Mahasiswa Offering AA Angkatan 2010 Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label Silka Yuanti Draditaswari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Silka Yuanti Draditaswari. Tampilkan semua postingan

TRAGEDI CINTA MADEKUR DAN TARKENI DI ANTARA DUNIA COPET DAN KUPU-KUPU MALAM



TRAGEDI CINTA MADEKUR DAN TARKENI DI ANTARA DUNIA COPET DAN KUPU-KUPU MALAM
Oleh: Silka Yuanti Draditaswari


Madekur dan Tarkeni merupakan naskah drama buah karya Arifin C. Noer. Madekur dan Tarkeni ini terdapat dalam buku kumpulan naskah drama Orkes Madun yang diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Firdaus bekerjasama dengan Yayasan Adikarya IKAPI. Naskah ini adalah bagian dari pentalogi Orkes Madun. Madekur dan Tarkeni sendiri merupakan bagian pertama. Bagian kedua adalah Umang-umang, bagian ketiga adalah Ozone, sedangkan bagian keempat adalah Sandek; Pemuda Pekerja. Bagian kelima akan berjudul Magma. Sayangnya, Magma tidak dapat terealisasikan karena Arifin C. Noer meninggal dunia pada tanggal 28 Mei 1995. Pentalogi ini merupakan karya terakhir dari Arifin C. Noer. Oleh karena itu, lakon ini menjadi legenda tersendiri bagi dunia naskah drama Indonesia karena keberadaannya yang menjadi lakon terakhir dari seorang sastrawan. Selain itu, naskah drama ini berbentuk pentalogi, dimana bentuk naskah drama seperti ini belum ditemukan di dunia sastra Indonesia.

Keempat naskah ini memiliki keterkaitan yang tidak urut. Madekur dan Tarkeni berhubungan dengan Sandek; Pemuda Pekerja, sedangkan Umang-umang berhubungan dengan Ozone. Tokoh-tokoh utama dari keempat naskah ini adalah Madekur, Tarkeni, dan Waska. Madekur dan Tarkeni adalah dua tokoh utama dari naskah Madekur dan Tarkeni serta Sandek; Pemuda Pekerja, sedangkan Waska adalah tokoh utama dari Umang-umang dan Ozone. Hubungan antara naskah Madekur dan Tarkeni dengan naskah Sandek; Pemuda Pekerja adalah inti cerita yang disampaikan sama, yaitu tentang ironi kehidupan kota Metropolitan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

TOKOH IBU DAN SISI LAINNYA DALAM SUDUT PANDANG PROSA “PADA SUATU HARI, ADA IBU DAN RADIAN”



TOKOH IBU DAN SISI LAINNYA DALAM SUDUT PANDANG PROSA
“PADA SUATU HARI, ADA IBU DAN RADIAN”
Oleh: Silka Yuanti Draditaswari

Aku melayang. Mungkin tertidur. Tanpa mimpi, hanya gelap–dan terbangun karena kesunyian, sangat aneh untuk subuh yang biasanya riuh. Tak ada azan. Tak ada kokok ayam atau saling sahut teriakan penjual sayur dan radio tukang susu. Tempat Radian kosong, tapi masih hangat. Ia belum lama bangun. Aku tertatih keluar kamar dan mendapati anak itu di depan pintu kamar mandi yang separuh terbuka. Ia berdiri, terlalu kaku. Seperti sebuah gerakan yang tertahan di udara. Sinar yang sayu menyapu wajah kecilnya.

Kutipan di atas merupakan penggalan cerpen Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian. Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian merupakan buah karya dari Arvianti Armand. Cerpen ini sendiri diterbitkan pertama kali di koran Kompas Minggu. Arvianti Armand merupakan nama baru dalam dunia sastra ketika ia menerbitkan cerpennya ini. Walaupun begitu, cerpen ini terpilih sebagai cerpen terbaik, yang pada akhirnya dibukukan dalam Antologi Cerpen Kompas Pilihan Tahun 2009. Cerpen ini mengisahkan tragedi kekerasan yang dialami seorang Ibu karena suaminya, dimana anaknya yang bernama Radian menjadi saksi mata. Memang, tidak heran jika cerpen ini terpilih menjadi cerpen terbaik kompas tahun 2009. Cerpen ini memiliki berbagai macam keunikan dalam penceritaannya. Salah satu keunikan itu terdapat pada unsur sudut pandangnya. Sudut pandang yang digunakan terdapat dua, yaitu sudut pandang pertama (tokoh Ibu) dan sudut pandang ketiga (penulis).
Apa definisi dari sudut pandang itu sendiri? Sudut pandang merupakan salah satu unsur intrinsik selain tema, latar, pesan, penokohan, alur yang membuat cerpen menjadi utuh. Sudut pandang merupakan cara pandang pengarang yang bercerita dengan menempatkan pengarang sebagai orang pertama, orang kedua, orang ketiga, atau bahkan orang yang ada di luar cerpen itu sendiri (Prabowo, 2011). Unsur ini tidak bisa dianggap remeh karena pemilihan sudut pandang juga tidak hanya akan mempengaruhi penyajian cerita, tetapi juga mempengaruhi alur cerita.
Menurut Friedman  sendiri (Prabowo, 2011), sudut pandang secara garis besar terdapat dua macam, yaitu sudut pandang orang pertama dan sudut pandang orang ketiga. Dalam sudut pandang orang pertama, pengarang menempatkan dirinya sebagai tokoh di dalam cerita yang menjadi pelaku utama. Melalui tokoh “aku” inilah pengarang mengisahkan peristiwa atau tindakan dengan kesadaran dirinya sendiri. Tokoh “aku” menjadi narator sekaligus pusat penceritaan. Sedangkan dalam sudut pandang orang ketiga, pengarang menempatkan dirinya sebagai narator yang berada di luar cerita, atau tidak terlibat dalam cerita. Dalam sudut pandang ini, narator menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut namanya atau kata gantinya “dia” atau “ia”.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

DEMOKRASI IDEAL ALA AGUS R. SARJONO DALAM SAJAK “DEMOKRASI DUNIA KETIGA”



DEMOKRASI IDEAL ALA AGUS R. SARJONO
DALAM SAJAK “DEMOKRASI DUNIA KETIGA”
Oleh: Silka Yuanti Draditaswari



Kalian harus demokratis.
Baik, tapi jauhkan tinju yang kau kepalkan itu dari pelipisku            
bukankah engkau tahu.
Tutup mulut!
Soal tinjuku mau kukepalkan,                                                                        
kusimpan di saku atau kutonjokkan ke hidungmu,
tentu sepenuhnya terserah padaku.
Pokoknya kamu harus demokratis.
Lagi pula kita tidak sedang bicara soal aku,
tapi soal kamu yaitu kamu harus demokratis!                                                
Tentu saja
saya setuju, bukankah selama ini saya telah mencoba.
Sudahlah!
Kami tak mau dengar apa alasannya
Tak perlu berkilah dan buang waktu.                                                            
Aku perintahkan kamu untuk demokratis, habis perkara!
Ingat gerombolan demokrasi yang kami galang akan melindasmu habis.    
Jadi jangan macam-macam
Yang penting kamu harus demokratis.
Awas kalau tidak!                                                                                           

            Puisi di atas merupakan salah satu puisi Agus R. Sarjono yang dimuat di Tangan Besi, Antologi Puisi Reformasi. Tangan Besi, Antologi Puisi Reformasi merupakan antologi puisi dari beberapa pengarang seperti WS. Rendra, Acep Zamzam Noor, Ahda Imran, Beni R. Budiman, Cecep Syamsul Hari, Diro Aritonang, Eriyandi Budiman, Juniarso Ridwan, Muhammad Ridlo ‘Eisy, Nenden Lilis A., Sonni Farid Maulana, Yessi Anwar, dan Agus R. Sarjono (Rendra, 2005). Demokrasi Dunia Ketiga merupakan puisi yang terlahir pada tahun 1998, dimana tahun tersebut alm. Bapak Soeharto masih menjabat menjadi Presiden RI. Puisi di atas adalah salah satu puisi yang blak-blakan, sesuai dengan gaya penulisan Agus R. Sarjono yang blak-blakan. Mengapa Agus R. Sarjono menulis puisi seperti tersebut? Semasa kuliahnya di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni IKIP Bandung, Agus R. Sarjono terlibat aktif dalam kelompok Diskusi Lingkar yang mendiskusikan berbagai isu sosial, politik, budaya, dan ekonomi pada masa Orde Baru (Wikipedia, 2011). Maka tidak heran jika sisi “pemberontak” dapat dilihat dari puisi Demokrasi Dunia Ketiga ini. Lihat saja Sajak Palsu, Di Sebuah Restoran Indonesia Juni 1998, Air Mata Hujan, dan lain sebagainya. Anda akan menemukan keliaran Agus dalam menyampaikan kritik sosialnya secara dramatis di baris ke baris. Bagaimana Agus menuliskan keliarannya itu dalam puisi Demokrasi Dunia Ketiga? Berikut akan diuraikan bagian per bagian dari puisi tersebut.
           

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS