Mahasiswa Offering AA Angkatan 2010 Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label DRAMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DRAMA. Tampilkan semua postingan

NILAI KEHIDUPAN DALAM “MATAHARI DI SEBUAH JALAN KECIL” KARYA ARIFIN C. NOOR

NILAI KEHIDUPAN DALAM  “MATAHARI DI SEBUAH JALAN KECIL” KARYA ARIFIN C. NOOR
Oleh: Lailinda Nur janah

Drama ini menceritakan tentang kisah kehidupan para pegawai pabrik dan sebuah pembelajaran tentang jujur dan kebohongan di sebuah warung milik seorang simbok yang letaknya berdekatan dengan lokasi pabrik tersebut. Nama para tokoh dalam naskah drama tersebut tidak seperti nama-nama tokoh yang biasanya diceritakan, yakni si Tua, si Pendek, si Kurus, si Peci, si Kacamata, Simbok, Pemuda, Penjaga malam, Perempuan, dan si Sopir.
Dialog diawali dengan percakapan para buruh pabrik yang mencoba menyindir bagaimana kejamnya kehidupan saat ini meliputi merajalelanya tindak korupsi yang digambarkan penulis seperti seekor tikus dan tikus saat ini sudah berani beraksi di siang hari (para pelaku korupsi semakin berani dan tidak menggubris hukum yang ada di depannya nanti).
Si Kacamata    : Saya ingin anak saya memiiki yamaha bebek.
Si Pendek        : Asal giat bekerja kita bebas berharap apa saja.
Si Kurus          : Tapi kalau masih ada korupsi? Anak kita akan tetap hanya kebagian debu-debunya saja dari motor yang lewat di jalan raya.
Si Kacamata    : Dunia penuh tikus sekarang.
Si Kurus          : Dan tikus-tikus jaman sekarang beraqni berkeliaran di depan mata pada siang hari bolong.

Selain itu topik yang dibicarakan juga membahas mengenai semakin melambungnya harga kebutuhan pokok (beras) tetapi tidak diiringi dengan naiknya gaji mereka, nasib kaum bawah (buruh dan kaum terpinggirkan) yang semakin terbawahkan.
Si Kacamata    : Kemarin sore istriku berbelanja ke warung nyonya pungut. Pulang-pulang ia menghempaskan nafasnya yang kesal……. Harga beras naik lagi, katanya.
Si Peci             : Apa yang tidak naik?
Si Tua              : Semua naik.
Si Kurus          : Gaji kita tidak naik.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MENJELAJAHI ALUR/PLOT DAN DIALOG DRAMATIK “AYAHKU PULANG” KARYA UMAR ISMAIL

MENJELAJAHI ALUR/PLOT  DAN DIALOG DRAMATIK  “AYAHKU PULANG” KARYA UMAR ISMAILOleh: Elok Kholidiyah

Karya sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, persaaan, ide, semangat, keyakinan dalam seuatu bentuk gambaran kehidupan yang dapat membangkitkan pesona dengan alat bahasa dan dilukiskan dalam bentuk tulisan. Pesona tulisan-tulisan itu membuat seorang pecinta karya sastra seperti berjelajah di atas lukisan gunung, menjulang tinggi hingga membawa angan-angan menembus cakrawala.  Menjelajahi karya sasra tidak sulit, cukup menggabungkan hati dengan apa yang kita baca, Ada dua macam karya sastra  yaitu imajinatif dan non imajinatif.  Imajinatif berupa puisi, cerpen, drama, dan lain-lain. Karya sastra itu ibarat lautan dan gunung, Jika laut kita harus mengarunginya dengan perahu kata dan imajinasi hingga titik pusat laut dengan melihat keindahan laut yang terlukis indah sehingga membuat kita ingin mengarunginya lebih jauh lagi. Tetapi jika gunung kita perlu menjelajahinya dengan mendaki ke atas melewati hutan-hutan belantara yang membuat kita penasaran. Walau penjelajahan di gunung itu melelahkan tetapi kita dapat menuju titik puncak gunung dengan memperoleh makna dan nilai tersendiri dari karya sastra itu. 
Pendakian pada karya sastra akan terus berjalan menjelajahi  pemikiran setiap pencinta karya sastra seperti berlari pada panggung tertinggi suatu karya sastra yang dipentaskan salah satunya seperti drama. Ketahuilah drama termasuk itu genre sastra imajinatif. Menurut definisi, drama adalah ragam satra dalam bentuk dialog yang dimaksudkan untuk dipertunjukkan di atas pentas (Zaidan, 2000). Mulyawan (1997:147) adalah salah satu genre sastra yang hidup dalam dua dunia, yaitu seni satra dan seni pertunjukan atau teater.Drama memiliki bentuk sendiri, saat puisi kebanyakan berbentuk monolog dan novel atau cerpen perpaduan dialog dan monolog, maka drama drama merupakan karya sastra berupa dialog yang diperankan melalui tokoh-tokohnya. Dengan melihat naskah pun pembaca akan mengetahui bahwa karya tersebut adalah drama.Berbicara mengenai drama, terutama naskah dramanya hati ini sangat tertarik dengan salah satu drama yang berjudul “Ayahku Pulang” karya Usmar Ismail. Saat membaca naskah drama ini perahu pemikiranku seperti ingin menjelajahinya dari ujung satu ke ujung lainnya. Judul naskah drama ini sangatlah sederhana tidak ada yang menarik hanya judul sering kita dengar entah di televisi atau sebuah lagi. Tidaklah menarik jika hanya dilihat dari judul. Memang judul ibarat etalase. Jika judul itu menarik dan indah pasti orang akan penasaran dengan apa yang ada dalam etalase itu. Oleh karena itu sempat ketertarikan itu menurun karena naskah drama ini  terlalu sedahana dari segi judul maupun cerita keseluruhan. Sebenarnya keserhanaan itu lebih mengarah pada cerita yang sering terjadi di lingkungan sekitar. Tetapi setelah menjelajahi lebih jauh, ternyata penulis Umar Ismail benar-benar memberikan alur yang menarik untuk baca. Tidak hanya alur, dialognya sangatlah mudah dipahami karena gaya bahasa yang dituturkan tidaklah serumit dibayangkan. Dialog lebih akan mudah ditebak suasana maupun prasaan tokoh dari peran yang diperankannya. Oleh karena itu perahuku kini telah mengarah pada alur atau plot naskah drama ini. Tidak hanya alur tetapi juga dialognya. Walau sangatlah menarik tetapi jika dipikir seharusnya tidak perlu membuat berlebih-lebihan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pesan Sosial drama “Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi”

Pesan Sosial drama “Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi” adaptasi bebas dari Cerpen Seno Gumira Ajidarma
Oleh: Pradicta Nurhuda

Naskah drama merupakan satu karya sastra yang diterima oleh suatu masyarakat, karena mencerminkan nilai-nilai yang masih dapat diterima oleh suatu ikatan sosial, artinya dapat mencerminkan sistem nilainya dan hubungannya dari kondisi masyarakat itu sendiri. Pada dasarnya naskah tersebut lebih menekankan sasarannya pada masyarakat. Tujuannya adalah untuk menyentuh perasaan individu yang berada di dalam masyarakat. Dan kandungan yang ada di dalamnya merupakan pengambaran dari konsisi masyarakat serta peristiwa-peristiwa yang di alami oleh pengarang. Seperti yang tercermin dalam drama 7 babak “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” yang diadaptasi dari cerpen Seno Gumira Ajidarma. Ceritanya seakan memberikan kritik pedas dalam menyoroti masalah yang selama ini ada di masyarakat. Terutama sikap lelaki yang kebanyakan mata keranjang ketika melihat seorang wanita cantik dan seksi dan sering menggoda wanita seksi ketika melintas di depannya. Disini digambarkan banyak lelaki yang berimajinasi kemana-mana ketika mendengar suara wanita bernama Zus.

Terlihat dalam drama ini, kritik sosial terhadap masalah yang terjadi dalam realita sosial masyarakat, terutama masyarakat perkotaan yang moral asusilanya sudah mulai rusak, salah satunya dikarenakan era globalisasi yang masuk ke Indonesia, misalnya dari tontonan televisi yang menyajikan tayangan sensual. Kerusakan moral tersebut bisa dilihat dari banyaknya kasus pelecehan seksual terhadap kaum wanita akhir-akhir ini, baik di televisi maupun koran. Seperti halnya asap yang berasal dari api, jika api tidak dinyalakan tentu asapnya tidak ada. Jika dihubungkan dengan kejadian pelecehan seksual terhadap wanita, kebanyakan terjadinya pelecehan akibat ulah si wanita terlebih dahulu yang memancing hasrat pria untuk melakukan pelecehan, seperti pakaian yang terlalu mini, terlalu sensual, dll. Seperti yang tergambar dalam drama “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” ini, akibat nyanyian seorang wanita ketika mandi, seluruh pria di komplek perumahan menjadi berpikiran macam-macam dan negatif. Jika dihubungkan dengan hadist, memang benar kalau wanita itu dilarang bersuara dengan keras karena akan menimbulkan syahwat. Seperti dalam Islam, wanita dilarang adzan karena suaranya bisa didengarkan oleh lelaki dan ditakutkan akan menimbulkan syahwat.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PESAN TERSELUBUNG YANNG TERSINGKAP LEWAT KESEDERHANAAN DIALOG DAN ALUR DALAM DRAMA DILARANG MENYANYI DI KAMAR MANDI


PESAN TERSELUBUNG YANNG TERSINGKAP LEWAT KESEDERHANAAN DIALOG DAN ALUR DALAM DRAMA DILARANG MENYANYI DI KAMAR MANDI
Oleh: Anjar Aprilia Kristanti

 Pendahuluan
            Karya sastra merupakan susunan unsur-unsur yang bersistem, yang unsur-unsurnya membentuk hubungan timbal-balik (Pradopo, dalam Suwigyo, 2010: 100). Hal tersebutlah yang mendasari analisis ini mengudarkan unsur drama bagian dialog dan alur. Bagian dialog dan alur dalam naskah drama ini akakn menunjukkan bahwa salah satu unsur yang paling menunjol dalam karya sastra pun tidak bisa lepas dari unsur lainnya. Lewat dialog dan alur ini akan tampak unsur tokoh maupun penokohan yang dibawa masing-masing tokoh, latar dalam tiap adegannya, maupun pesan yang ingin disampaikan pengarang lewat tulisannya. Drama berjudul ‘Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi’ ini merupakan salah satu karya Gusmel Riyadh yang diadaptasi dari cerpen milik Seno Gumira Adjidarma. Dilihat dari pemilik cerpen yang diangkat oleh Gusmel, pantaslah tulisan ini akan menyingkap pesan yang ada dalam naskah drama ini. Seno yang dikenal kritis akan keadaan sosial di sekitarnya tampak dari perjalanan hidupnya yang dipenuhi pengembaraan dan dari karyanya yang mengangkat fenomena di Timor-timur lewat Trilogi buku, dan karya penuh maknanya lewat ‘Kitab Omong Kosong’. Jadi tidak mungkin dalam gambaran sederhana unsur dalam naskah drama ini tidak sarat pesan di dalamnya.

           

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bila Malam Bertambah Malam, Memanusiakan Manusia

                               Bila Malam Bertambah Malam, Memanusiakan Manusia
                                                        Oleh: Widya Ufi Damayanti

Putu Wijaya bukanlah seorang sastrawan yang akan menulis karya sastranya dengan gaya bahasa yang rumit dan diksi yang berkelok-kelok. Lucu, lugas, dan enak untuk dibaca. Namun, meskipun tidak berumit-rumit, isi cerita atau konflik yang ada di dalam setiap karyanya sungguh luar biasa dan di luar nalar pikiran seorang biasa. Inilah yang membuat Putu Wijaya dikenal dengan teror mentalnya. Sangat sulit memperkirakan ending karya Putu Wijaya, walaupun masalah yang diangkat sangat sederhana, tetapi teror mental yang disuguhkan mampu membuat masalah itu menjadi istimewa di mata pembaca. Bukan hanya teror mental, Putu Wijaya juga dikenal tidak jarang menggunakan bermacam simbol dalam karyanya. Namun, yang paling berkesan tentu saja pemilihan kata-katanya, yang memiliki kekuatan luar biasa. Ketika membaca karya Putu Wijaya, seringkali orang tidak menyangka bahwa pengarang akan menggunakan pemilihan kata yang seperti itu.
Bila Malam Bertambah Malam. Sebuah lakon yang berlatar belakang kehidupan kasta masyarakat Bali dilihat dari kehidupan sehari-hari keturunan keluarga bangsawan. Merupakan salah satu karya Putu Wijaya yang cukup terkenal.
Mengenal tokoh Bila Malam Bertambah Malam, dalam urutan pertama tentu saja muncul nama Gusti Biang. Wanita tua dan pemarah yang merupakan sosok sentral dalam lakon Bila Malam Bertambah Malam. Dialah putri tunggal seorang bangsawan, yang telah ditinggal mati oleh suaminya, yang kini kehidupan di hari tuanya selalu ditemani Wayan pelayan setianya. Tidak mempercayai siapapun selain Wayan dan sangat tegantung pada Wayan. Juga, sangat perhitungan terhadap hartanya. Memiliki keyakinan bahwa keturunan bangsawan dapat memperlakukan dan berbicara siapapun dengan sekehendak hatinya, bahkan seringkali berbicara tidak sopan. Namun demikian, Gusti Biang adalah simbol dari seorang wanita yang memegang teguh tradisi masyarakat Bali yang memang memiliki kasta, sesuai dengan agama yang mereka anut, agama Hindu. Di masa lalunya, Gusti Biang rela menikah dengan orang yang tidak dicintainya demi menjaga tradisi.
Tokoh sentral yang kedua tentu saja lelaki tua, Wayan. Pelayan paling setia dan paling sabar dalam menghadapi tindak-tanduk Gusti Biang yang seperti anak kecil. Tidak pernah lelah untuk menasehati perilaku Gusti Biang, walaupun jarang sekali didengarkan. Wayan adalah simbol seseorang yang rela melakukan sesuatu dengan tulus ikhlas karena perasaan cintanya kepada Gusti Biang yang tak pernah padam sejak dahulu kala.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Objektifitas Drama Aduh Karya Putu Wijaya

                                            Objektifitas Drama Aduh Karya Putu Wijaya

Oleh: Agustin Marta Suwandari

     Kajian sastra adalah kegiatan mempelajari unsur-unsur dan hubungan antarunsur dalam karya sastra dengan bertolak dari pendekatan, teori, dan cara kerja tertentu.
Dengan adanya kajian drama inilah, peminat sastra melakukan analisis yaitu membedah karya-karya yang dibacanya. Sehingga unsur-unsur yang menyusun drama tersebut dapat diketahui. Juga rangkaian hikmah yang ada di dalamnya. Saat pembaca sudah mampu mengapresiasi sastra, pembaca mempunyai kesempatan untuk mengkaji sastra.
     Apakah ada kecenderungan penyingkapan realitas sosial oleh sang pengarang? Ataukah ada hal-hal lain yang bisa pengkaji sastra temukan dari kajian tersebut? Ini bisa dianalisis dengan beberapa pendekatan karena kajian sastra memiliki berbagai pendekatan. Pendekatan-pendekatan itu ialah objektif, mimetik, ekspresif, dan pragmatik. Dalam tulisan ini akan mengidentifikasi naskah drama yang berjudul Aduh karya Putu Wijaya melalui pendekatan Objektif, yaitu mengkaji dari struktur yang membangun drama, yang terdiri dari unsur intrinsik. Unsur intrinsik tersebut yaitu tema, penokohan,perwatakan, latar, alur, konflik, amanat, sudut pandang, dan gaya bahasa.
     Putu Wijaya yang selalu menghasilkan karya ini bernama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya, Lahir di Puri Anom, Sarem, Kangin, Tabanan, Bali, 11 April 1944. Banyak karya-karya baik drama maupun prosa yang ia hasilkan, misalnya Dalam Cahaya Bulan Bila Malam ,Bertambah Malam, Invalid, Tak Sampai Tiga Bulan, Orang-Orang Malam, Lautan bernyanyi, Aduh, Anu, Edan, Hum-pim-pah, Dag-dig-dug, dan lain sebagainya. Gaya penulisan Putu Wijaya sangat kental sekali, ia cenderung mempergunakan gaya objektif dalam pusat pengisahan dan gaya stream of consciousness. Putu berani mengungkapkan kenyataan hidup karena dorongan naluri yang terpendam dalam bawah sadar, lebih-lebih libido seksual yang ada dalam daerah kegelapan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Teropong Kepalsuan di Balik Sebuah Manisnya Bibir dalam Naskah Drama “Matahari di Sebuah Jalan Kecil” Karya Arifin C. Noer


Teropong Kepalsuan di Balik Sebuah Manisnya Bibir dalam Naskah Drama “Matahari di Sebuah Jalan Kecil” Karya Arifin C. Noer Oleh: Fryskatana Wira

Sastra merupakan sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Hal tersebut disebabkan karena dalam pembahasan pembuatan sebuah karya sastra selalu mengaitkan berbagai nilai kehidupan manusia dan segalam masalah yang ada di sekitar manusia. Seperti halnya drama Arifin C. Noer “Matahari di Sebuah Jalan Kecil” tersebut sangat erat dengan realitas kehidupan. Ada pepatah yang mengatakan bahwa “Setinggi-tingginya tupai melompat pasti jatuh juga”, sepandai-pandainya orang berbohong pasti terbongkar juga.

Matahari disebuah jalan kecil memunculkan pertentangan tokoh utama dalam suatu kondisi. Pertentangan antar pendapat dan keraguan karena pernah merasakan hal ketidakjujuran seseorang. Dan pada akhir cerita tokoh utama merasa kecewa dengan mengetahui kebenaran atas keraguan pada tokoh utama.

Awal cerita terdapat narasi yang menjelaskan bahwa di sana seperti menggambarkan kehidupan rakyat kecil sehari-hari yang di mana terlihat ada seorang penjaga malam, Simbok, dan ada pemuda yang membawa bagi di atas kepalanya.  Dialog pun diawali dengan di sebuah jalan kecil terdapat sebuah pabrik es yang sudah sangat tua. Di depan bangunan pabrik es itu ada seorang wanita tua yang berjualan makanan berupa pecel. Pelanggannya kebanyakan dari pekerja pabrik juga. Saat itu yang berada di warung pecel tersebut ada Si Tua, Si Peci, Si Kurus, Si Kacamata, dan Si Pendek. Mereka sedang makan sekaligus mengeluh tentang harga makanan dan kebutuhan pokok yang terus beranjak naik sedangkan gaji mereka tak kunjung naik.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

TRAGEDI CINTA MADEKUR DAN TARKENI DI ANTARA DUNIA COPET DAN KUPU-KUPU MALAM



TRAGEDI CINTA MADEKUR DAN TARKENI DI ANTARA DUNIA COPET DAN KUPU-KUPU MALAM
Oleh: Silka Yuanti Draditaswari


Madekur dan Tarkeni merupakan naskah drama buah karya Arifin C. Noer. Madekur dan Tarkeni ini terdapat dalam buku kumpulan naskah drama Orkes Madun yang diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Firdaus bekerjasama dengan Yayasan Adikarya IKAPI. Naskah ini adalah bagian dari pentalogi Orkes Madun. Madekur dan Tarkeni sendiri merupakan bagian pertama. Bagian kedua adalah Umang-umang, bagian ketiga adalah Ozone, sedangkan bagian keempat adalah Sandek; Pemuda Pekerja. Bagian kelima akan berjudul Magma. Sayangnya, Magma tidak dapat terealisasikan karena Arifin C. Noer meninggal dunia pada tanggal 28 Mei 1995. Pentalogi ini merupakan karya terakhir dari Arifin C. Noer. Oleh karena itu, lakon ini menjadi legenda tersendiri bagi dunia naskah drama Indonesia karena keberadaannya yang menjadi lakon terakhir dari seorang sastrawan. Selain itu, naskah drama ini berbentuk pentalogi, dimana bentuk naskah drama seperti ini belum ditemukan di dunia sastra Indonesia.

Keempat naskah ini memiliki keterkaitan yang tidak urut. Madekur dan Tarkeni berhubungan dengan Sandek; Pemuda Pekerja, sedangkan Umang-umang berhubungan dengan Ozone. Tokoh-tokoh utama dari keempat naskah ini adalah Madekur, Tarkeni, dan Waska. Madekur dan Tarkeni adalah dua tokoh utama dari naskah Madekur dan Tarkeni serta Sandek; Pemuda Pekerja, sedangkan Waska adalah tokoh utama dari Umang-umang dan Ozone. Hubungan antara naskah Madekur dan Tarkeni dengan naskah Sandek; Pemuda Pekerja adalah inti cerita yang disampaikan sama, yaitu tentang ironi kehidupan kota Metropolitan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Punahnya Dolanan Tradisional dalam Drama ‘Padang Bulan’



Punahnya Dolanan Tradisional  dalam Drama ‘Padang Bulan’
Oleh: Zakiah Alif Syakura

            Drama ‘Padang Bulan’ ini adalah drama sederhana buat Belia karya Ucok Klasta. Tokoh-tokoh pada drama ini adalah Padang, Bulan, Jembar, Kalangan, Aki, Nini/ (sekaligus) Ibu lugu, Lugu, pejabat Pemerintah Kota, Politikus (Anggota Dewan Kota), Boss (Pengusaha), Petugas Kamtib. Drama ini terdiri atas 5 adegan.
            Drama ini kaya dengan beberapa simbol. Simbol-simbol tersebut sebagai bentuk penyampaian kepada penonton. Ucok ingin menyampaikan seberapa banyak permainan tradisional yang sudah mulai ditinggalkan oleh anak-anak modern sekarang. Kehadiran tokoh Padang, Bulan, Jembar, dan Kalang juga sebagai salah satu simbol yang terdapat dalam drama ini. Keempat tokoh tersebut menyimbolkan permainan tradisional yang punah punah terkikis dengan modernisasi.
Pada awal adegan 1 sampai 2 Ucok memperlihatkan adegan permainan anak tradisional, khususnya anak Jawa. Hal tersebut terlihat dari adegan saat keempat tokoh bermain tebak-tebakan di malam hari saat bulan purnama.  Selain itu, Ucok juga menyebutkan beberapa permainan tradisional yang sudah mulai punah melalui dialog tokoh Padang ‘Nah, main apa kita sekarang ? Kejar-kejaran? Betengan? Gaprakan ? Tebak-tebakan?’. Kemudian pada adegan 2, Ucok memperkenalkan kebiasaan Aki dan Nini yang bercerita kepada anak-anak sambil menyuguhkan jajanan tradisional, seperti klenyem (seperti dalam drama).
Pada keseluruhan drama, Ucok juga mengenalkan beberapa lagu tradisional sebagai simbol pemusnahan lagu tradisional akibat modernisasi. Lagu tradisional yang digunakan dalam drama ini adalah ‘Padang Bulan’ dan ‘Menthok-menthok’. Lagu ‘Padang Bulan’ menggambarkan kegirangan anak-anak zaman dahulu saat bulan purnama datang dan bermain. Semua anak berkumpul untuk bermain, berbeda dengan anak-anak zaman sekrang yang lebih asyik dengan kecanggihan teknologi. Hal tersebut diakhir drama diibaratkan Ucok dengan berubahnya tokoh Padang, Jembar, dan Kalang menjadi playstation, handphone, dan Buldoser.
Pada adegan ke-3 pergantian latar diawal dengan dialog Aki. Dialog Aki dari balik panggung dan keluarlah tokoh Lugu memperagakan cerita Aki seolah cerita Aki tersebut menjadi nyata dan dapat dinikmati menonton. Pada cerita Aki tersebut, Ucok menyampaikan bahwa modernisasi seperti itulah yang telah mengikis permainan tradisional. Kemewahan membuat anak-anak lupa bahwa ada permainan tradisional yang lebih baik. Keadaan yang berbinar-binar membuat permainan tradisional semakin dilupakan. Anak-anak lebih asik dengan kecanggihan teknologi daripada permainan trasdisional.Ucok juga seakan ingin mengajarkan bahwa dalam permainan tradisional mengajak untuk saling bersosial satu sama lain, saling mengasihi, saling menghargai, dan saling membantu. Sedangkan moderninasi cenderung membuat orang egois serta mementingkan diri sendiri. Hal tersebut tercermin dalam adegan dialog pejabat dan Boss serta Lugu yang meminta-minta malah dicaci oleh Boss dan diusir oleh kamtib.
065. Lugu             : Tidak mau! Saya bukan gelandangan! Saya Lugu ! Saya manusia! Saya bukan binatang!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Memandang Manusia melalui Dua Cermin: Sebuah Perenungan tentang Orang Malam Karya Sony F.Maulana



Memandang Manusia melalui Dua Cermin:
Sebuah Perenungan tentang Orang Malam Karya Sony F.Maulana
Oleh: Wisnu Bramantyo

             Karya sastra merupakan sebuah jalinan indah makna yang disajikan pada penikmatnya untuk dinikmati dan diuraikan kembali. Baik itu puisi, prosa, maupun drama, karya itu akan menyampaikan suatu pesan tersendiri. Beberapa karya membawa pesan yang langsung dapat dicerna, sementara yang lain menyampaikan pesan-pesan yang lebih tersembunyi. Drama, sebagai suatu bentuk karya sastra yang dapat dinikmati dengan 2 cara (sebagai naskah dan sebagai pementasan), mempunyai sedikit perbedaan. Drama sebagai pementasan akan menuntut penikmat yang memiliki kemampuan lebih dalam mencerna pesannya. Hal ini ialah karena sifatnya sebagai pementasan yang sekejap dan real time memerlukan konsumen yang dapat segera menafsirkan pesan-pesan yang disampaikan. Memang, makna-makna juga dapat digali melalui bedah naskah ataupun diskusi bedah drama (setelah dipentaskan), namun sensasi apresiasi yang didapat tentunya berbeda.
            Orang Malam karya Sony F. Maulana ialah drama yang memiliki dua cermin di dalamnya. Dua pesan besar. Satu akan mudah ditangkap oleh penonton atau pembaca naskah, sedangkan yang satu lagi sedikit tersamar secara filosofis dan memerlukan perenungan sejenak. Drama ini menarik untuk diangkat karena tema sosial seperti yang didengungkan dalam Orang Malam biasanya merupakan inti dari pesan yang ingin disampaikan sebuah karya. Tetapi, hal sebaliknya terjadi dalam drama ini. Sony justru menjadikan plot dan makna sosial ini sebagai pintu gerbang menuju makna yang lebih instropektif dan lebih dalam. Lebih unik lagi, makna, cermin kedua ini juga masih berhubungan erat dengan cermin pertama. Pengungkapan jatidiri cermin ini di akhir drama akan memberikan sebuah kejutan bagi penonton karena dia juga berfungsi sebagai twisted plot. Pengemasan pertunjukan yang bagus akan memfungsikan kedua cermin ini sedemikian rupa, sehingga di akhir pentas penonton akan terpana dan terdiam, berpikir sejenak mengenai esensi drama dan esensi kehidupan itu sendiri.
           

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KETIMPANGAN SOSIAL DALAM DRAMA RT NOL RW NOL KARYA IWAN SIMATUPANG



KETIMPANGAN SOSIAL DALAM DRAMA RT NOL RW NOL KARYA IWAN SIMATUPANG
Oleh: Marinda Agustina

Iwan Simatupang adalah Sastrawan tahun 1960-an yang menulis karya konvensional sebagai pertanda angin baru dalam kesusastraan Indonesia. Iwan Simatupang lahir di Sibolga, 18 Januari 1928 dengan nama Iwan Martua Dongan Simatupang. Sebagai seorang wartawan, Iwan menulis banyak sketsa tentang orang-orang tersisih dan terpinggirkan. kritikus sastra menyebut karyanya sebagai avant garde terhadap buah pena Iwan Simatupang. Iwan sendiri menyebut dirinya sebagai manusia marjinal, manusia perbatasan. Karya sastra Iwan Simatupang yang berjudul RT nol RW nol ini merupakan karya sastra bergenre drama yang menarik dan berbeda dibandingkan dengan drama-drama lainnya. Drama ini memiliki daya tarik yang sudah mulai terlihat saat kita membaca judulnya. Apa makna sebenarnya dari judul RT nol RW nol yang diciptakan oleh pengarang? Mengapa pengarang mengambil judul seperti itu?. Hal ini akan segera kita ketahui jika kita membaca uraian-uraian dramanya lebih jauh lagi. Alur yang ditampilkan dalam novel ini memang sedikit membingungkan pembaca karena pengarang menggunakan sentuhan filsafat yang amat menarik dan berkesinambungan tentang kehidupan sosial yang menjadi realitas dalam negeri ini. Hal ini jelas terlihat diawal drama tentang pandangan kritis dari tokoh Kakek dan Ani yang mempunyai latar belakang seorang gelandangan, namun memiliki pandangan yang jeli untuk mengkritik dan menghujat tingkah polah pemerintah di negeri ini. Pada bagian belakang drama, pembaca diajak untuk mengikuti kisah kehidupan para tokoh gelandangang ini yang pada akhirnya menemukan kehidupannya yang baru, kemudian meninggalkan RT nol RW nol yang selama ini mereka tinggali. Ditempat itu hanya tersisa seorang kakek tua yang senantiasa hidup di bawah kolong jembatan itu seumur hidupnya. Kakek itu tidak mau pindah dari tempat itu karena merasa bahwa memang disitulah kehidupannya dimulai dan diakhiri nantinya. Kakek itu tidak mau meninggalkan tempat yang ia namai RT 0 RW 0 tersebut meskipun tempat itu bukan miliknya.    

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Manunggaling Kawula Gusti dalam Drama “Kiblat Tanah Negeri” Karya Gondhol Sumargiyono



Manunggaling Kawula Gusti dalam Drama “Kiblat Tanah Negeri” Karya Gondhol Sumargiyono
Oleh: Johan Slamet Raharjo

            Drama merupakan gambaran kehidupan manusia dalam sebuah pementasan. Apakah itu kejadian yang secara real terjadi, hanya dalam imajinasi, atau bahkan bentuk perwujudan dari gejolak batin manusia. Tidak jarang pula berbentuk sindiran pada keganjilan terjadi dalam kehidupan.
            Sebuah drama berjudul “Kiblat Tanah Negeri” karya Gondhol Sumargiyono dapat dibilang sebagai sebuah parodi sejarah. Jika dicermati dengan baik naskah drama “Kiblat Tanah Negeri” menggambarkan sebuah kisah yang sangat terkenal pada masyarakat Jawa, khususnya bagi mereka yang beragama Islam. Kisah tersebut berhubungan dengan tokoh yang terkenal ajaran pantheisme yaitu Syekh Lemah Abang atau Syekh Siti Jenar yang digambarkan oleh tokoh Ki Gedhe Lemah Kuning.
Manunggaling Kawula Gusti
            Paham pantheime atau yang lebih dikenal dengan Manunggaling Kawula Gusti sebenarnya telah ada sebelum zaman Syekh Siti Jenar di tanah Jawa. Paham Manunggalinng Kawula Gusti (pantheime) atau dalam istilah lain disebut Wahdatul Wujud merupakan ajaran yang sebenarnya bukan berarti bercampurnya Tuhan dengan makhluknya, melainkan Tuhan adalah tempat kembali semua makhluk. Tokoh ulama’ yang terkenal dengan paham Wahdatul Wujud ini adalah Al-Hallaj (Abu Mansur Al-Hallaj) yang hidup pada sekitar tahun 244—309 hijriah atau 957—922 masehi. Berikut cuplikan wejangan ki gedhe lemah kuning.
Gedhe Lemah Kuning
Bila ada manusia yang punya keinginan untuk mendapatkan hidup abadi, dia harus memiliki ilmu kamukswan. Tapi apalah gunanya? Punya umur panjang, tapi tidak bisa sumarah, berserah diri kepada gusti. Tidak bisa hidup dengan ikhlas. Apalagi, wadhagnya akan kasat mata.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Nyai Ontosoroh, Simbol Perlawanan Sanikem



Nyai Ontosoroh, Simbol Perlawanan Sanikem
Oleh: Dwi Sastra Nurokhma
 
Drama berjudul Nyai Ontosoroh, Hikayat Perlawanan Sanikem yang merupakan adaptasi dari Novel Pramoedya Ananta Toer yang Berjudul Bumi Manusia yang mengisahkan akan seorang Sanikem, anak dari juru tulis Sastrotomo  yang dinikahkan dengan tuan Mellema, seorang pejabat besar pabrik gula agar ayahnya dapat naik jabatan menjadi juru bayar, jabatan yang sudah lama di idam-idamkannya. Berbeda dengan judul drama dimana Sanikem seharusnya melakukan perlawanan, justru dalam drama karya Rakhmat Garyadi ini sosok Sanikem menerima dan hanya diam ketika sang ayah menyerahkannya ke tangan tuan Mellema. Sejak diserahkan, Sanikem berjanji pada dirinya sendiri untuk menerima jalannya dan akan melakukan yang harus dia kerjakan dengan totalitas dan sebaik-baiknya. Mulai saat itu, Sanikem yang dulu sudah terkubur dalam hatinya, dia sekarang adalah Nyai Ontosoroh, gundik tuan Mellema.
Drama dibuat dengan latar yang sama dengan yang dituliskan pada novel aslinya, yaitu masa kolonial belanda. Sebutan nyai pada masa kolonial ditujukan pada perempuan muda, setengah baya yang menjadi ‘gundik’ ‘perempuan simpanan’ orang asing, khususnya orang Eropa. Sebutan ini menurut anggapan orang Eropa pada masa itu setara dengan concubine, bijwijf atau selir yang meniru kebiasaan para raja di Nusantara yang memang memiliki banyak selir. Meski Nyai melahirkan anak dari seorang Eropa, pemerintah Hindia Belanda saat itu tidak pernah menganggap perkawinan itu syah. Pemerintah Hindia Belanda hanya mengakui anak tapi tidak bagi perempuan pribumi yang dijadikan gundik. Disinilah letak tidak manusiawinya hukum Eropa kepada manusia lainya. Masyarakat hanya melihat secara kasat mata bahwa kehidupan seorang nyai bisa dibilang enak, bergaul dengan bangsa Eropa, dan tinggal di rumah mewah. Hal yang dilakukan tuan Mellema pada Nyai Ontosoroh dalam drama ini sedikit bertolak belakang dengan yang terjadi di lapangan pada masa itu. Pada drama, Nyai Ontosoroh, selain menjadi seorang ‘teman tidur’, dia juga diajarkan agar mampu baca tulis, membaca dan berbicara bahasa belanda serta mengurus usaha perekonomian pribadi tuan Mellema. Sebagaimana monolog Sanikem pada dram berikut,
.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

GAMBAR KEMISKINAN DALAM NASKAH DRAMA ANJING-ANJING MENYERBU KUBURAN KARYA PUTHUT BUCHORI



GAMBAR KEMISKINAN DALAM NASKAH DRAMA ANJING-ANJING MENYERBU KUBURAN KARYA PUTHUT BUCHORI
 Oleh: Windy Tiarasari Budiono

 Anjing-anjing menyerbu kuburan, merupakan naskah drama yang ditulis oleh Puthut Buchori yang diadaptasi dari cerpen karya Kuntowijoyo dengan judul yang sama. Ketika pertama kali membaca judulnya saja tentu kita akan “dipaksa” untuk membayangkan sekelompok anjing yang mnyerbu kuburan. Kemudian secara tidak langsung tentu akan timbul pertanyaan dalam benak kita, apa yang menyebabkan anjing-anjing itu menyerbu kuburan?
Cerita dalam naskah drama ini menggunakan alur maju-mundur, diawali dengan kejadian sekelompok warga yang sedang memukuli seorang laki-laki yang diduga hendak mencuri mayat di salah satu kuburan umum. Kemudian cerita berlanjut ketika akhirnya si pencuri itu menceritakan bagaimana kronologis cerita hingga akhirnya ia dipukuli oleh warga saat itu. Si pencuri tersebut mengakui bahwa ia memang hendak mencuri mayat untuk memenuhi salah satu syarat dalam upayanya melakukan pesugihan.
Naskah drama karya Puthut Buchori ini sangat menarik untuk diulas kembali karena cerita yang digambarkan dalam drama ini mengingatkan akan kehidupan sosial masyarakat miskin yang sering terjadi saat ini. Kita dapat merasakan bagaimana kesusahan yang dialami tokoh pencuri hingga akhirnya ia memutuskan untuk melakukan pesugihan tersebut. Tentu kita sebagai pembaca akan merasa miris dengan kehidupan yang dialami masyarakat-masyarakat miskin pada umumnya di sekitar kita.
Pengarang mengangkat suatu fenomena yang saat ini sedang umum terjadi dalam masyarakat kita. Ya, memang layaknya yang sudah sering terjadi saat ini, ketika jalan pintas dianggap pantas. Ketika kemiskinan sudah merasuk hingga ke tulang, manusia pun akhirnya berpikir pendek, berupaya agar semua kemiskinan yang dialami segera teratasi. Namun sayangnya selalu dengan cara yang instan, salah satunya dengan melakukan pesugihan, sama seperti yang diceritakan dalam cerita ini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SEBUAH AKTUALISASI HIDUP DRAMA MALAM JAHANAM



SEBUAH AKTUALISASI HIDUP DRAMA MALAM JAHANAM
Oleh: Wanda Satria Dewanty
 
Motinggo Busye merupakan sosok yang tidak asing lagi dalam dunia sastra Indonesia. Sastrawan kelahiran 21 November 1937 ini telah banyak menghasilkan karya sastra, salah satunya adalah naskah drama  Malam Jahanam. Naskah drama Malam Jahanam ini merupakan salah satu karya yang berhasil meraih hadiah sayembara yang diadakan Departemen Pendidikan dan Kesenian pada tahun 1958. Drama ini merupakan drama satu babak yang menampilkan sisi gelap manusia di samping aspek ketulusan dan kelembutan hati. Pada drama Malam Jahanam pengarang berusaha menampilkan suatu kenyataan yang seringkali terjadi dalam kehidupan. Sisi gelap manusia yang berusaha ditampilkan pengarang dalam drama merupakan aspek pendukung sehingga drama ini memiliki kekuatan struktur dan konflik cerita yang kuat. Dengan adanya kekuatan struktur dan konflik cerita pada drama Malam Jahanam ini, maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan objektif. Pendekatan objektif yang digunakan akan menguak sisi gelap yang dilakukan manusia dimana sebelumnya  telah disinggung bahwa sisi gelap inilah yang mendukung drama ini sehingga memiliki kekuatan struktur dan konflik cerita.
Cerita disajikan ketika di sebuah perkampungan nelayan, tinggallah Mat Kontan beserta istri (Paijah) dan anaknya (Mat Kontan Kecil). Soleman, teman dekat Mat Kontan, tinggal di seberang rumah mereka. Suatu malam, Paijah menunggu suaminya yang belum juga pulang. Ia mengkhawatirkan anaknya yang sedang sakit. Akhirnya, Mat Kontan pulang membawa seekor burung. Saat mengobrol dengan Soleman di teras rumahnya, dia menyombongkan burung perkututnya yang baru, juga istri dan anaknya. Soleman yang tidak tahan mendengarnya mengungkit-ungkit ketakutan Mat Kontan ketika nyawanya hampir melayang karena terperosok ke dalam pasir. Mat Kontan yang ketakutan rahasianya dibongkar langsung berbaik-baik pada Soleman.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Potret Sosial dalam Lakon Anjing Anjing Menyerbu Kuburan Karya Puthut Buchori (Diadaptasi dari cerpen karya Kuntowijoyo)



Potret Sosial dalam Lakon Anjing Anjing Menyerbu Kuburan Karya  Puthut Buchori
(Diadaptasi dari cerpen karya  Kuntowijoyo)
Oleh: Sera Senggani
 
Nama Lengkapnya Puthut Buchori Ali Marsono, kelahiran 6 September 1971. Alumni Jurusan teater ISI Yogyakarta. Selain Menjadi Direktur Artistik Bandung Bondowoso ready on stage, Juga direktur Artistik di Teater MASA Jokjakarta, Perfomance Artist Post Punk Perfomance, dan bekerja secara freelance pada beberapa kelompok kesenian. Saat ini ia aktif menjadi konseptor dan pemimpin redaksi Underground Buletin Sastra ASK [Ajar Sastra Kulonprogo]. Berteater sejak kelas satu SMP di teater JIWA Yogyakarta pimpinan Agung Waskito ER. Ia telah berproses teater lebih dari 100 repertoar, baik sebagai sutradara, pemain, tata artistik maupun tata lampu. Pernah membina kelompok teater, antara lain : Teater MAN Yogyakarta 1, Teater Puspanegara SMUN 5 Yogyakarta, SMUN 1 Depok Sleman Yogyakarta, Teater Cassello SMUN 1 Wates Kulonprogo Yogyakarta, Teater Thinthing Wates Kulonprogo Yogyakarta, SMU Kolese GONZAGA Jakarta (event tertentu), Kolese LOYOLA Semarang Jateng (event Tertentu). Teater Sangkar UPN Veteran Yogyakarta, Teater RAI ISI Yogyakarta, Teater DOEA KATA ISI Yogyakarta, dan saat ini sedang merintis kelompok teater di Wates Kulonprogo Yogyakarta. Beberapa naskah drama yang telah ia  buat antara lain, “Liang” (2005, adaptasi dari cerpen Indra Tranggono), “Joko Semprul”, monolog “Sekarat Berkarat” (1999), “Jeng Menul” (2003), “HM1L” (2008) dan “Dewi Masyitoh” (2003). Salah satu karya dramanya yang menarik adalah Lakon “Anjing Anjing Menyerbu Kuburan”. Drama ini diadaptasi dari cerpen Kuntowijaya dengan judul sama. Realitas sosial yang ada pada masyarakat saat ini, merupakan sisi yang menonjol dari drama ini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MENGUPAS UNSUR-UNSUR PEMBANGUN NASKAH DRAMA BERJUDUL “DOR” KARYA PUTU WIJAYA



MENGUPAS UNSUR-UNSUR PEMBANGUN NASKAH DRAMA BERJUDUL “DOR”
KARYA PUTU WIJAYA
Oleh : Rohim Efendi

I
Salah satu naskah drama yang pernah ditulis oleh Putu Wijaya yaitu drama  berjudul “DOR” . Naskah drama ini diterbitkan  oleh Balai Pustaka. Diterbitkan pertama pada tahun 1986, dan ini adalah cetakan ketujuh pada tahun 2003. Putu Wijaya bernama asli I Gusti Ngurah Putu Wijaya. Lahir di Puri Anom, Tabanan, Bali. Pada tanggal 11 April 1944. umur 65 tahun. Putu Wijaya adalah seorang sastrawan yang dikenal serba bisa. Ia adalah bungsu dari lima bersaudara seayah maupun dari tiga bersaudara seibu. Ia tinggal di kompleks perumahan besar, yang dihuni sekitar 200 orang, yang semua anggota keluarganya dekat dan jauh, dan punya kebiasaan membaca. Ayahnya, I Gusti Ngurah Raka, seorang pensiunan punggawa. Yang keras dalam mendidik anak. Semula, ayahnya mengharapkan Putu jadi dokter. Namun, Putu lemah dalam ilmu pasti. Ia akrab dengan sejarah, bahasa dan ilmu bumi.
Putu Wijaya sudah menulis kurang lebih 30 Novel , 40 artikel lepas dan kritik drama. Ia juga telah menulis skenario film dan sinetron. Sebagai seorang dramawan, ia memimpin teater Mandiri sejak 1971 dan telah mementaskan puluhan lakon di dalam maupun di luar negeri. Puluhan penghargaan ia raih atas karya sastra dan skenario sinetron. Cerita pendek karangannya kerap mengisi kolom pada Harian Kompas dan Sinar Harapan. Novel-ovel karyanya sering muncul di majalah Kartini, Femina, dan Horison. Sebagai penulis skenario, ia telah dua kali meraih piala citra di Festival Film Indonesia  (FFI) untuk Perawan Desa (1980) dan Kembang Kertas (1985). Sebagai seorang penulis fiksi sudah banyak buku yang dihasilkannya. Diantaranya yang banyak diperbincangkan adalah “Bila Malam Bertambah Malam, Telegram, Pabrik, Keok, Tiba-tiba Malam, Sobat, Nyali.”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Lakon Skenario Kehidupan dalam Naskah Drama Maling Karya Auf Sahid



Lakon Skenario Kehidupan dalam Naskah Drama Maling Karya Auf Sahid
Oleh: Rizki Rohma

Manusia bak lakon yang memainkan drama kehidupan sendiri dalam dunia yang hanya sekejap mata ini. Dalam dunia yang tak tahu kapan berakhirnya ini manusia merupakan lelakon dari kehidupan yang bak pelangi berwarna-warni kemudian bak badai petir yang menyambarnya sewaktu-waktu tanpa pamit permisi tanpa kata-kata. Sebagai lakon manusia hanya pelaku yang bermain di atas kisaran waktu yang terus berputar dengan tema atau jalan yang sudah dikarang penciptanya. Pelaku dalam kehidupan yang sudah ada ceritanya hanya bermain sebagai penghias atau mengisi kegiatan untuk lebih hidup yang tak berbatas waktu. Sebagai pelaku hanya bisa patuh dan berjalan sesuai alur yang sudah diciptakan tanpa manusia bisa keluar dari lintasan kehidupannya. Skenario penuh cerita indah, manis, pedih, siksa, nyata, maya diciptakan untuk lakon kehidupan. Skenario itu berjalan sangat terkendali bak masinis duduk di atas kereta yang melaju dengan jalan satu rel. Satu rel yang berarti mulus tanpa ada kendali dan tidak membuat ia berbelok-belok ke segala arah dengan satu relnya. Ia hanya merasakan satu rasa saja tanpa ada silang-silang rel yang lain untuk bisa mendahului. Lakon manusia bukanlah seperti kereta yang berjalan dalam satu rel. ia melakonkan banyak adegan yang sudah diciptakan dengan segala suasana yang terpampang dalam skenario. Skenario yang penuh dengan beragam rasa tanpa manusia bisa melawan walaupun ia berontak dengan yang harus dilakonkannya. Lakon kehidupan yang sebenarnya bukan dirinya dilampiaskan pada dirinya. Lakon yang memberatkan hidupnya harus dimainkan dengan segala perannya tanpa ada berontak kehidupan walaupun ia tidak ingin seperti yang sudah digariskan tetapi ia harus menerimanya karena manusia adalah lakon skenario kehidupan.
Drama kehidupan manusia sungguh tak berbatas dalam secarik kertas, lembaran buku ataupun setumpuk arsip dalam map. Sebagai lakon manusia mencoba mewujudkan melalui kata imajinatif skenario dramanya. Kata yang menjadi kalimat dipenuhi dengan dialog-dialog imajinasi diperankan manusia sendiri seperti ia bermain dalam dramanya sendiri. Skenario dituliskan untuk melukiskan tokohnya lengkap dengan segala alur dan konflik dirangkai dengan kata yang indah dan imajinatif dan sarat akan estetika. Skenario pengarang dalam dialog mampu membawa penikmat sastra menikmati cerita yang disuguhkan lengkap dengan maksud yang hendak disampaikan. Untuk mengungkapkan makna dibalik cerita yang tertulis pada dialog-dialog pengarang memasukan unsur-unsur seperti tokoh, alur, latar dan tema.  Inti dari cerita atau pesan dapat dirasakan penikmat sastra melalui penggambaran tokoh dalam dialog sampai pada pemaknaan penikmat karyanya. Karena sudah dituliskan pada skenario kehidupan manusia harus menjalani hidupnya sesuai dengan skenarionya itu walaupun ia tidak bertindak tetapi ia harus menerima kenyataan yang mungkin pahit. Seperti itulah lakon drama manusia dalam kehidupan dikendalikan oleh pencipta atau pengarangnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kritik Politis Dalam Lakon LOS BAGADOS DE LOS PENCOS Karya W. S. Rendra



Kritik Politis Dalam Lakon LOS BAGADOS DE LOS PENCOS Karya W. S. Rendra
Oleh: Redhitya Wempi Anshory

            Dunia perpolitikan merupakan sebuah arena pertarungan sengit, ibarat kata dunia politik itu tidak kenal lawan, tidak kenal kawan dan tidak kenal saudara. Saling tendang dan saling sikut sudah biasa dalam politik. Politik hakikatnya adalah suatu usaha untuk mengenal sebuah sistem ketatanegaraan dengan melakukan suatu upaya dan strategi pemerintahan yang pada tujuannya menjadikan suatu Negara itu lebih baik. Secara kontekstual, hal ini mengalami kontradiktif antara teori dan definisi politik secara praktis. Politik secara praktis lebih menekankan suatu daya upaya untuk menguasai suatu pemerintahan dengan cara menghalalkan berbagai macam cara untuk meloloskan tujuannya agar mencapai keinginan subyektifnya. Sistem perpolitikan selalu berkaitan dengan hal-hal yang cenderung negatif, karena banyak praktik-praktik gelap yang dilakukan. Dengan adanya kekacauan terhadap sistem perpolitikan itu, ada sastrawan yang merasa gerah dengan semua lelucon di panggung pemerintahan. Rendra datang dengan ciri khas dalam kepengarangan dunia kreatif sastra yang sangat berani mengoyak dan membrontak secara kritis tentang adanya fenomena itu. Seorang sastrawan yang dikenal dengan kritik-kritik sosial yang sangat berani secara diksi maupun simbol dalam puisi maupun karya dramanya.
Secara naluriah Rendra sadar sebagai seorang sastrawan yang dapat dia lakukan untuk memberikan lontaran protes dan kritik terhadap kondisi sosial yang kacau (chaos) dengan cara membuat karya yang memberi suntikan semangat kepada yang membaca dan dapat memahami makna yang dimaksud penulis, meskipun interpretasi setiap pembaca karya sastra terhadapap karya itu sendiri berbeda-beda karena sudut pandang, pengalaman kemampuan reseptis dan hermeneutis setiap orang itu berbeda. Setidaknya Rendra yakin dengan garis besar maksud yang dituliskannya semua pembaca karya memiliki skemata yang sama terhadap karyanya tersebut. Rendra sangat terkenal dengan menyuarakan keadilan dalam puisi-puisinya yang dikenal dengan puisi pamflet. puisi yang memberikan kobaran semangat untuk menggerakan pembaca untuk melakukan tindakan nyata sebagai daya dan upaya perjuangannya akan keadilan . drama-drama karya rendra berkonsep sama dengan karya-karyanya yang lain, bertemakan kritik sosial politis yang menjadi ciri khasnya. Rendra memilih sosial politis dalam tema-tema sajak dan karya dramanya bukan tanpa alasan dan ini melalui proses kontemplasi yang panjang. Proses kreatif Rendra dalam karya menaungi temuan tema yang pas yang sekarang menjadi identitas rendra sebagai seorang sastrawan. Rendra ingin keluar dari pengaruh sastrawan-sastrwan pada zaman itu yang kebanyakan mengangkat kredo-kredo sosial realis dalam karyanya. Daya kreatifnya tidak bisa menerima itu sebagai seorang sastrawan yang merdeka ia memberikan sentuhan tersendiri dan merumuskan sendiri penciptaan karyanya dengan menciptakan kaidah estetik dalam karyanya yang bertemakan sosial politis  dengan ciri khas metafora yang grafik dan plastik yang membuat karyakarya sajak Rendra enak dibaca di jalan-jalan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Budaya Penghalang Cinta dalam Naskah Drama Berjudul Bila Malam Bertambah Malam karya Putu Wijaya



Budaya Penghalang Cinta dalam Naskah Drama Berjudul Bila Malam Bertambah Malam karya Putu Wijaya
Oleh:  Pramudita Parahita Pawestri
 
Mendengar nama Putu Wijaya sudah tidak asing lagi bagi telinga kita. I Gusti Ngurah Putu Wijaya begitulah nama lengkap seorang sastrawan yang lahir di Tabanan Bali tanggal 11 april 1944. Sastrawan yang akrab disapa Putu Wijaya ini sudah melahirkan banyak karya sastra seperti novel, cerpen, drama dan Putu Wijaya menulis scenario berjudul Perawan Desa dan Kembang Kertas. Keduanya meraih penghargaan di Festival Film Indonesia (FFI).  Putu Wijaya terkenal dengan teror mental yang menjadi ciri khasnya dalam menelurkan karya sastra. Putu yang lahir di Bali dan besar di tanah Jawa sedkit banyak mempengaruhi karya-karyanya seperti yang terlihat dalam naskah drama yang berjudul Bila Malam Bertambah Malam.
Naskah drama Bila Malam Bertambah Malam menceritakan seorang bangsawan yang bernama Gusti Biang. Tokoh antagonis ini menuduh Nyoman akan meracuni dirinya padahal itu semua tidak terjadi.

NYOMAN
Gusti Biang, pil  ini musti ditelan  satu persatu. Pakai pisang  ambon  atau pisang  susu,  atau  air. Pilih mana yang  Gusti  suka.  Tidak  pahit  rasanya  Gusti.  Dan  dalam  tempo  seperempat  jam,  Gusti  akan  merasa segar.  Sesudah  itu  minum  puyer  ini,  untuk menghilangkan pusing-pusing Gusti.

GUSTI BIANG
Tidak!

NYOMAN
Obat-obat  ini  dikirimkan  dokter  Gusti.  Harus dihabiskan.

GUSTI BIANG
Tidak,  tidak.  Aku  tahu  semuanya  itu.  Kalau  aku menelan  semua  obat-obatmu  itu,  aku  akan  tertidur seumur hidupku, dan tidak akan bangun-bangun  lagi, lalu good bye. Lalu kau akan menggelapkan beras ke warung  cina.  Kau  selamanya  iri  hati  dan  ingin membencanaiku  ...  Kalau  sampai  aku  mati  karena racunmu, Wayan akan menyeretmu ke pengadilan.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS