Mahasiswa Offering AA Angkatan 2010 Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label PROSA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PROSA. Tampilkan semua postingan

Menguak Cerita dalam “Robohnya Surau Kami”

Menguak  Cerita dalam “Robohnya Surau Kami” 
Oleh: Pradicta Nurhuda

Cerpen sebagai salah satu karya sastra yang jelas dapat memberikan manfaat seperti layaknya karya sastra yang lain. Manfaatnya selain memberikan kenikmatan dan hiburan, dia juga dapat mengembangkan imajinasi, memberikan pengalaman pengganti, mengembangkan pengertian perilaku manusia dan dapat menyuguhkan pengalaman yang universal. Cerpen dengan segala permasalahannya yang universal ternyata menarik juga untuk dikaji. Bahkan tidak pernah berhenti orang yang akan mengkajinya. Seperti halnya mengkaji cerpen yang berjudul Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis. Cerpen ini memiliki keistimewaan dibandingkan dengan cerpen A.A.Navis yang lain atau cerpen yang ditulis pengarang-pengarang yang lain.
 
Keistimewaannya yaitu terletak pada teknik penceritaan A.A.Navis yang tidak biasa karena Navis menceritakan cerita di dalam cerita cerpen tersebut atau bisa dikatakan cerita bertumpuk yang ada dalam cerpen dan Navis menceritakan suatu peristiwa yang terjadi di alam lain. Bahkan di sana terjadi dialog antara tokoh manusia dengan Sang Maha Pencipta. Cerpen A.A. Navis muncul dengan membawa kejutan karena ceritanya menyindir pelaksanaan kehidupan beragama yang biasa dilakukan oleh orang yang benar-benar taat beragama. Selain itu cerpen A.A.Navis ini lebih banyak mengingatkan kita untuk selalu bekerja keras sebab kerja keras adalah bagian penting dari ibadah kita. Cerpen karya A.A. Novis yang mengisahkan seorang kakek Garin, yang meninggal secara mengenaskan yaitu bunuh diri akibat dari mendengar cerita bualan seseorang yang sudah dikenalnya, yakni Ajo Sidi.
 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

METROPOLISME CERPEN “Gerimis Bermata Batu”



METROPOLISME CERPEN “Gerimis Bermata Batu”
Oleh: Zakiah Alif Syakura

Ulasan singkat cerpen “Gerimis Bermata Batu” karya Gunawan Tri Atmodjo:
            Hujan rintik menyaksikan mata sembab seorang ibu dengan darter yang lusuh. Suara anak yang kegirangan melengking menyayat gendang telinganya. Sarju masih ingat hujan tiba-tiba turun di tengah musim kemarau membuat luka yang sangat dalam.
            Siang itu di tengah-tengah bekerja tiba-tiba Sarju mendapat telepon dari istrinya, Lastri. Berita duka bahwa anaknya telah menjadi korban tabrak lari. Sarju bergopoh-gopoh bergegar ke rumah sakit. Sesampainya di sana, nyawa anaknya pun sudah tak dapat ditolong lagi.
            Sarju mengumpulkan semua uang untuk biaya pemakaman yang layak bagi anaknya. Tetapi siapa sangka harga sepetak tanah untuk pemakaman sangat mahal. Bahkan Sarju masih harus merogoh kocek untuk tempat pemakaman di bantaran sungai.
            Sarju tidak menyangka saat dia kembali ke rumah, hujan tiba-tiba turun dengan lebat. Sarju bergegas membawa linggis dan pacul, berlari menerobos pekatnya hujan yang semakin lebat. Di pemekaman, tubuh Sarju seakan hancur seketika saat mengetahui makan anaknya sudah dibabat habis oleh air sungai yang meluap. Sarju menyayangkan mengapa hidup anaknya sangat menyedihkan seperti itu. Hanya karena tak memiliki uang yang cukup, jasat anaknya harus hanyut terbawa sungai yang meluap.
***
Cerpen yang berjudul “Gerimis Bermata Batu” ini adalah karya Gunawan Tri Atmodjo pada Juli 2004 di kota kelahirannya, Solo. Gunawan lahir pada 1 Mei 1982. Pada lahirnya cerpen ini Gunawan masih menempuh kulih di Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS Surakarta.
            Karya sastra baik puisi, drama, cerpen, ataupun karya sastra yang lain memiliki pesan yang ingin disampaikan penciptanya. Dengan menggunakan pendekatan pragmatik, pembaca dapat memperoleh pesan sosial yang ingin disampaikan Gunawan. Pendekatan pragmatik adalah pendekatan yang memandang karya sastra dari segi pembaca.
           

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menyibak Sisi Gelap Jepang melalui Kucing Kiyoko



Menyibak Sisi Gelap Jepang melalui Kucing Kiyoko
Oleh: Wisnu Bramantyo

                Karya sastra selalu menjadi makhluk dunia perbatasan. Di satu sisi ia selalu mengulang pola-pola yang sama, namun dituntut untuk menawarkan sesuatu yang baru. Dia lahir dari individualitas pengarangnya, tapi menjadi konsumsi publik dengan multitafsirnya. Karya sastra juga merupakan hasil mimetisasi langsung dunia sekitar, namun sadar ataupun tak sadar juga mengandung simbol-simbol yang lebih dalam. Inilah yang membuat karya sastra yang unggul menjadi berbeda dengan karya sastra lainnya. Dalam pembacaan sekilas, ia akan menjadi sebuah hiburan. Selanjutnya, saat dibaca dengan lebih dalam, makna simbol-simbolnya akan terungkap lapis demi lapis, hingga menjadi sebuah karya yang memberikan pesan hidup dan perenungan yang penuh arti. Kucing Kiyoko, sebuah cerpen karya Rama Dira J ialah salah satu contoh karya sastra yang berlapis, sebuah karya yang menarik untuk dikupas lebih lanjut.
            Kucing Kiyoko mengisahkan seorang mahasiswa asal Indonesia yang kuliah di Jepang. Suatu saat, ia menemukan seorang kucing di depan flatnya. Kucing tersebut berbelang tiga, montok, terlihat terawat, namun kedinginan dan terluka cukup parah. Mahasiswa tersebut segera memberikannya makanan, susu, dan mengobatinya. Selanjutnya diketahui bahwa kucing tersebut, Takeshi, ialah kucing milik Kiyoko, tetangga flatnya, seorang wanita yang diam-diam dikagumi oleh mahasiswa tersebut. Hubungan mahasiswa tersebut dan Kiyoko dengan cepat terjalin karena faktor Takeshi. Suatu saat, ketika sedang dijamu oleh Kiyoko dengan sukiyaki di flatnya, mahasiswa tersebut menyadari sesuatu: Takeshi hilang. Ketika ia bertanya, Kiyoko menjawab bahwa Takeshi telah menjadi kulit di shamisennya. Lebih menyedihkan lagi, sukiyaki yang baru saja dimakannya juga dari daging Takeshi. Mendengar hal itu, mahasiswa tersebut merasa sangat sedih dan menyadari bahwa Takeshi adalah bagian Kiyoko yang paling ia cintai.
           

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Nilai Pendidikan dan Moral dalam Dunia Totto-chan



Nilai Pendidikan dan Moral dalam Dunia Totto-chan
Oleh: Widya Uffi Damayanti

“Sekolah seperti apa yang akan kita bangun lagi?” tanyanya kepada putranya, Tomoe, yang berdiri di sampingnya. Tomoe mendengar kata-kata ayahnya, terpana, tak kuasa berkata-kata.
Kecintaan Mr. Kobayashi terhadap anak-anak dan ketulusannya dalam mengajar jauh lebih kuat daripada api yang sekarang membakar sekolahnya. Kepala Sekolah tetap riang (2011:248).

Totto-chan: The Little Girl At The Window ditulis oleh seorang artis Jepang bernama Tetsuko Kuroyanagi dalam bahasa Jepang, kemudian pada tahun 1984 diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Dorothy Britton, dan pada tahun 2008 dialih bahasakan ke dalam bahasa Indonesia oleh Widya Kirana, judul novelnya pun berganti menjadi Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela. Tetsuko Kuroyanagi adalah seorang artis wanita yang paling disegani pada jamannya, dianggap sebagai salah satu selebriti Jepang pertama yang berhasil mendapatkan pengakuan dari dunia internasional. Selain dikagumi karena kegiatan-kegiatan amalnya bersama UNICEF, Tetsuko Kuroyanagi juga seorang penulis buku cerita anak ternama melalui Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela. Bahkan novel Totto-chan ini merupakan bacaan wajib para pendidik di negara Jepang.
Hampir sejalan dengan Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, novel anak Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela juga menceritakan sekelumit kehidupan pengarang ketika masih kecil, persahabatan dengan teman sebayanya, juga pendidikan menarik yang ditempuhnya. Bahkan kedua novel terkenal ini juga sama-sama didedikasikan untuk seorang guru luar biasa, Laskar Pelangi untuk Ibu Muslimah dan Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela untuk seorang Sosaku Kobayashi. Selain kesamaan itu, terdapat pula beberapa perbedaan, misalnya saja jika pada Laskar Pelangi Ibu Muslimah harus memutar otak untuk menyiasati kurangnya sarana pendidikan yang diterima anak didiknya, berbeda dengan Mr. Sosaku Kobayashi yang justru menunjukkan perencanaan pendidikan yang sangat luar biasa dan matang pada jaman itu—jaman meletusnya Perang Dunia II.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

TOKOH IBU DAN SISI LAINNYA DALAM SUDUT PANDANG PROSA “PADA SUATU HARI, ADA IBU DAN RADIAN”



TOKOH IBU DAN SISI LAINNYA DALAM SUDUT PANDANG PROSA
“PADA SUATU HARI, ADA IBU DAN RADIAN”
Oleh: Silka Yuanti Draditaswari

Aku melayang. Mungkin tertidur. Tanpa mimpi, hanya gelap–dan terbangun karena kesunyian, sangat aneh untuk subuh yang biasanya riuh. Tak ada azan. Tak ada kokok ayam atau saling sahut teriakan penjual sayur dan radio tukang susu. Tempat Radian kosong, tapi masih hangat. Ia belum lama bangun. Aku tertatih keluar kamar dan mendapati anak itu di depan pintu kamar mandi yang separuh terbuka. Ia berdiri, terlalu kaku. Seperti sebuah gerakan yang tertahan di udara. Sinar yang sayu menyapu wajah kecilnya.

Kutipan di atas merupakan penggalan cerpen Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian. Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian merupakan buah karya dari Arvianti Armand. Cerpen ini sendiri diterbitkan pertama kali di koran Kompas Minggu. Arvianti Armand merupakan nama baru dalam dunia sastra ketika ia menerbitkan cerpennya ini. Walaupun begitu, cerpen ini terpilih sebagai cerpen terbaik, yang pada akhirnya dibukukan dalam Antologi Cerpen Kompas Pilihan Tahun 2009. Cerpen ini mengisahkan tragedi kekerasan yang dialami seorang Ibu karena suaminya, dimana anaknya yang bernama Radian menjadi saksi mata. Memang, tidak heran jika cerpen ini terpilih menjadi cerpen terbaik kompas tahun 2009. Cerpen ini memiliki berbagai macam keunikan dalam penceritaannya. Salah satu keunikan itu terdapat pada unsur sudut pandangnya. Sudut pandang yang digunakan terdapat dua, yaitu sudut pandang pertama (tokoh Ibu) dan sudut pandang ketiga (penulis).
Apa definisi dari sudut pandang itu sendiri? Sudut pandang merupakan salah satu unsur intrinsik selain tema, latar, pesan, penokohan, alur yang membuat cerpen menjadi utuh. Sudut pandang merupakan cara pandang pengarang yang bercerita dengan menempatkan pengarang sebagai orang pertama, orang kedua, orang ketiga, atau bahkan orang yang ada di luar cerpen itu sendiri (Prabowo, 2011). Unsur ini tidak bisa dianggap remeh karena pemilihan sudut pandang juga tidak hanya akan mempengaruhi penyajian cerita, tetapi juga mempengaruhi alur cerita.
Menurut Friedman  sendiri (Prabowo, 2011), sudut pandang secara garis besar terdapat dua macam, yaitu sudut pandang orang pertama dan sudut pandang orang ketiga. Dalam sudut pandang orang pertama, pengarang menempatkan dirinya sebagai tokoh di dalam cerita yang menjadi pelaku utama. Melalui tokoh “aku” inilah pengarang mengisahkan peristiwa atau tindakan dengan kesadaran dirinya sendiri. Tokoh “aku” menjadi narator sekaligus pusat penceritaan. Sedangkan dalam sudut pandang orang ketiga, pengarang menempatkan dirinya sebagai narator yang berada di luar cerita, atau tidak terlibat dalam cerita. Dalam sudut pandang ini, narator menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut namanya atau kata gantinya “dia” atau “ia”.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MAKNA KEMERDEKAAN MASA DEPAN DIBALIK CERPEN ‘’MERDEKA’’ KARYA PUTU WIJAYA



MAKNA KEMERDEKAAN MASA DEPAN DIBALIK CERPEN ‘’MERDEKA’’
 KARYA PUTU WIJAYA
Oleh: Marinda Agustina
 
Putu Wijaya banyak melahirkan karya-karya yang patut diperhitungkan dalam khasanah sastra Indonesia. Banyak karyanya yang telah dipublikasikan baik yang berbentuk cerpen maupun drama. Karya-karyanya kebanyakan dituangkan secara simbolik melalui pemaknaan yang sangat kaya yang pada akhirnya akan melahirkan jutaan persepsi pada masing-masing pembaca. Putu Wijaya disebut sebagai sastrawan yang serba bisa karena telah banyak menghasilkan karya yang berjumlah kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esai, artikel lepas, dan kritik drama. Bahkan, beliau juga menulis skenario film dan sinetron. Sebagai dramawan, Putu Wijaya  memimpin Teater Mandiri sejak tahun 1971. Putu Wijaya juga telah mementaskan puluhan lakon di dalam maupun di luar negeri. Puluhan penghargaan ia raih atas karya sastra dan skenario sinetron. Cerpen-cerpennya banyak bertebaran di Harian Kompas dan Sinar Harapan. I Gusti Ngurah Putu Wijaya yang dikenal dengan sebutan Putu Wijaya, dilahirkan di Puri Anom, Tabanan, Bali pada tanggal 11 April 1944, bukan dari keluarga seniman. Putu mengaku belajar banyak dari Tempo dan Goenawan Mohamad.   Tulisan Putu Wijaya dalam karya-karyanya banyak memberikan gambaran tentang kehidupan dan kemanusiaan yang disampaikan secara implisit, sehingga para pembaca harus memaknai sendiri tentang karya tersebut. Hal ini tentunya akan menciptakan persepsi-persepsi yang berbeda pada masing-masing pembaca. Tergantung pada seberapa besar pemahaman seorang pembaca untuk menguak setiap rahasia yang tersimpan dibalik sebuah karya sastra.
Putu Wijaya disebut sebagai sastrawan yang serba bisa karena telah banyak menghasilkan karya yang berjumlah kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esai, artikel lepas, dan kritik drama. Bahkan, beliau juga menulis skenario film dan sinetron. Sebagai dramawan, Putu Wijaya  memimpin Teater Mandiri sejak tahun 1971. Putu Wijaya juga telah mementaskan puluhan lakon di dalam maupun di luar negeri. Puluhan penghargaan ia raih atas karya sastra dan skenario sinetron. Cerpen-cerpennya banyak bertebaran di Harian Kompas dan Sinar Harapan. I Gusti Ngurah Putu Wijaya yang dikenal dengan sebutan Putu Wijaya, dilahirkan di Puri Anom, Tabanan, Bali pada tanggal 11 April 1944, bukan dari keluarga seniman. Putu mengaku belajar banyak dari Tempo dan Goenawan Mohamad. Dalam sebuah tulisannya Putu Wijaya mengatakan bahwa, ''Menulis adalah menggorok leher tanpa menyakiti,'' katanya, ''bahkan kalau bisa tanpa diketahui.'' Kesenian diibaratkannya seperti baskom, penampung darah siapa saja atau apa pun yang digorok: situasi, problematik, lingkungan, misteri, dan berbagai makna yang berserak. Dalam pernikahannya yang kedua, Putu Wijaya dikaruniai seorang anak yang kemudian diberi nama Taksu. Nama Taksu ini beberapa kali muncul dalam cerpen-cerpennya. Bahkan, dalam cerpen yang akan saya ulas ini, lagi-lagi nama ini juga muncul sebagai tokoh pemicu pembangunan konflik dalam cerita ini. Bagi Putu Wijaya, rumah tangga baginya sebuah "perusahaan". Apa pun diputuskan berdasarkan pertimbangan istri dan anak, termasuk soal pekerjaan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

REALITAS SOSIAL DAN GLOBAL WARMING DALAM “POHON KERES” KARYA IIS WIATI



REALITAS SOSIAL DAN GLOBAL WARMING DALAM
“POHON KERES” KARYA IIS WIATI
Oleh: Lailinda Nurjanah
 
Kebajikan dan ajaran hidup yang dikemukakan, diajarkan dan diteladani oleh pribadi manusia. Seperti ajaran orang tua yang diajarkan kepada anak. Perbuatan yang bijak dari orang tua yang memberikan contoh kepada anak. Ajaran alam yang disampaikan oleh anak kepada orang tua. Tentu kesemuanya memberikan petunjuk demi kebaikan manusia, alam dan kepercayaannya masing-masing. Akan tetapi tidak semua manusia mensyukuri dengan apa yang telah diberikan dan lebih percaya dengan hal-hal yang tampak nyata tanpa memperhatikan unsur batin.
Demikianlah sekilas tentang pesan yang ada dalam karya sastra yang bejudul “Pohon Kersen”. Iis Wiati sebagai pengarang menyajikan sebuah karya sastra yang sarat dengan unsur alam. Selain itu pengarang juga mendeskripsikan unsur alam tersebut dengan kondisi masyarakat Indonesia tepatnya jawa masih mempercayai hal-hal mistis dan dianggap isu. Kesialan dan musibah yang dikaitkan dengan perbuatan-perbuatan yang tidak bisa diteladani oleh manusia seharusnya.
Karya sastra “Pohon Kersen” diceritakan dengan latar belakang orang jawa. Cerita ini dikemas dengan alur maju-mundur. Karya sastra ini menceritakan tentang seorang ibu yang awalnya heran dengan puisi yang dibuat oleh anaknya, yakni tentang pohon kersen yang akan ditebang. Pohon kersen yang dimaksud berada didepan rumah. Pohon kersen yang hampir setiap hari ramai dengan orang-orang sekitar ini berlokasi sangat strategis. Dimana anak-anak bermain, bersepeda atau sekedar berkumpul denan anak tetangga lainnya.
Awalnya pohon kersen ini masih kecil, tetapi karena dijaga oleh tokoh ibu ayah dan anknya akhirnya pohon kersen itu semakin besar, tinggi dan rindang. Sehingga nyaman dipakai untuk tempat berkumpul orang-orang kampung. Dulu sebelum ada pohon kersen banyak orang yang segan berkumpul atau belanja sayur bersama. Sering juga diakai oleh penjual-penjual sayur dan kue-kue sekedar berhenti dan menjual daganggannya. 
Konfliknya “Pohon Kersen” dimulai denga ketika anak sangat bersedih dan jengkel dengan sikap tetangga yang seenaknya mau menebang pohon kersen. Kemudian tokoh ibu yang mencoba menenangkan anaknya yang sangat iba itu. Namun memang semua sia-sia karena pohon kersen yang akarnya dianggap menganggu itu akan ditebang. Sebenarnya ada cerita tersendiri lainnya tentang pohon kersen tersebut.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Antara Politik Sengkuni dan Anas Urbaningrum Telaah Cerpen berjudul “Sengkuni” karya Sri Wintala Achmad



Antara Politik Sengkuni dan Anas Urbaningrum
Telaah Cerpen berjudul “Sengkuni” karya Sri Wintala Achmad

Oleh: Johan Slamet Raharjo

Bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap katon  lir genjanging sang maweh gandrung ong... Suluk yang biasa dikumandangkan seorang seorang dalang untuk menggambarkan suasana dunia pewayangan dalam keadaan tidak tentram. Suluk tersebut tanpa sadar menjalar, melewati sekat-sekat pembatas diantara dua dunia. Kini perbawa suluk telah menyelelimuti bumi nusantara yang tidak lagi akan ada pergantian penguasa.
Serupa blencong, matahari yang tengah memamerkan sosoknya dari balik bentangan bukit timur kembali membuka kisah baru tentang kehidupan. Kisah baru yang sesungguhnya hanya pengulangan-pengulangan kisah lama. Berputar layaknya zin-yang. Lingkaran hitam-putih yang mengelabu hingga tak terlacak dengan pandangan mata wadhag dimana batas keduanya. Kejahatan dan kebajikan yang selalu dibenarkan menurut dasar kepentingan.
Hanya tinggal menunggu beberapa bulan saja, rakyat akan melihat bagaimana para tokoh agama, kaum bangsawan, negarawan, dan ksatria berjuang memperebutkan singgasana. Sang raja yang kini dalam masa akhir pemerintahan tentu tidak ingin pembangunan yang telah rintis selama dasawarsa ini terbuang percuma. Ia ingin pembangunan itu dilanjutkan oleh putra mahkota. Namun ada hal membuat raja gusar.
Kegusaran sang raja bersumber dari beberapa abdi dalem  yang oleh masyarakat diketahui tengah terlibat kasus korupsi. Abdi dalem yang diduga terlibat dalam kasus korupsi tersebut kebanyakan berasal dari kalangan partai yang selama ini menjadi tunggangan sang raja. Jika hal terus dibiarkan maka akan meruntuhkan citra baik dirinya sendiri, keluarga, serta partai tunggangannya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mengorek Nilai Didaktis Melalui Cerpen “Peradilan Rakyat” karya Putu Wijaya



Mengorek Nilai Didaktis Melalui Cerpen “Peradilan Rakyat”
karya Putu Wijaya

Oleh: Fryskatana Wira Stya M


I Gusti Ngurah Putu Wijaya yang akrab kita dengar Putu Wijaya ini merupakan sastrawan yang serba bisa. Sastrawan yang dilatar belakangi lulusan Fakultas Hukum di UGM dengan gelar sarjana pada tahun 1969 dan juga pernah belajar seni di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) ini tetap aktif dalam kegiatan menulis cerpennya.
Tahun 2006 Putu Wijaya kembali menuangkan pemikirannya lewat cerpen yang berjudul Peradilan Rakyat dengan menciptakan tokoh utama seorang pengacara muda (anak) cerdas yang sangat profesional dan pengacara tua (ayah) yang sangat terkenal dan dihormati oleh para penegak hukum. Cerpen ini menggambarkan wajah peradilan yang ada di negeri ini, sebab dalam cerpen ini pengarang sangat paham mengenai keadaan politik, sosial, serta moral yang ada di negara ini. Permasalahan untuk menulis cerpen ini muncul ketika banyak oknum pejabat yang banyak melakukan pelanggaran hukum. Dalam cerpen ini Putu Wijaya mengungkapkan kritikannya terhadap kasus mafia-mafia (markus) yang telah membudaya di negeri ini pada masa Ketua Mahkamah Agung (MA) Bagir Manan. Komisi Yudiasial pada waktu itu telah mengajukan 28 hakim untuk dijatuhkan sanksi terkait pelanggaran, namun rekomendasi tersebut tidak ada satu pun yang ditindaklanjuti. Di era kepemimpinan Harifin A. Tumpa, dari 11 hakim yang dijatuhi sanksi hanya ada dua yang ditindaklanjuti. Keadaan negeri yang carut marut membuat para pelaku mafia kasus bisa menghindari jeratan hukum apabila mereka bisa menyewa pengacara terkenal sekaligus menyuap aparat negara. Seperti yang terdapat dalam kutipan cerpen berikut.
...
"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka.
...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menyelami Gejolak Batin Cinta Melalui Tokoh Cerpen “Sepasang Maut” karya Moh. Wan Anwar



Menyelami Gejolak Batin Cinta Melalui Tokoh Cerpen “Sepasang Maut” karya Moh. Wan Anwar
Oleh: Elok Kholidiyah

Cinta? Apa itu cinta? Semua manusia merasakan unsur kimia bernama cinta. Unsur yang diletakkan dalam hati manusia. Kedatangannya tidak pernah terduga, hanya kesakitannya terkadang mengisyaratkan.  Jika kita menyelami kata sakral  bernama “cinta” sungguh tidak tahu berapa luasnya dan dalamnya makna cinta itu. Cinta sangat bermakna karena  cinta merupakan anugerah dari Tuhan untuk semua insan. Tetapi apa yang terjadi jika cinta itu hadir hanya  sesaat?Tidak menjadi masalah bagi kita, terkadang hati memang mudah terbolak-balik bahkan hati dapat terkikis seperti karang laut. Selama ini, di mata semua orang cinta memang  tidak pernah salah, yang salah terkadang hanya tindakan dan perlakukan manusia terhadap memaknai cinta. Jika ada cinta yang hadir  sesaat, bagaimana jika cinta itu hadir untuk selamanya bahkan sampai menjadi cinta mati? Semua orang pasti ada yang mengalami cinta buta atau mati. Cinta memang dapat mematikan hati bahkan membutakan mata hati seseorang. Perasaan cinta yang terlalu dalam terhadap suatu hal dapat menimbulkan gejolak batin yang sangat dalam. Bahkan seseorang tersebut dapat menjadi pribadi yang berubah baik dari segi kehidupan maupun pemikirannya. Gejolak batin pada cinta yang terlalu dalam juga dapat membuat seseorang lupa akan segalanya bahkan lupa akan makna hidupnya sendiri di dunia. Padahal hari selalu berganti dengan memberikan warna dan cermin yang baru tetapi gejolak batin cinta yang terlalu dalam juga dapat  menenggelamkan warna dan makna hidup di dunia. Itulah cinta dapat dinilai dari titik mana saja tergantung sesoerang memandang dan merasakan kehadiran cinta dalam hidupnya. 
Berbicara mengenai cinta, banyak karya sastra seperti cerpen, puisi, dan drama yang bertemakan cinta. Tema-tema cinta yang diangkat oleh pengarang tidak lepas dari karya-karya sastra sebelumnya. Selain itu, tidak hanya pengaruh karya sastra sebelumnya,  bisa saja karya sastra yang tercipta itu dari pengalaman pengarang sendiri. Justru karya-karya sastra yang tercipta dari pengalaman pengarang akan terlihat penonjolan pada kebatinanan. Ada beberapa cerpen yang bertemakan cinta tetapi ketertarikan hati ketika menengok tentang cinta yang dalam akan sesuatu hal, hati ini ingin berlabuh pada cerpen yang berjudul “Sepasang Maut”. Cerpen yang berasal dari salah satu  kumpulan cerpen Sepasang Maut  terbitan tahun 2009 karya Mohammad Wan Anwar ini sangat menggelitik hati. Cerita memang hanya dikemas secara sederhana tetapi di dalam cerita terdapat makna yang dalam. Tidak hanya makna yang dalam tetapi pelukisan tentang cinta sangat indah dipasangakan dengan keindaahan alam laut. Jika dipandang lebih jauh,  alur cerita juga tidaklah begitu bagus tetapi penggambaran dalam setiap bagian dalam cerita sangatlah indah. Hal tersebut dapat terlihat dari penggambaran tokoh dan penokohan pada cerpen tersebut yang digambarkan secara indah dengan membandingakan keindahan alam. Tokoh dalam cerpen ini seperti mengalami gejolak cinta. Oleh karena itu tokoh dalam cerpen ini perlu diselami dari segi gejolak batin cintanya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PESAN ‘CERITA DARI TAPAL BATAS’ OLEH KURNIA HADINATA



PESAN ‘CERITA DARI TAPAL BATAS’ OLEH KURNIA HADINATA
Oleh: Dwi Sastra Nurokhma

Suatu karya diciptakan untuk dibaca dan diapresiasi. Penciptaan suatu karya secara tidak langsung diniatkan untuk dapat mempengaruhi pembaca. Akan tetapi, cara setiap individu dalam menyikapi suatu hal tentu berbeda. ‘Cerita dari tapal batas’ yang mengisahkan mengenai kehidupan seorang prajurit selama dia ditugaskan di salah satu wilayah terluar Indonesia yang sedang terjadi konflik yaitu Papua tentu melahirkan berbagai persepsi berbeda dari para pembacanya.
Ada kalanya pembaca akan berpikir bahwa pengarang menciptakan ‘Cerita Dari Tapal Batas’ agar masyarakat Indonesia yang memiliki skemata bahwa aparat bukan pengayom masyarakat akan tetapi musuh masyarakat dapat berubah. Akan timbul pula pendapat bahwa aparat yang bertugas dan masyarakat Papua hanyalah korban. Berbagai persepsi yang timbul dalam benak saya menggiring saya untuk lebih mengerti siapa pengarang dan apa yang terjadi di di Papua sehingga memacu pengarang untuk menciptakan cerpen tersebut.
Pengarang sendiri dilahirkan 17 Desember 1981 silam di kota budaya Batusangkar, Sumatera Barat. Merupakan alumnus Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa Sastra dan Seni (FBSS) Universitas Negeri Padang (UNP) tahun 2004. Dari sedikit data yang saya peroleh mengenai pengarang, tentu pengarang bukan orang yang mengalami langsung menjadi masyarakat Papua yang hidup di lingkungan konflik. Pengarang juga bukan seorang mantan atau calon prajurit yang ditugaskan di wilayah konflik.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menguak Simbol Kisah Cinta Indonesia dalam Cerpen “Menanti Cinta Sejati” Karya Afifah Afra



Menguak Simbol Kisah Cinta Indonesia dalam Cerpen
“Menanti Cinta Sejati” Karya Afifah Afra
Oleh: Anjar Aprilia Kristanti

Pendahuluan
            Karya sastra merupakan suatu sistem tanda yang memiliki makna. Banyak ditemukan tanda-tanda yang menjadi simbol dari sesuatu yang diacunya. Sebagian besar simbolisasi dalam suatu karya sastra bertujuan untuk menambahkan nilai estetika dalam karya tersebut, dan membiarkan karya mereka membekas di hati pembaca karena adanya proses berfikir untuk menguak simbol-simbol tersebut. Akan jadi biasa ketika suatu karya dikemas secara lugas dan mudah dimengerti, maka karya tersebut hanya akan numpang lewat sebagai penghibur pembacanya. Seorang pembaca akan dituntut untuk menemukan hubungan penandaan itu secara kreatif. Tanda yang berubah menjadi simbol dengan sendirinya akan dibubuhi sifat-sifat kultural, situasional, kondisional (Suwignyo, 2010:119). Afifah Afra memiliki salah satu tulisan yang terdapat simbol-simbol bermakna dan dekat dengan kehidupan sehari-hari sebagai warga Negara Indonesia. Kehadiran simbol-simbol yang disajikan Afifah Afra dalam cerpen ini berada dalam tiap unsur cerpen sehingga pembahasan ini tidak bisa jauh dari pendekatan objektif. Pada tulisan ini lebih fokus pada salah satu unsur, unsur cerpen yang paling tampak simbolisasinya, mudah dikuak dan merupakan kunci untuk memahami cerpen ini terletak pada bagian tokoh dan penokohan yang digambarkan. Selain itu, dalam tulisan ini juga mengangkat beberapa kejadian dalam dunia nyata yang tersirat dalam simbol-simbol tersebut. 
            Banyak kejadian yang dialami Indonesia mulai dari tuntutan rakyat untuk merdeka hingga mempertahankan kemerdekaan tersebut. Cerpen inilah potret dari beberapa kejadian yang terjadi, cerpen ini menceritakan sejarah Indonesia mulai dari jaman penjajahan luar Negeri hingga “penjajahan” lokal. Tidak sesederhana konsep ceritanya, penyampaian cerita dalam cerpen ini dikemas dengan banyak simbol yang bisa hadir melalui pemikiran yang kreatif oleh Afifah Afra. Cerita tragis Indonesia ini dikemas dalam cerita cinta antara Indonesia dengan ‘kekasih-kekasihnya’ yang sebenarnya merupakan pihak yang berperan dalam insiden kemerdekaan hingga pemertahanan kemerdekaan. Tulisan ini akan sedikit mengulas cerita nyata dalam cerpen ini sambil menjelaskan simbol-simbol yang Afifah Afra berusaha sampaikan. Siapakah Afifah Afra? Nama itu sebenarnya nama pena dari Yeni Mulati Sucipto. Wanita kelahiran Purbalingga, 18 Februari 1979 menuliskan dalam blog pribadinya menyatakan bahwa dirinya termasuk remaja yang pemikirannya mungkin telah melampaui usianya. Di saat remaja-remaja lain lebih menyenangi dunia remaja yang penuh warna, Afra telah memenuhi ruang memori dengan bacaan-bacaan yang berat seperti sains, sejarah, sosial budaya, religi maupun politik, selain itu Afra memang penggemar buku sejak kecil. Membaca adalah bagian yang cukup penting dalam kehidupannya. Bahkan, membaca telah menjadi semacam kebutuhan pokok, layaknya makan dan minum. Dilihat dari hobinya dari remaja, wajarlah cerpen ini lahir bertolak dari situasi-situasi sosial-budaya yang mungkin diilhami ketika membaca maupun merasakannya langsung.
           

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Imajinasi Dewi Lestari dalam Filosofi Kopi


                                               Imajinasi Dewi Lestari dalam Filosofi Kopi

Oleh: Agustine Martha Suwandari
 
            Perlu perkenalan untuk memulai sebuah tulisan ini, yang pertama adalah pengarang cerita yaitu penulis terkenal Dewi Lestari Simangunsong. Ia akrab dipanggil dengan sebutan Dee. Ia mulai dikenal sebagai novelis mulai dari tahun 2001 dengan keluarnya novel pertama yaitu Supernova.  Buku fiksi yang lain dari Dewi Lestari adalah Rectoverso, Perahu Kertas, dan Filosofi Kopi, Folosofi kopilah yang akan saya angkat dalam tulisan ini. Filosofi Kopi adalah salah satu cerpen dalam buku fiksinya yang berjudul Filosofi Kopi. Di dalam cerpen ini Dewi Lestari berusaha menghadirkan bagai mana usaha keras seorang yang memiliki hobi terhadap kopi dan memaknai kopi dari sudut pandang kehidupan. Perlu cerita sinkat untuk mendalami tulisan ini:
            Menceritakan tentang hiruk pikuk kehidupan Ben dan Jody mengenai kopi. Ben merupakan seorang barista atau peracik yang mahir dalam meramu kopi. Bersama Jody, dia mendirikan suatu kedai kopi yang disebut Filosofi Kopi Temukan Diri Anda Di Sini. Ben memberikan sebuah deskripsi singkat mengenai filosofi kopi dari setiap ramuan kopi yang disuguhkannya di kedai tersebut. Kedai tersebut menjadi sangat ramai dan penuh pengunjung. Suatu hari, seorang pria kaya raya memberikan tantangan kepada Ben untuk membuat sebuah ramuan kopi yang apabila diminum akan membuat kita menahan napas saking takjubnya, dan cuma bisa berkata: hidup ini sempurna, dan Ben berhasil membuatnya. Ramuan kopi yang disebut Ben's Perfecto tersebut menjadi yang minuman andalan cafe itu. Hingga pada suatu ketika datang seorang pria dan mengatakan bahwa rasa kopi tersebut hanya lumayan enak rasanya dibandingkan kopi yang pernah dicicipinya di suatu lokasi di Jawa Tengah. Ben dan Jody yang merasa gagal dan penasaran langsung menuju lokasi tersebut. Mereka menemukan secangkir kopi tiwus yang disuguhkan oleh pemilik warung reot di daerah tersebut. Ben dan Jody meminum kopi tersebut tanpa berbicara sedikitpun, dan hanya meneguk serta menerima tuangan kopi yang disuguhkan oleh pemilik warung tersebut. Kopi tersebut memiliki rasa yang sempurna dan ada cerita serta filosofi yang menarik dari kopi tersebut. Ben yang merasa gagal kembali ke Jakarta dan putus asa. Untuk mencari tahu cara menghibur temannya, Jody kembali menemui pemilik warung di Jawa Tengah tersebut dan sepulangnya dari sana, dia menghidangkan Ben segelas Kopi Tiwus. Bersamaan dengan kopi tersebut, dia menmberikan sebuah kartu bertuliskan "Kopi yang Anda minum hari ini Adalah: "Kopi Tiwus. Walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya". Pada akhirnya Ben sadar bahwa dia selama ini mengambil jalan hidup yang salah, dan Ben juga sadar bahwa hidup ini tidak ada yang sempurna. Dengan demikian Ben kembali sadar dan melanjutkan perjuangan serta hobinya di kedai filosofi kopi.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KEHARUAN YANG DIBUAT-BUAT DALAM CERPEN SEPOTONG TANGAN KARYA RATIH KUMALA



KEHARUAN YANG DIBUAT-BUAT DALAM CERPEN SEPOTONG TANGAN KARYA RATIH KUMALA

Oleh: Windy Tiarasari Budiono


Membaca judul cerpen ini saja sudah menakutkan. Sepotong Tangan. Seperti menonton film horor. Namun berbeda dengan film atau novel horor. Ini adalah cerpen karya Ratih Kumala yang pernah dimuat di harian Republika pada tanggal 18 Mei 2007. Dari judulnya memang menimbulkan sebuah misteri. Efek ngeri yang ditimbulkan setelah membaca cerpen ini karena memang terdapatnya peristiwa yang sebenarnya sudah kerap terjadi akhir-akhir ini, yaitu mutilasi. Namun efeknya lain saat peristiwa itu dibuat lain dalam kemasan untuk baca.
Cerpen ini mengisahkan tentang seorang laki-laki yang ditinggal mati oleh istrinya. Laki-laki itu bingung setelah secara tiba-tiba ditinggal mati oleh sang istri. Kebingungan itu lebih dikarenakan suami yang selalu dimanjakan oleh istri setiap harinya. Pernikahan mereka selama tiga puluh tujuh tahun pun tidak dikaruniai seorang anak. Oleh karena itu, saat sang istri meninggal ia bingung atas apa yang harus dia lakukan, termasuk mengurusi mayat istrinya sendiri. Ia menginginkan istrinya dikuburkan dengan layak tapi tidak tahu bagaimana caranya. Saat ia meminta pertolongan kepada saudara istrinya, kelakuannya malah membuat takut orang-orang yang melihatnya. Itu semua karena ia pergi mencari pertolongan dengan membawa tangan kanan istrinya yang telah ia potong dengan gergaji mesin.
Secara keseluruhan sepertinya pengarang ingin menampakkan sisi lain laki-laki yang ditinggal mati oleh istrinya. Menunjukkan bagaimana kondisi dan ekspresi yang timbul pada laki-laki yang sendiri tanpa istri maupun anak. Pengarang mengambil latar di kehidupan nyata dengan sedikit mengulas kehidupan sepasang suami istri. Namun setelahnya hal-hal yang kemudian terjadi seperti di luar akal pikiran manusia. Lelaki memotong tangan istrinya sendiri dengan alasan untuk menguatkan dirinya. Perbuatannya itu seolah berlainan dengan kecintaannya yang sangat besar kepada sang istri. Pengarang kurang menggambarkan secara detil seberapa besar cintanya kepada istri. Lelaki atau sang suami tidak melakukan perbuatan besar yang menggambarkan rasa cinta.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Nilai Religius dalam Cerpen “Di Bawah Langit Kabah” Karya Gola Gong



Nilai Religius dalam Cerpen “Di Bawah Langit Kabah” Karya Gola Gong
Oleh: Wanda Satria Dewanty

Gola Gong adalah sebuah nama pena dari seorang sastrawan kita yaitu Heri Hendrayana Harris. Lahir di Purwakarta, 15 Agustus 1963. Ia adalah pendiri Rumah Dunia di Serang, Banten. Tulisan-tulisannya telah di muat di berbagau media massa dan terbit berupa buku. Gola Gong lahir dari seorang bernama Atisah sedangkan ayahnya bernama Harris. Pada tahun 1965 ia dan orangtuanya meninggalkan Purwakarta menuju ke Serang dan tinggal disana. Nama Gola Gong sendiri memiliki arti kesuksesan itu semua berasal dari Tuhan.  Pada usia 11 tahun Gola Gong kehilangan tangan kirinya karena kecelakaan ketika bermain dengan teman-temannya di masa kecil. Tetapi hal itu tidak membuatnya sedih karena ayahnya menegaskan jika dia banyak membaca maka dia akan menjadi seseorang dan lupa bahwa dirinya cacat.
Pada usia 33 tahun Gola Gong menikah dengan seorang gadis asal Solo bernama Tias Tatanka. Dari pernikahannya mereka dikaruniai empat orang anak yaitu Bella, Abi, Didi, dan Kako. Saat in Bella meneruskan kiprah ayahnya yaitu menulis novel yang tergabung dalam KKPK (Kecil-kecil Punya Karya). Impiannya sejak remaja untuk memiliki gelanggang remaja telah terwujud dengan didirikannya komunitas kesenian Rumah Dunia pada tahun 2008 dan sejak tahun 2000 komunitas ini berada di atas tanah 1000 m2 di belakang rumahnya. Banyak sekali karya sastra yang telah ia hasilkan antara lain Balada Si Roy dengan berbagai seri, Happy Valentine (novel), Bangkok Love Story (novel), Surat (novel), Kacamata Sidik (kumpulan cerpen), Aku Seorang Kapiten (novel anak), Hari Senjakala (novel), Mata Elang (komik), dan sebagainya. Kemudian pada tahun 2007 kumpulan cerpen karya Gola Gong “Musafir” diterbitkan oleh Salamadani. Dalam kumpulan cerpen tersebut terdapat lima belas cerpen karya Gola Gong dan salah satunya berjudul “Di bawah Langit Kabah”. Nilai religius/ keagamaan dalam cerpen ini sudah terlihat sehingga pendekatan yang digunakan pendekatan objektif.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Carut Marut Kinerja Pegawai Pemerintahan dalam Cerpen “Pelamar” Karya AA Navis



Carut Marut Kinerja Pegawai Pemerintahan dalam Cerpen “Pelamar” Karya AA Navis
Oleh: Sera Senggani
 
            Nama lengkapnya adalah Ali Akbar Navis dan biasa dikenal dengan AA Navis. Seorang AA Navis tentu gaungnya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Seorang sastrawan tersohor yang melahirkan sebuah cerpen fenomenal berjudul “Robohnya Surau Kami”. Cerpen tersebut telah meraih hadiah kedua majalah Kisah. Sampai akhir hayatnya, pada 23 Maret 2003 di Padang, lelaki kelahiran Padang Panjang , 17 November 1924 ini, termasuk satu diantara sedikit sastrawan Indonesia yang tetap setia dan secara terus menerus menggeluti proses kreatifnya di bidang penulisan karya sastra. Sedikitnya sudah 11 buku karya AA Navis yang telah diterbitkan. Bagi AA Navis menulis adalah salah satu alat dalam kehidupannya. Ketika ia ditanya mengapa ia menulis sepanjang hidup, ia menjawab “Soalnya, senjata saya hanya menulis” (Kompas, Minggu, 7 Desember 1997). Dengan prinsip itulah, sastrawan ini mampu melahirkan karya-karya terkenal seperti, “Bianglala(1963)”, “Hujan Panas(1964)”, “Kemarau(1967)”, “Jodoh(1966)”. Berbagai tema muncul dalam cepen AA Navis. Tema keagamaan seperti dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” dan “Kemarau”. Tema historis melekat pada antologi cerpen Hujan Panas dan Kabut Musim. Lalu sorotan terhadap situasi kehidupan berbangsa secara sinis dari orde ke orde hingga zaman reformasi terdapat pada antologi cerpen Bertanya Kerbau pada Pedati. Salah satu cerpen yang menarik karya AA Navis adalah “Pelamar”. Meskti tidak sefenomenal karya yang lain, namun karya ini memberikan pandangan lain tentang kondisi sistem pemerintahan kecil di Indonesia. Ide cerpen “Pelamar” tersebut muncul ketika Navis melihat seorang anak muda tamatan SMA yang mencari pekerjaan di kantor tempat kerjanya.
            Banyak hal menarik yang disuguhkan Navis melalui cerpen “Pelamar” ini. Suatu realita sosial yang disaksikan oleh penulisnya itu sendiri, lalu dituangkan dalam sebuah karya sastra. Kesulitan ekonomi yang dihadapi oleh sebuah keluarga, membuat seorang Bidin, harus berjuang keras untuk menamatkan jenjang SMAnya demi mendapatkan pekerjaan yang berpangkat di kantor desa. Dari cerpen ini terdapat sebuah paradigma kehidupan, yang dianut oleh tokoh Bidin, bahwa seseorang akan hidup senang jika ia memiliki pangkat atau kedudukan. Kedudukan dan pangkat tesebut bisa ia peroleh jika ia berpendidikan tinggi. Sebuah paradigma yang masih bertahan hingga sekarang. Untuk itulah Bidin bersusah payah menamatkan SMA nya, karena pada masa itu jarang sekali orang yang bisa melanjutkan sampai jenjang SMA.  Hal itu tampak pada kutipan cerpennya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

FORMULA PENULISAN NOVEL CINTA SUCI ZAHRANA KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY



FORMULA PENULISAN NOVEL CINTA SUCI ZAHRANA
KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY

Oleh: Rohim Efendi

Sastra populer adalah sastra yang populer pada masanya dan banyak pembacanya, khususnya pembaca di kalangan remaja. Sastra populer tidak menampilkan permasalahan kehidupan secara intens. Sebab jika demikian, sastra populer akan menjadi berat dan berubah menjadi sastra serius (Nurgiantoro, 1998:18). Sebutan sastra populer mulai merebak setelah tahun 70-an. Sering pula sastra yang terbit setelah itu dan mempunyai fungsi hiburan belaka, walaupun bermutu kurang baik, tetap dinamakan sebagai sastra populer atau sastra pop (Kayam, 1981: 82). Sastra populer adalah semacam sastra yang dikategorikan sebagai sastra hiburan dan komersial. Kategori hiburan dan komersial ini disangkutkan pada selera orang banyak.

Biasanya sastra populer bersifat artifisial atau bersifat sementara, cepat ketinggalan zaman, dan tidak memaksa orang untuk membacanya sekali lagi. Oleh karena itu sastra populer cepat dilupakan pembacanya apalagi dengan munculnya karya sesudahnya (Nurgiyantoro, 1998: 20). Menurut Kayam (1981: 88) sastra populer adalah perekam kehidupan, dan tidak banyak memperbincangkan kembali kehidupan dalam serba kemungkinan. Ia menyajikan kembali rekaman-rekaman kehidupan itu dengan harapan pembaca akan mengenal kembali pengalaman-pengalamannya sehingga merasa terhibur karena seseorang telah menceritakan pengalaman-pengalamannya itu. Sastra populer yang baik akan mengundang pembaca untuk mengidentifikasikan dirinya.

Sastra populer lebih mengejar selera pembaca komersial. Kategori sastra ini tidak akan menceritakan sesuatu yang bersifat serius sebab akan mengurangi jumlah penggemarnya. Sastra populer lebih mudah dibaca dan lebih mudah dinikmati. Ia tidak berpretensi mengejar efek estetis, melainkan memberikan hiburan langsung dari isinya. Isinya pun tergolong ringan, tetapi masih aktual dan menarik. Contoh sastra populer Indonesia misalnya, puisi-puisi remaja yang terbit di majalah-majalah, cerpen percintaan remaja, novel Laskar Pelangi, Ayat-ayat Cinta, ketika cinta bertasbih, cinta suci Zahrana dan lain sebagainya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Duka Nasionalisme dalam Cerita dari Tapal Batas Karya Kurnia Hadinata



Duka Nasionalisme dalam Cerita dari Tapal Batas Karya Kurnia Hadinata
Oleh:  Rizki Rohma

Kehidupan manusia dari waktu ke waktu selalu memiliki warna-warni yang berbeda bak pelangi berwarna-warni terlihat cantik jika rintikan air membasahi bumi. Usaha kerja keras untuk memberikan warna yang berbeda pada tiap insan mewarnai ikhtiar seorang hamba bertahan pada dunia yang terkadang tak bisa bersahabat. Air mata, senyuman, derap langkah yang takpernah berhenti, kedua tangan yang selalu sibuk dengan kreatif yang diciptakan mengalir bak air yang tak pernah berhenti. Kreativitas itu tak pernah berhenti walau sampai helaian rambut memutih, keriput menghiasi wajah, dan derap langkah semakin melemah. Lakon cerita pada tiap jalan hidup tak pernah habis untuk dituliskan pada secarik kertas, setumpuk buku, dan segudang arsip. Pada secarik kertas yang berbendel nyata ataupun tidak nyata kisah kehidupan yang dilukiskan semua terwujud dalam sebuah prosa. Penghayatan dari berbagai fenomena hidup atau imajinatif yang dipadu dengan estetika menghasilkan karya sastra berwujud cerita pendek atau novel. Pengarang melukiskan tokohnya lengkap dengan segala alur dan konflik dirangkai dengan kata yang indah dan imajinatif dan sarat akan estetika.
Gaya penceritaan pengarang dalam merangkaikan kata menjadi kalimat menjadi paragraf dan menghasilkan cerita mampu membawa penikmat sastra menikmati cerita yang disuguhkan lengkap dengan maksud yang hendak disampaikan. Untuk mengungkapkan makna dibalik cerita yang tertulis pada lembar-lembar kertasnya pengarang memasukan unsur-unsur seperti tokoh, alur, latar dan tema.  Inti dari cerita atau pesan dapat dirasakan penikmat sastra melalui tema atau tokohnya tergantung pengarang itu melukiskannya dan kebermaknaan dari tulisan pengarang itu sampai pada pemaknaan penikmat karyanya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

“Sekayu” Karya Nh. Dini Sebagai Catatan Kearifan Lokal



“Sekayu” Karya Nh. Dini Sebagai Catatan Kearifan Lokal
Oleh: Redhitya Wempi Ansori


Kepada ramuna guruku
Kepada kampungku sekayu
Dengan harapan dia tidak akan
Berganti nama di masa mendatang

Itulah cuplikan yang dituliskan Nh. Dini untuk mengawali cerita-cerita dalam novel yang berjudul sekayu, novel yang ditulis dengan latar desa tempat tinggal masa kecilnya yang penuh dengan kenangan dan lika-liku hidup. Kenangan ketika ayahnya masih hidup dan dan menemani hari-harinya menjalani berbagai aktivitas pada masa kecilnya hingga ia jadikan pundi-pundi inspirasi dalam karya-karyanya termasuk dalam sekayu . dalam kehadirannya suatu karya sastra tidak akan pernah lepas dari suatu proses kreatif yang selalu mendampingi terciptanya suatu karya sastra. Proses kreatif yang dialami Nh. Dini dalam menciptakan karya-karyanya termasuk novel sekayu adalah pengalaman dan kisah-kisah hidupnya pada masa kecil hingga ia remaja bahkan dewasa. Jika kita membaca karya Nh. Dini kita seperti diajak berputar-putar pada sebuah kisah masa lalu yang dialami penulis. Setiap kejadian yang  digambarkan penulis melalui untaian kata demi kata hingga membentuk kalimat yang mampu ditangkap, sehingga membentuk imajinasi membaca yang seolah tampak nyata. Setiap peristiwa dari masa ke masa ia tuliskan dengan tidak melewatkan selembar kisah pun yang ia alami untuk dijadikannya suatu kisah yang menjadi sumber inspirasinya. Sebuah kisah kecil yang tertuang dalam novel sekayu mengungkapkan beberapa ciri khas budaya yang tidak dimiliki daerah lain dalam lingkup kecil bahkan dalam lingkup besar tidak dimiliki Negara lain. Kisah-kisah yang mengungkapkan betapa besarnya budaya dan ciri khas budaya yang terdapat dalam suatu desa kecil di daerah Sekayu, yang berada di Semarang Jawa Tengah yang mempunyai banyak kearifan lokal. Melalui karya sastra Nh. Dini ingin menjadi sebuah catatan kecil menganai desa sekayu pada masa itu, dengan goresan pena-pena yang membalut kisah-kisah sederhana penulis ingin menjadikan karyanya secara tidak langsung menjadi sebuah catatan sejarah yang diilhami dari cerita yang dituliskan dalam suatu karya. Meskipun A. Teew dalam bukunya pernah menyebutkan bahwa sastra bukan merupakan catatan sejarah, dengan berbagai pertimbangan bahwa karya sastra kebanyakan merupakan karya fiksi dan rekaan dari penciptanya untuk menimbulkan suatu kepuasaan dalam batin penulis atau sastrawan. Hal ini berbanding terbalik dengan konsep sejarah yang merupakan hasil yang tidak dibuat-buat dan benar-benar terjadi di masa lalu. Memang dalam karya sastra tidak dapat mewakili konteks sejarah yang sesungguhnya, tapi setidaknya dalam karya sastra dapat mengungkapkan suatu kejadian pada masa yang melingkupi inspirasi pengarang ketika menulis suatu karya. Termasuk dalam konteks melihat suatu kearifan lokal yang berada dalam suatu daerah pada masa lalu yang diungkapkan melalui suatu karya sastra. Seiring berjalannya waktu terkadang nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat di suatu daerah itu tidak bisa bertahan hingga hanya menyisakan puing-puing kecil dari kearifal lokal itu sendiri, bahkan terkadang kearifan itu ikut hanyut dalam arus modernisasi dan globalisasi, sehingga tidak tersisa sama sekali bahkan tidak ada bangkainya. Dalam hal ini diperlukan suatu catatan kecil yang dapat mengangkat kembali suatu kearifan lokal yang terdapat dalam suatu daerah dalam konteks ini catatan tersebut adalah karya sastra. Nh. Dini sebagai sastrawan telah melakukan hal tersebut, meskipun tampaknya dia tidak menyadarinya yang  dilakukan pada masa itu adalah berkarya dengan tujuan menghasilkan suatu karya yang dapat memuaskan batinnya sebagai seorang sastrawan. Kearifan lokal yang digambarkan dalam suatu pengkaryaan sastra yang merupakan esensi dari suatu catatan yang secara tidak langsung turut serta melestarikan suatu budaya dan kearifan lokal yang terjadi pada suatu masa.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PESAN MORAL DALAM CERPEN ROBOHNYA SURAU KAMI



PESAN MORAL DALAM CERPEN ROBOHNYA SURAU KAMI
Oleh:  Pramudita Parahita Pawestri
 
            Sebuah karya sastra tidak lahir begitu saja. Ada yang melatar belakangi mengapa seorang sastrawan menghasilkan sebuah karya. Seorang pengarang pasti juga memiliki maksud dan tujuan serta alasan tersendiri. Hal ini juga pasti terjadi pada pengarang A.A Navis dalam cerpennya yang berjudul Robohnya Surau Kami. Cerpen ”Robohnya Surau Kami” terpilih menjadi satu dari tiga cerpen terbaik majalah sastra Kisah tahun 1955. Dalam cerpen ini, mengisahkan seorang kakek penjaga surau yang meninggal akibat bunuh diri. Alasan mengapa kakek bunuh diri karena termakan omongan Ajo Sidi yang terkenal sebagai pembual.
            Cerita Robohnya Surau Kami  ini, memiliki cerita yang sederhana, unik dan menarik. Dibalik kesederhanaannya itu tersimpan makna dan kritik yang mendalam atas kehidupan di jaman yang modern ini. Cerpen ini membuat kita berpikir bagaimana seorang yang alim bisa masuk neraka. Judul cerpen ini hanyalah simbolik, sebenarnya bukan bangunan fisik dari suraulah yang roboh tetapi nilai-nilai agama yang oleh beberapa orang disalah gunakan. Ada sebagian manusia yang beribadah bukan karena tulus menyembah-Nya tetapi mengharapkan imbalan masuk surga semata sehingga mengabaikan urusan duniawi. Hal tersebut digambarkan dalam diri H. Saleh.
           

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS