesuai dengan subjektif pikiran dan perasaan individu. Karena itulah puisi itu tidak mengikat penikmatnya untuk menerima apa adanya.  Pelukisan kata yang digunakan penyair yaitu kata-kata romantis yang bernyanyi mengalun indah pada tiap baris dan bait puisi. Nyanyian romantis itu dapat diucapkan dengan ekspresi senang karena jatuh cinta atau sedih karena kasih tak sampai serta dapat dirasakan dengan hati yang sesuai dengan keromantisan pelukisan kata itu. Sapardi Djoko Damono bisa dikatakan salah satu penyair atau pencipta puisi yang banyak mengalunkan kata romantis juga sederhana di tiap kata yang berbaris dan berbait pada puisinya yang bertemakan cinta. Keromantisan ‘kata’ Sapardi Djoko Damono bukanlah kata yang berlebihan dan sampah belaka. ‘Kata’ Sapardi Djoko Damono berupa kesederhanaan cinta yang lebih melekat pada perasaan jiwa.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS