Buai
Cermin Kehidupan dalam Naskah Drama “Kapai-Kapai”
Karya
Arifin Chairin Noer
Oleh: Amazona Dewi Pertiwi
Kematian,
terdengar begitu mengerikannya bagi manusia yang masih meninggikan inginnya
untuk menguasai dunia. Kematian begitu harunya ketika melintas di depan mata
kita, bukan hanya dalam keheningan, bahkan dalam hiruk pikuk keramaian jalanpun
akan turun keharuan akan datangnya kematian. Begitu mudahnya Tuhan menarik
keluar arwah manusia dari jasadnya, tapi tak ada satupun manusia yang dapat
menentukan berhentinya masa hidupnya. Sering kali diperdengarkan bahwa hidup
hanyalah sementara, hanya mampir.
Tujuan hidup adalah menyelematkan diri dari kemurkaan Tuhan dan membuka pintu
surga untuk diri manusia. Tapi entah mengapa tak banyak orang yang buta, tuli,
bahkan seluruh tubuhnya lumpuh dalam beribadah, seakan ia hidup dalam surga dan
mati dalam surga. Bukan manusia yang bertimbun dalam harta, manusia yang hanya
dapat memimpikan sesuap nasipun sering kali membutakan mata dan membuat tuli
telinganya akan agama. Seperti itulah sekiranya apa yang diceritakan dalam
drama Kapai-Kapai karya Arifin C. Noer.
Suatu cerita
yang sangat menggindahkan nuansa majas dalam setiap dialognya, meninggikan
imajinasi penikmatnya. Kapai-Kapai, sebuah drama yang memiliki keunikan dalam
menyampaikan pesan moral dan pesan kehidupan yang sangat menyentuh. Tidak hanya
memperhatikan alur cerita, tetapi dari setiap dialog yang dilontarkan
menunjukkan keindahan dalam bermajas. Begitu pula dengan setiap tokoh yang
digambarkan dengan berbagai simbol-simbol kehidupan. Sebuah nilai moral yang
sangat kental dengan gaya pengimajinasian yang tinggi membuat drama ini sangat
menarik dan memiliki nilai estetik yang tinggi. Begitu pandainya penulis
menggambarkan kehidupan secara sederhana namun penuh dengan makna yang dalam.
Gaya bahasa yang puitis pada setiap dialognya sehingga menunjukkan bahwa inilah
karya sastra yang bernilai tinggi.





