Mahasiswa Offering AA Angkatan 2010 Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label Dini Ayu Wiranti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dini Ayu Wiranti. Tampilkan semua postingan

SNAPSHOT TAJAM PERIODE SEJARAH DALAM “OKTOBER HITAM” KARYA TAUFIQ ISMAIL



SNAPSHOT TAJAM PERIODE SEJARAH
DALAM “OKTOBER HITAM” KARYA TAUFIQ ISMAIL
  
Oleh: DIni Ayu Wiranti


I
Periode ’60—‘80an atau yang akrab disapa angkatan ’60-an memang bisa dibilang sebagai titik penyimpangan dari suatu orde ke lain orde yang baru. Prahara inilah yang direkam sebagai suatu periode sejarah sastra Indonesia kita. Rona sejarah seakan dilombakan oleh para pemerhati sastra supaya tidak lenyap begitu saja. Kalo dipikir-pikir, kondisi dan situasi yang serba semrawut ini memang nggak ada yang mau ngreken tapi tidak begitu yang ada dalam otak beberapa orang yang juga sangat dekat dengan kesemrawutan itu.  Keterpurukan ekonomi dan sosial sepertinya menjadi titik mula kesemrawutan zaman itu. Gagal panen karena hama dan tanah tandus, membuat penduduk nyaris kehilangan kesempatan hidup. Pengemis dengan pakaian rombeng jadi tontonan sehari-hari. Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga. Bagaimana tidak? Di satu sudut banyak gelandangan di sudut lain harga-harga bahan pokok pada naik. Sudah belinya harus antri, persediaan menipis, harga nik pula!
Itu masih keadaan ekonomi, belum lagi kondisi pemerintahannya. Empat belas tahun meninggalkan kemerdekaan RI, tanggal 17 Agustus 1959, dicanangkan Demokrasi Terpimpin dan Manipol Usdek* oleh Presiden Soekarno, disusul dengan konsep Nasakom yang dipaksakan untuk diterapkan di setiap kegiatan kenegaraan dijadikan peluang emas bagi PKI. Diberlakukannya politik Nasakom seakan melapangkan jalan bagi PKI untuk menumbuhkan dan mengukuhkan dominasi di seluruh sektor kehidupan demi persiapan menuju mulusnya persiapan perebutan kekuasaan. Di bidang politik, PKI terus mendempet Presiden Soeharto untuk memanfaatkan pembungkaman demokrasi. Beberapa partai dibubarkan, dan hanya menyisakan satu lawan tangguh yakni TNI-AD. Penangkapan dilakukan tanpa pengadilan. Hak asasi manusia bagaikan keset depan pintu tempat menggesekkan sepatu. Setelah makin merasa kukuh, PKI melakukan sendiri rangkaian teror dahsyatnya yang terus menerus di seluruh sektor kehidupan. Di bidang media massa, terjadi pendobrakan beberapa media massa dan penahanan pimpinan redaksi Indonesia Raya, Mochtar Lubis, jelas sangat menguntungkan bagi PKI.
Beberapa tahun meninggalkan tahun ’59, pada Oktober 1964, bulan penangkapan Hamka, pengarang terkemuka, salah seorang ulama besar dan pejuang kemerdekaaan yang dihormati masyarakat luas. Karena dituduh plagiat, Hamka ditahan di rumah tahanan di Jakarta (27 Januari 1964) dan kemudian dipindahkan ke Sukabumi. Sesudah dua tahun empat bulan dikurung tanpa diadili, dan sejalan dengan tumbangnya orde Lama, Hamka pun dibebaskan. Mundur satu tahun, pada tahun 1963, lahirlah Manifes Kebudayaan.   

II
“Oktober Hitam” merupakan sebuah puisi yang ditulis oleh Taufik Ismail di tahun 1965. Bersama dengan 155 puisi lainnya, dijadikanlah sebuah buku kumpulan puisi Taufiq Ismail yang dinamai Tirani dan Benteng. Puisi “Oktober Hitam” ini termasuk ke dalam puisi menjelang tirani, yang ditulis pada tahun 1965.
Judul puisi “Oktober Hitam” memiliki filosofi tersendiri, yaitu dari kata “Oktober” dan “Hitam”. “oktober” diartikan bulan Oktober, dan “Hitam” identik dengan kegelapan, kesuraman, kerusakan. Jadi, apabila diartikan secara satu frasa “Oktober Hitam” dapat diartikan situasi dan kondisi buruk penuh dengan kegelapan dan kesuraman yang terjadi sepanjang bulan Oktober di tahun 1965.
Dari segi tipografi, puisi ini memiliki bentuk puisi yang unik. Puisi ini dibagi menjadi lima bagian dengan angka 1—5 digunakan sebagai penanda antar bagian. Pada puisi bagian 1, atau yang ditulis (1), terdapat penulisan yang unik. Pada bagian 1 ini terdri dari 18 baris puisi pendek. Setiap kaliamt rata-rata ada 3—4 kata. Pada baris ke 3 dan kelipatannya hanya berisikan satu kata, yang berupa kata sifat. Penulisan satu kata itu pun dibedakan dengan kalimat lainnya yang terdiri dari lebih dari satu kata. Hurufnya pun dituilis dengan huruf miring (italic). Pada bagian (1) ini, ditemukan kata kunci pada tiga baris terakhir, yaitu “Tujuh lelaki. Telah mati. Pagi itu”. Kata kunci itu nanti yang mampu menjadi benang merah yang menghubungkan puisi ini dengan peristiwa sejarah yang terjadi semasa penulisannya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

“AKU” vs “AKU (LAIN)” dalam Kamar Duka Karya Ratih Kumala



 “AKU” vs “AKU (LAIN)” dalam Kamar Duka Karya Ratih Kumala
Oleh: Dini Ayu Wiranti

I
Kamar Duka menyimpan banyak cerita. Ceritaku, ceritamu, dan ceritanya. Hidup memang seringkali cari sensasi. Tidak mau berjalan begitu saja, tapi ingin mencari wawasan lain. Andai setiap kisah cinta berjalan bak  Romeo dan Juliet, akankah ada hati yang tersakiti? Bukankah kebahagian pun serasa terbawa sampai mati?? Tertawa dan menangis seperti bumbu utama dalam cinta. Lalu bagaimana jika cinta itu punya dua mulut?? Mulut yang tersakiti dan mulut yang menyakiti?
Hal pertama yang muncul di kepala saat laki-lakiku menamatkan sisa nyawanya adalah; mungkin perempuan itulah yang lebih kehilangan dibanding aku, istri sahnya. Ketika itu jarum jam menggenapkan pukul tiga pagi….
….
Kami segera mengurus segala hal untuk kremasi. Rumah duka kami booking. Rangkaian bunga duka cita dari kolega-kolega suamiku mulai berdatangan. Hari ini, mayatnya dirias, sebelum diistirahatkan. Tujuh belas tahun! Tujuh belas tahun!
….
Begitulah Ratih Kumala membuka pintu “Kamar Duka”nya. Apa yang terbersit di benak kalian membaca kalimat tersebut? Bukankah bagian tersebut serasa bagian akhir dari sebuah cerita??
….
Tujuh belas tahun lalu, Bim muncul dalam hidupku. Saat malam-malam aku masih menyanyi di sebuah kafe jazz. Dia datang bersama sekelompok teman. Salah satu dari mereka diperkenalkan sebagai istrinya, yang naga-naganya tak terlalu menikmati musik jazz. Tapi Bim kulihat sangat menghayati lagu- lagu yang kami suguhkan….
….
Mendekati bagian tengah cerpen cerpen, diawali dengan keterangan waktu Tujuh belas tahun lalu. Formasi seperti ini pasti tak asing lagi bagi kita. Apa yang bisa Anda amati dari dua kutipan plot cerpen di atas?? Seperti yang sempat disinggung di bagian awal esai ini, bahwa hidup seringkali cari sensasi. Ratih Kumala sepertinya ingin mengikuti konvensi ini dan tampak pada “Rumah Duka”nya. Perhatikan kutipan berikut.
….
Rumah duka mulai penuh. Aku tak berhasil menemukan dasi yang kumaksud. Ia terlihat tampan dengan setelan jas Armani miliknya. Ah, harusnya kuminta ia dipakaikan kaos panjang model turtle neck saja. Dipadu dengan jas ini, tentu keren dan lebih terlihat muda. Kenapa pula aku harus memilih kemeja, kalau dasi yang kumaksud tak ketemu.
                    ….         

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mengulik Fenomena Sosial dalam Tanda Bahaya Karya Bakdi Soemanto



Mengulik Fenomena Sosial dalam Tanda Bahaya Karya Bakdi Soemanto
Oleh: Dini Ayu Wiranti
 
I
Fenomena sosial di sekitar kita memang tidak pernah absen untuk diangkat ke permukaan. Walaupun terkesan sederhana, namun pembicaraan tentang topik ini tak jarang menimbulkan pro dan kontra. Banyak pihak yang ikut angkat bicara menanggapi fenomena sosial ini. Lalu apa yang bisa mereka (atau kita, khususnya) lakukan pasca perbincangan tersebut?? Adakah di antara kita yang melakukan pembenahan untuk mengurangi angka masalah menyangkut fenomena sosial tersebut?? Siapa di antara kita yang sudah melakukan saran dan solusi yang kita sampaikan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut? Tidak berbedakah kita dengan “orang-orang atas” yang hanya besar omong. Talk more do less.
Fenomena sosial yang sering disorot biasanya tentang masalah yang dialami orang-orang dewasa, biasanya yang telah berkeluarga. Misalnya saja tentang kemiskinan, kelaparan, gelandangan, pemukiman kumuh, dan masalah-masalah lain yang sebagian besar dihadapi oleh masyarakat kita yang tinggal di kota-kota besar. Fenomena-fenomena ini sering diangkat ke permukaan tanpa ada solusi besar yang berarti.  Memang untuk pembenahan perlu dilakukan secara bertahap. Tetapi bertahap yang seperti apa yang dimaksudkan oleh mereka yang bertanggung jawab terhadap kasus-kasus seperti ini.
Memikirkan fenomena semacam itu terkadang membuat kita melupakan fenomena-fenomena lain yang juga tak kalah bahayanya. Justru, jika permasalahan semacam ini tidak segera dikritisi dan dicarikan solusinya akan berdampak buruk bagi kehidupan masa mendatang kita. Bibit yang unggul harus kita persiapkan demi menghasilkan buah yang unggul pula. Remaja merupakan masa-masa kritis dalam hidup manusia. Awal mula perjalanan manusia menuju pembentukan pribadi dan karakter diperankan dalam masa remaja. Banyak orang bilang kalau masa remaja adalah masa-masa yang paling indah sepanjang kisah hidup seseorang. Keindahan dan keelokan masa remaja memang tidak bisa dipungkiri saat kita mulai menemukan hal-hal baru dan mencoba hal-hal yang berbeda.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS