Mahasiswa Offering AA Angkatan 2010 Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label Musa Abadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Musa Abadi. Tampilkan semua postingan

KRITIKAN DAN REFLEKSI NASIB PEJUANG DI NEGERI YANG TELAH MERDEKA DALAM LAKON “SAMPAH NEGERI” BUAH KARYA H. ADJIM ARJADI



KRITIKAN DAN REFLEKSI NASIB PEJUANG DI NEGERI YANG TELAH MERDEKA DALAM LAKON “SAMPAH NEGERI” BUAH KARYA H. ADJIM ARJADI
Oleh: Musa Abadi

Kisah Sampah Negeri merefleksi sosok pejuang negeri ini yang mengalami kondisi ironis. Sebuah kemerdekaan bagi bangsa masih dapat dianggap semu. Kesejahteraan yang seharusnya dirasakan oleh semuanya ternyata hanya dinikmati segolongan saja. Akibatnya muncullah kasta, contohnya adanya jurang pemisah antar orang kaya dan orang miskin sangat kentara. Para pejuang yang tulus ikhlas membela tanah airpun tidak dapat mereguk manisnya hasil perjuangan tempo dulu. Mereka tidak berkehidupan layak di negeri yang dianggap gemah ripah loh jenawi.
Hal tersebut berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan kondisi pejuang bermental culas dan hipokritis yang ketika berperang dulu mereka menjadi musuh dalam selimut. Selalu ingin menyelamatkan diri sendiri dari bahaya dengan berbagai cara. Para pejuang yang tak berprinsip tersebut sekarang tertawa lepas dan bahagia. Di usia tua kehidupan layak dinikmatinya dengan hasrat kepuasan tak terbendung.  
           

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

GERUTU NURANI BANGSA DALAM CERPEN “MEMEK” KARYA PUTU WIJAYA




GERUTU NURANI BANGSA DALAM CERPEN “MEMEK” KARYA PUTU WIJAYA 
Oleh: Musa Abadi
 

Pergolakan bangsa Indonesia untuk selalu menjadi lebih baik dari masa ke masa penuh dengan gelora. Pemahaman pergolakan yang terjadi selalu menimbulkan  perihal yang kontradiksi. Pergolakan ditanggapi secara positif maupun negatif oleh pihak-pihak yang terkait didalamnya. Akan tetapi, perlu disadari bahwa semua tanggapan tersebut merupakan dinamika sosial yang membangun bangsa ini agar terus bangkit dari keterpurukan atau ketertinggalan setelah mengalami penjajahan. Sebuah potret pergolakan dan dinamika sosial bangsa Indonesia dilukiskan oleh Putu Wijaya dalam cerpennya yang berjudul “Memek”. Sang Pujangga menggunakan memek yang biasa dianggap vulgar apabila diperbincangkan karena merupakan alat kelamin wanita sebagai suatu simbol kenyataan kebenaran yang dianggap tabu apabila digali, dianggap aib yang selalu ditutupi atau tertutupi dan berlaku hukum haram apabila disingkap atau tersingkap  Kisah memek pada hakikatnya berisi sindiran-sindiran pedas yang ditujukan kepada para penguasa.
Dikisahkan di dalam sebuah keluarga terdapat sosok anak kecil yang ingin mengetahui apakah itu memek. Dalam keluarga tersebut terdiri dari nenek, ayah, dan ibu serta anak. Secara implisit sosok anak kecil dapat diibaratkan rakyat jelata yang ingin membongkar dan menguak sebuah fakta kebenaran yang ditutup-tutupi atau tertutupi oleh lingkungan disekitarnya. Rakyat jelata diartikan secara luas yaitu bagian Bangsa Indonesia dari golongan yang memiliki kekuasaan terendah.  
           

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SKETSA LIRIS AMIR HAMZAH DALAM SAJAK “TINGGALAH” PADA KUMPULAN SAJAK-SAJAK BUAH RINDU



SKETSA LIRIS AMIR HAMZAH DALAM SAJAK “TINGGALAH” PADA KUMPULAN SAJAK-SAJAK BUAH RINDU
Oleh: Musa Abadi

            Selamat jalan pahlawan, jasa-jasamu kepada bumi persada takkan pernah sirna. Meski ragamu telah tiada, bara semangat revolusimu kan tetap berkobar dan menggelora dalam sanubari.
Dunia kesastraan telah lama ditinggal salah satu pujangga hebatnya. Ide-ide brilian dari Sang Pujangga mustahil terdengar lagi gaungnya. Sang Pujangga telah menjadi bagian tonggak sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa dan pelita dalam kejumudan bangsa hingga saat ini.
Mengenang sepak terjang sosok Sang Pujangga yang satu ini bukanlah perkara mudah. Menapaktilasi melalui media biografi tidaklah cukup untuk membedah refleksi kalbunya. Perlu adanya afirmasi telaah beberapa karya-karya fenomenal Sang Pujangga. Pemikiran parsial perlu dihindari karena dapat menghambat proses holistis dalam mencapai hasil pemahaman yang komprehensif. Landasan substansial yang ideal untuk dijadikan prinsip utama dalam menapaktilasi Sang Pujangga yaitu membuat garis imajiner antara sosok Sang Pujangga dengan para pengagumnya laksana sejoli yang berbicara dari hati ke hati.
Sang Pujangga yang religius dan berpikiran modern bernama lengkap Amir Hamzah atau biasa dipanggil Tengku Busu pada waktu kecilnya. Tepat tanggal 28 Februari 1991 di Tanjungpura, Langkat, Sumatera Utara ia dilahirkan. Amir Hamzah menghabiskan masa kanak-kanak di tanah kelahirannya. Selain belajar di sekolah yang didirikan kakeknya, Amir juga berkesempatan menimba ilmu di sekolah-sekolah Belanda, di antaranya: Holland Indlandsche School (HIS) di Langkat. Kemudian setelah tamat, ia meneruskan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Medan selama dua tahun yang kemudian dilanjutkan di MULO Jakarta. Amirpun berkesempatan sekolah di AMS yaitu Algemeene Middelbare School di kota Sala Jawa Tengah selepas menyelesaikan studinya di MULO. Amir juga pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Hakim Tinggi Jakarta walaupun pada akhirnya Amir tidak dapat merampungkan  pendidikannya di Sekolah Hakim Tinggi hingga selesai. Walaupun bakat kepengarangannya sudah tumbuh sejak masih kanak-kanak namun secara nyata nama Amir Hamzah—sebagai pengarang dan tokoh pergerakan—baru terkenal ketika ia di AMS. Tulisan-tulisannya banyak dimuat di majalah “Timboel” dan “Pandji Pustaka”.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS