SNAPSHOT TAJAM PERIODE SEJARAH
DALAM “OKTOBER HITAM” KARYA TAUFIQ ISMAIL
Oleh: DIni Ayu Wiranti
I
Periode
’60—‘80an atau yang akrab disapa angkatan
’60-an memang bisa dibilang sebagai
titik penyimpangan dari suatu orde ke lain orde yang baru. Prahara inilah yang
direkam sebagai suatu periode sejarah sastra Indonesia kita. Rona sejarah
seakan dilombakan oleh para pemerhati sastra supaya tidak lenyap begitu saja. Kalo dipikir-pikir, kondisi dan situasi yang
serba semrawut ini memang nggak ada yang mau ngreken tapi tidak begitu yang ada
dalam otak beberapa orang yang juga sangat dekat dengan kesemrawutan itu. Keterpurukan ekonomi dan sosial sepertinya
menjadi titik mula kesemrawutan zaman
itu. Gagal panen karena hama dan tanah tandus, membuat penduduk nyaris
kehilangan kesempatan hidup. Pengemis dengan pakaian rombeng jadi tontonan
sehari-hari. Ibarat pepatah, sudah jatuh
tertimpa tangga. Bagaimana tidak? Di satu sudut banyak gelandangan di sudut
lain harga-harga bahan pokok pada naik.
Sudah belinya harus antri, persediaan
menipis, harga nik pula!
Itu
masih keadaan ekonomi, belum lagi kondisi pemerintahannya. Empat belas tahun
meninggalkan kemerdekaan RI, tanggal 17 Agustus 1959, dicanangkan Demokrasi
Terpimpin dan Manipol Usdek* oleh Presiden Soekarno, disusul dengan konsep
Nasakom yang dipaksakan untuk diterapkan di setiap kegiatan kenegaraan
dijadikan peluang emas bagi PKI. Diberlakukannya politik Nasakom seakan
melapangkan jalan bagi PKI untuk menumbuhkan dan mengukuhkan dominasi di
seluruh sektor kehidupan demi persiapan menuju mulusnya persiapan perebutan
kekuasaan. Di bidang politik, PKI terus mendempet Presiden Soeharto untuk memanfaatkan
pembungkaman demokrasi. Beberapa partai dibubarkan, dan hanya menyisakan satu
lawan tangguh yakni TNI-AD. Penangkapan dilakukan tanpa pengadilan. Hak asasi
manusia bagaikan keset depan pintu tempat menggesekkan sepatu. Setelah makin
merasa kukuh, PKI melakukan sendiri rangkaian teror dahsyatnya yang terus
menerus di seluruh sektor kehidupan. Di bidang media massa, terjadi pendobrakan
beberapa media massa dan penahanan pimpinan redaksi Indonesia Raya, Mochtar
Lubis, jelas sangat menguntungkan bagi PKI.
Beberapa
tahun meninggalkan tahun ’59, pada Oktober 1964, bulan penangkapan Hamka,
pengarang terkemuka, salah seorang ulama besar dan pejuang kemerdekaaan yang
dihormati masyarakat luas. Karena dituduh plagiat, Hamka ditahan di rumah
tahanan di Jakarta (27 Januari 1964) dan kemudian dipindahkan ke Sukabumi.
Sesudah dua tahun empat bulan dikurung tanpa diadili, dan sejalan dengan
tumbangnya orde Lama, Hamka pun dibebaskan. Mundur satu tahun, pada tahun 1963,
lahirlah Manifes Kebudayaan.
II
“Oktober Hitam” merupakan sebuah puisi
yang ditulis oleh Taufik Ismail di tahun 1965. Bersama dengan 155 puisi
lainnya, dijadikanlah sebuah buku kumpulan puisi Taufiq Ismail yang dinamai
Tirani dan Benteng. Puisi “Oktober Hitam” ini termasuk ke dalam puisi menjelang
tirani, yang ditulis pada tahun 1965.
Judul puisi “Oktober Hitam” memiliki
filosofi tersendiri, yaitu dari kata “Oktober” dan “Hitam”. “oktober” diartikan
bulan Oktober, dan “Hitam” identik dengan kegelapan, kesuraman, kerusakan.
Jadi, apabila diartikan secara satu frasa “Oktober Hitam” dapat diartikan
situasi dan kondisi buruk penuh dengan kegelapan dan kesuraman yang terjadi
sepanjang bulan Oktober di tahun 1965.
Dari segi tipografi, puisi ini memiliki
bentuk puisi yang unik. Puisi ini dibagi menjadi lima bagian dengan angka 1—5
digunakan sebagai penanda antar bagian. Pada puisi bagian 1, atau yang ditulis
(1), terdapat penulisan yang unik. Pada bagian 1 ini terdri dari 18 baris puisi
pendek. Setiap kaliamt rata-rata ada 3—4 kata. Pada baris ke 3 dan kelipatannya
hanya berisikan satu kata, yang berupa kata sifat. Penulisan satu kata itu pun
dibedakan dengan kalimat lainnya yang terdiri dari lebih dari satu kata. Hurufnya
pun dituilis dengan huruf miring (italic).
Pada bagian (1) ini, ditemukan kata kunci pada tiga baris terakhir, yaitu “Tujuh lelaki. Telah mati. Pagi itu”.
Kata kunci itu nanti yang mampu menjadi benang merah yang menghubungkan puisi
ini dengan peristiwa sejarah yang terjadi semasa penulisannya.





